• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Tag Archive rumah

Bentuk dan Fungsi Rumah Adat Mbaru Niang

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), di sini terdapat rumah adat yang bernama Mbaru Niang. Rumah ini tepatnya terletak di Kampung Wae Rebo di atas pegunungan dengan ketinggian 1.117 mdpl.

Bentuk Rumah

Mbaru Niang memiliki bentuk kerucut dengan struktur yang cukup tinggi mencapai sekitar 15 meter. Atapnya hampir menyentuh tanah dan terbuat dari daun lontar yang ditutupi ijuk. Jika diperhatikan rumah adat ini mirip dengan rumah adat Honai dari Papua.

Mengapa berbentuk kerucut? Karena dalam budaya Wae Rebo bentuk kerucut merupakan simbol perlindungan dan persatuan antar rakyat Wae Rebo

Lingkaran bentuk rumahnya, melambangkan harmonisasi dan keadilan antar warga dan keluarga.

Rumah adat ini memiliki 5 lantai (tingkat), dimana terdapat berbagai ruangan dengan fungsinya masing-masing.

Setiap lantai rumah Mbaru Niang memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda yaitu:

a. Lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga.

b. Loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.

c. Lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan.

d. Lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan.

e. Hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah adat, Mbaru Niang juga berbentuk rumah panggung. Terbuat dari kayu worok dan bambu yang dibangun tanpa paku. Tetapi menggunakan tali rotan yang kuat untuk mengikat konstruksi bangunan.

Kolong rumah tingginya sekitar 1 meter. Hal ini dibuat demikian karena ada aturan dari leluhur rumah tak boleh menyentuh tanah.

Setiap Mbaru Niang dihuni lima sampai enam kepala keluarga. Dengan total penghuni sekitar 15-20 orang

genpi.id, Indonesia.go.id, merahputih.com

https://aminama.com/

Kajang Lako, Rumah Adat Suku Batin Jambi

Jambi, sebuah provinsi yang berada di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera. Sebagai sebuah provinsi, Jambi tentu saja memiliki beragam seni dan kebudayaan. Mulai dari tari-tarian, pakaian adat sampai pada rumah adat.

Salah satu suku yang mendiami provinsi Jambi adalah suku Batin. Suku ini berada di kampung Lamo, desa Rantau Panjang, kecamatan Tabir, kabupaten Merangin. Dimana di sini masih sangat kental dengan adat istiadat. Biasa kita lihat dari cara berpakaian dan arsitektur bangunan.

Kajang Lako atau Rumah Lamo merupakan sebutan tempat tinggal untuk orang Batin. Bubungannya berbentuk seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya.

Rumah Kajang Lako ini memiliki gaya seperti rumah adat Indonesia pada umumnya. Berupa rumah panggung. Uniknya, rumah ini dibuat tinggi. Karena memiliki fungsi untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas.

Bagian-bagian dari rumah Kajang Lako ini terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya bagian bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban dan tangga.

Bubungan atau atap biasa disebut dengan “gajah mabuk’ diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang atau potong jerambah.

Terbuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap terlihat berbentuk segi tiga. Bentuk seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hujan, mempermudah sirkulasi udara dan menyimpan barang.

Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atap sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah. Bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasau bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.

Fungsi dari Rumah Adat Kajang Lako

1 Ruang Pelamban

Ruangan yang ada di sebelah kiri ini dibuat dari bambu belah yang diawetkan. Susunannya dibauat jarang agar air bisa mudah mengalir. Ruang ini digunakan sebagai ruang tunggu tamu yang belum diizinkan untuk masuk.

2. Gaho

Gaho juga berada di sebelah kiri dengan bentuk memanjang. Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan barang dan persediaan makanan. Di dalam ruangan ini terdapat ukuran dengan motif ikan pada dindingnya.

3. Masinding

Ruangan ini terdapat di bagian depan. Fungsi dari ruangan ini ialah untuk melaksanakan ritual kenduri ataupun melakukan musyawarah. Inilah alasannya mengapa ruangan ini dibuat dengan cukup luas. Pada dinding ruangan ini terdapat ukiran bermotif seperti motif tampuk manggis, motif bungo tanjung dan motif bungi jeruk.

4. Ruang Tengah

Ruangan ini terletak di tengah-tengah rumah adat jambi dan tidak terpisah dengan ruang masinding. Ketika kenduri sedang berlangsung, ruang tengah ini akan ditempati para wanita.

5. Ruang Dalam atau Menalam

Ruang ini dibagi menjadi beberapa ruangan. Di antaranya kamar tidur anak perempuan, kamar tidur orang tua dan ruang makan. Tamu yang berkunjung tidak akan diizinkan untuk mengisi ruangan ini.

6. Ruang Balik Malintang

Ruangan ini terletak di kanan dan menghadap ke ruang tengah dan ruang masiding. Lantai di ruangan ini dibuat lebih tinggi dibanding dengan ruang lainnya.

7. Ruang Bauman

Ruangan ini menjadi satu-satunya di rumah adat Jambi yang tidak berlantai dan tidak berdinding. Fungsinya untuk kegiatan memasak saat ada kenduri ataupun kegiatan lain.

Sumber: kebudayaan.kemendikbud.go.id, elizato.com.

Rumah Baloy Kalimantan Utara

Sebuah provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia. Ya provinsi itu bernama Kalimantan Utara. Provinsi termuda yang diresmikan pada tanggal 25 Oktober 2012 ini memiliki rumah adat bernama Baloy.

Rumah Baloy merupakan rumah adat yang terkenal dari Kalimantan Utara. Bentuk bangunannya terlihat modern dan modis karena hasil pengembangan arsitektur Dayak. Dari Rumah Panjang (Rumah Lamin) yang dihasilkan oleh Masyarakat suku Tidung. Suku ini merupakan suku asli di Kalimantan Utara.

Rumah Baloy dibangun menghadap ke utara, sedangkan pintu utamanya menghadap ke selatan. Baloy terbuat dari bahan dasar kayu Ulin.

Karakteristik Rumah Baloy

Dalam rumah adat Baloy terdapat empat ruang utama yang biasa disebut Ambir, yaitu:

1 Ambir Kiri (Alad Kait)

Ruangan atau tempat yang dijadikan untuk menerima masyarakat yang ingin mengadukan perkara atau membahas masalah adat.

2. Ambir Tengah (Lamin Bantong)

Tempat utama pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara sebuah masalah adat.

3. Ambir Kanan (Ulad Kemagot)

Bagian ini merupakan ruangan yang digunakan untuk beristirahat atau ruang untuk berdamai setelah selesainnya perkara adat.

4. Lamin Dalom

Singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.

Lubung Kilong

Sebuah bangunan ditengah kolam. Bangunan ini merupakan sebuah tempat untuk menampilkan kesenian suku Tidung, seperti Tarian Jepen.

Lubung Intamu

Di belakang Lubung Kilong ini, ada sebuah bangunan besar yang diberi nama Lubung Intamu. Tempat pertemuan masyarakat adat yang lebih besar, seperti acara pelantikan (pentabalan) pemangku adat atau untuk acara musyawarah masyarakat adat se-Kalimantan.

Ciri Khas Rumah Adat Kalimantan Timur

Baloy memiliki keunikan yang menjadi ciri khasnya yaitu menggambarkan pola hidup masyarakat Suku Tidung. Berikut ini ciri khas yang menjadi perbedaan dengan rumah adat lainnya.

1 Ukiran dengan motif kehidupan laut di bagian risplang dan bagian atap rumah. Menggambarkan bahwa masyarakat suku Tidung bermata pencaharian sebagai nelayan.

2. Ruangan di dalam rumah adat Baloy fungsinya berhubungan dengan aktivitas kehidupan sosial masyarakat. Hal ini menunjukan masyarakat suku Tidung adalah masyarakat yang memiliki jiwa sosial.

3. Rumah Baloy biasanya dibangun menghadap ke Utara dengan posisi utama menghadap ke selatan.

Sumber: Pustakaborneo.id, Situsbudaya.id.

Lima Tingkatan Rumah Limas Sumatera Selatan

Merupakan prototipe rumah tradisional Sumatera Selatan, rumah Limas memiliki ciri atapnya berbentuk limas. Bangunan yang bertingkat-tingkat ini mengandung filosofi budaya untuk setiap tingkatannya.

Hampir seluruh bangunan rumah terbuat dari kayu. Pemilihan bahan kayu karena menyesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan. Kayu yang digunakan pun merupakan kayu unggulan dan katanya hanya tumbuh subur di daerah Sumatera Selatan.

Bagian pondasi menggunakan kayu Unglen. Kayu ini juga memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap air. Untuk bagian kerangka terbuat dari kayu Seru. Cukup langka dan sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah rumah. Mengapa demikian? karena dalam kebudayaan masyarakat kayu Seru dilarang untuk diinjak dan dilangkahi. Khusus dinding, lantai, jendela dan pintu menggunakan kayu Tembesu.

Kentalnya budaya Sumatera Selatan bisa terlihat dari seni ukiran dan ornamen pintu, dinding, maupun atap rumah Limas yang menggambarkan nilai-nilai kebudayaan setempat.

Selain bentuk limas, juga tampilannya tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiang yang dipancang ke dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan.

Tingkatan

Adat yang kental sangat mendasari pembangunan rumah Limas. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing. Hal ini menjadi simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat. Yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat.

Rumah Limas yang terdiri dari lima tingkat ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Yuks simak ulasannya berikut ini:

1 Pagar Tenggalung

Ruangannya tidak memiliki dinding pembatas, sama seperti halnya beranda. Berfungsi sebagai tempat menerima tamu yang datang pada saat ada acara adat.

2. Jogan

Digunakan sebagai tempat berkumpul khusus pria.

3. Kekijing Ketiga

Posisi lantai lebih tinggi dan diberi batas dengan menggunakan penyekat. Biasanya digunakan sebagai tempat menerima para undangan dalam suatu acara hajatan atau pesta.

4. Kekijing Keempat

Tentu saja tingkatan ini memiliki posisi lebih tinggi lagi. Orang-orang yang mengisi ruangan ini pun memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dan dihormati. Seperti undangan yang lebih tua, dapunto dan datuk.

5. Gegajah

Ruangan kelima ini memiliki ukuran terluas. Di dalamnya terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan danamben keluarga.

Amben adalah balai musyawarah. Amben tetuo sendiri digunakan sebagai tempat tuan rumah menerima tamu kehormatan serta juga sebagai tempat pelaminan pengantin dalam acara perkawinan.

Dibandingkan dengan ruangan lainnya, gegajah merupakan yang paling istimewa sebab memiliki kedudukan privasi yang sangat tinggi

Di Indonesia, rumah Limas banyak terdapat di daerah Sumatera Selatan. Sedangkan di Malaysia, rumah Limas dapat dijumpai di Johor, Selangor dan Terengganu.

Sumber: gosumatra.com, Indonesia.go.id

Rumah Panjang Khas Kalimantan Barat

Rumah panjang merupakan rumah tradisional masyarakat Dayak yang berada di beberapa daerah di Kalimantan. Namun terdapat beberapa penyebutan yang berbeda. Misalnya saja Betang atau Radakng untuk daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Sedangkan Balai untuk Kalimantan Selatan dan Lamin untuk Kalimantan Timur.

Pada umumnya rumah panjang yang satu dengan yang lainnya memiliki bentuk dan komponen arsitektur hampir sama. Yaitu berbentuk rumah panggung dengan tiang penyangga setinggi satu hingga dua meter.

Di dalamnya terdapat satu aula panjang dan puluhan bilik yang memanjang dibelakang aula. Ada puluhan keluarga yang tinggal di bilik-bilik tersebut. Masing-masing keluarga mendiami satu bilik.

Ciri Khas

Rumah adat ini mempunyai tinggi sekitar 5 sampai 8 meter. Tinggi tersebut tergantung dari tinggi tiang yang menopang rumah. Kemudian memiliki panjang sekitar 180 meter dan lebar 6 meter serta ruangannya ada sekitar 50 ruangan.

Untuk akses keluar masuk rumah harus menggunakan tangga atau anak tangga. Bentuk rumahnya sempit tetapi memiliki ukuran yang panjang.

Rumah panjang mempunyai ciri utama berupa rumah panggung yang terdiri atas beberapa bagian. Pada Radakng Sahapm di Kalimantan Barat, komponen horizontalnya sebagai berikut:

1 Tangga naik (tanga nai’) yaitu berupa tangga dari kayu atau batang pohon bulat sepanjang dua sampai tiga meter. Biasanya satu rumah panjang mempunyai dua buah tangga naik yang terletak di sebelah kiri dan kanan, tetapi ada juga yang hanya mempunyai satu tangga yang diletakan di tengah-tengah.

2. Pante atau serambi, terdepan dengan lantai kayu yang terbuka (tanpa atap) biasanya letaknya lebih rendah daripada serambi yang sebenarnya.

3. Serambi (serambi depan yang lebih tinggi dari pante).

4. Sami’atau aula adalah satu ruangan luas semacam aula yang memanjang di depan deretan puluhan bilik-bilik. Memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuk ke bilik, tempat rapat, tempat menyelenggarakan pesta adat dan tempat tidur bagi tamu yang menginap.

5. Kamar keluarga atau bilik.

6. Dapur.

7. Jungkar merupakan ruangan tambahan di belakang masing-masing dengan atap menyambung atap rumah panjang. Biasanya terdiri atas dapur, tempat cuci piring, tungku perapian, dan tempat menyimpan padi yang disebut jurokng.

Bentuk rumah

Terdiri dari beberapa bagian yaitu teras (pante), ruang tamu (samik) dan ruang keluarga. Dalam ruang tamu terdapat sebuah meja yang disebut pane yang berfungsi sebagai tempat berbicara atau menerima tamu. Ruang keluarga adalah ruang sederhana yang mempunyai panjang 6 meter dan lebar 6 meter. Dan pada bagian belakang digunakan sebagai tempat dapur keluarga.

Fungsi Rumah

Digunakan sebagai tempat tinggal beberapa keluarga. Akan tetapi selain untuk rumah tinggal berfungsi juga untuk menghindari serangan binatang buas. Dari tingginya lah bisa menjaga keselamatan keluarga dari serangan suku-suku lain dalam masyarakat Dayak. Di sini juga sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan masyarakat seperti rapat atau pertemuan-pertemuan serta upacara-upacara adat.

Sumber: researchgate.net Wikipedia,

Rumah Boyang dari Sulawesi Barat

Sulawesi Barat, sebuah provinsi baru di Indonesia yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan. Telah menjadi provinsi ke-33 yang diresmikan sejak 05 Oktober 2004 berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004.

Provinsi baru ini tentu saja memiliki beragam kebudayaan. Misalnya saja rumah adat. Sulawesi Barat memiliki rumah adat yang bernama rumah Boyang.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah tradisional Indonesia, rumah Boyang ini memiliki struktur rumah panggung dengan menggunakan material kayu. Ditopang oleh beberapa tiang yang terbuat dari kayu berukuran besar dengan tinggi kurang lebih sekitar dua meter. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk menopang lantai dan atap rumah. Tiangnya tidak ditancapkan ke dalam tanah melainkan hanya ditumpangkan di sebuah batu datar untuk mencegah kayu melapuk.

Bangunan ini juga memiliki dua buah tangga yang terletak di bagian depan dan belakang. Tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, umumnya 7 sampai 13 buah dan dilengkapi dengan sebuah pegangan di bagian sisi kanan dan kiri tangga. Sedangkan dinding dan lantai rumah menggunakan material papan yang telah diukir sesuai dengan motif khas suku mandar.

Atap rumah Boyang berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah. Umumnya terbuat dari seng, tetapi sebagian ada yang menggunakan daun rumbia dan sirap. Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar (penutup bubungan) yang memberi identitas tentang status sosial bagi penghuninya. Penutup bubungan juga dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Kemudian di bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas yang disebut “teppang”.

Bagian-bagian Rumah Boyang

Pada umumnya rumah adat Boyang terdapat tujuh pembagian ruangan. Dimana 3 bagian merupakan lotang utama dan empat lainnya merupakan lotang tambahan.

Lotang Utama

Samboyang

Ruangan yang terletak di bagian depan rumah atau disebut dengan teras. Fungsinya digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu bila sedang bermalam. Selain itu, ruangan ini bisa juga digunakan untuk melakukan kegiatan yang dilakukan di dalam rumah, seperti hajatan dan juga tempat membaringkan jenazah sebelum dikuburkan.

Tangnya Boyang

Terletak di bagian tengah dari rumah dan berfungsi untuk berkumpul bersama keluarga. Ukurannya lebih luas jika dibandingkan dengan samboyang.

Bui Boyang

Merupakan tempat yang berupa kamar dan berada di bagian belakang dari Biyang. Kamar ini disebut dengan songi dan ditempati oleh pemilik dari rumah tersebut.

Lotang Tambahan

Tapang

Ruangan ini merupakan loteng yang letaknya berada di atas dan fungsinya sebagai gudang atau tempat menyimpan barang. Dulunya, tapang digunakan sebagai tempat bagi calon pengantin untuk berdiam diri dan mengikuti adat istiadat yang berlaku di suku tersebut.

Paceko

Paceko merupakan istilah yang digunakan masyarakat Sulawesi Barat yang memiliki arti dapur. Letaknya menyilang dari bangunan bagian utama rumah Boyang. Seperti halnya fungsi dapur pada umumnya. Paceko juga berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan-bahan makanan serta tempat memasak.

Lego-lego

Ruangan lego-lego merupakan teras dengan atap diatasnya, namun tidak berdinding. Beberapa orang menyebut bentuk lego-lego mirip seperti beranda. Fungsinya sebagai area bersantai pada sore hari.

Naon Boyang

Ruangan pada rumah adat Sulawesi Barat ini merupakan kolong rumah yang terletak dibawah bangunan dan beralaskan tanah. Biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan ternak.

Beberapa orang juga menggunakan tempat ini sebagai tempat manette atau menenun kain sarung. Kegiatan penenunan ini biasanya dilakukan perempuan suku setempat untuk mengisi waktu senggang.

Sumber: Celebes.co, Wikipedia, Ssckanesa-dua.

Ciri Khas Rumah Adat Lampung Nowou Sesat

Sebuah provinsi yang berada paling selatan di Pulau Sumatera, Lampung namanya. Provinsi ini memiliki beragam seni dan budaya, termasuk rumah adat. Ya, rumah adat Nuwou Sesat yang berasal dari sini.

Nuwo artinya rumah dan sesat berarti adat. Jadi rumah adat ini berfungsi sebagai balai pertemuan adat. Tempat para purwatin (penyimbang) mengadakan pepung adat (musyawarah). Maka dari itu balai ini juga disebut Nuwo Sesat Balai Agung.

Bagian-bagian dari bangunan adat Nowou Sesat terdiri dari:

1 Ijan Geladak yaitu tangga masuk.

2. Rurung Agung atau atap bangunan.

3. Anjungan atau serambi adalah sebuah tempat yang digunakan untuk pertemuan kecil.

4. Pusiban merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat musyawarah resmi.

5. Ruang Gajah Merem merupakan tempat istirahat untuk para penyimbang adat.

Pembagian ruangan

Tata ruangan pada rumah adat Nowou Sesat didasarkan pada pola sosial yang ada di dalam masyarakat setempat. Beberapa pembagian ruangannya adalah tepas, agung, kebik tengah, gaghang, dapur dan ganyang besi.

1 Ruang tepas

Bagian serambi yang terbuka di bagian depan rumah berhubungan dengan ijan ke rumah panggung. Bagian ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan sebagai ruang berdiskusi dalam mencapai permufakatan. Tetapi pada siang hari, ruangan ini juga bisa digunakan oleh anggota keluarga untuk beristirahat.

2. Ruang agung

Sebuah ruangan yang berada lebih tinggi daripada tepas. Ruangan ini berfungsi sebagai ruangan merwatin (generasi muda mufakat). Posisi ketinggian dari ruangan ini menunjukan hirarki yang lebih tinggi karena cerminan Sakai Sambayan atau mufakat.

3. Ruang gaghang

Berfungsi sebagai ruangan kebersihan, karena disinilah tempat untuk mencuci peralatan rumah tangga. Sedangkan dapur digunakan untuk memasak makanan.

4. Ruang gayang besi

Ruangan yang digunakan untuk sanak saudara yang belum memiliki suami atau istri.

Ciri khas

Pada bagian atas jambat agung ini terdapat hiasan payung-payung berwarna putih, kuning dan merah. Ketiganya mempunyai arti sendiri-sendiri. Payung yang berwarna putih memiliki arti tingkat marga yang dimiliki. Payung berwarna kuning melambangkan tingkat kampung, sedangkan yang berwarna merah melambangkan tingkat suku di Lampung.

Bila dilihat di teras rumah, setelah tangga akan ada serambi yang disebut dengan anjungan. Fungsinya yaitu sebagai tempat bermain sambil bersantai antara penghuni rumah dengan tetangga. Selain itu, secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang.

Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Zaman dahulu rumah adat ini beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting. Perubahan rumah adat Lampung dapat dilihat antara lain pada ruang di bawah rumah yang disebut Bah Nuwo. Sekarang rumah adat Nuwo Sesat tidak lagi menjadi ruang pertemuan tetua adat, tetapi sebagai tempat tinggal biasa.

Malahayati.ac.id, Wikipedia, Daerahkita.

Rumah Betang, Rumah yang Bisa Menampung Sekitar 150 Orang

Suku dayak merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia, tepatnya mendiami wilayah Kalimantan. Suku ini memiliki keunikan dari segi etnik dan budayanya. Selain itu, dikenal juga sebagai suku yang memiliki warisan magis yang kuat.

Berbicara mengenai etnik dan budayanya, suku Dayak memiliki rumah adat yang khas bernama rumah Betang. Terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku dayak.

Memiliki bentuk menyerupai panggung dan memanjang. Panjangnya bisa mencapai 150 meter. Lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter. Di bawahnya tertancap tiang kayu yang kokoh asli dari Kalimantan dengan tinggi kayu rata-rata 5 meter. Hampir semua bangunan Rumah Betang terbuat dari kayu yang kuat dan tergolong tahan lama atau tidak akan mudah rapuh.

Menurut situs travel.tempo.co, rumah Betang mampu menampung sekitar 150 orang atau 5-30 kepala keluarga lebih. Bisa kamu banyangkan hidup dalam satu atap membuat mereka terus dapat berkomunikasi dan menjaga tali kekerabatan. Bahkan saling melindungi serta saling membantu dalam hal apapun seperti ekonomi, pekerjaan dan lain sebagainya.

Pada umumnya rumah Betang Suku Dayak dibuat hulunya menghadap timur dan hilirnya menghadap barat. Ini merupakan sebuah symbol bagi masyarakat dayak. Hulu yang menghadap timur atau matahari terbit memiliki filosofi kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin. Sedangkan hilir yang menghadap barat atau matahari terbenam memiliki filosofi tidak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari terbenam.

Bagian-bagian rumah Betang

Berikut merupakan bagian-bagian dari rumah Batang Suku Dayak.

1 Sado

Pelataran yang merupakan jalur lalu lalang penghuni rumah atau tempat melakukan aktifitas seperti tempat musyawarah adat, tempat menganyam, tempat menumbuk padi dan lainnya.

2. Padong

Merupakan ruang keluarga berdimensi antara 4×6 meter. Biasanya masing-masing kepala keluarga memiliki satu padong yang digunakan untuk berkumpul makan, minum, menerima tamu dan lain-lain.

3. Bilik

Ruangan ini digunakan sebagai tempat tidur. Bilik hanya dipisahkan dengan kelambu saja, baik bilik suami istri, bilik anak laki-laki maupun bilik anak perempuan.

4. Dapur

Dalam satu rumah memiliki satu dapur. Posisinya harus menghadap aliran sungai, menurut mitos agar mendapat rezeki.

5. Tangga

Tangga dalam rumah harus berjumlah ganjil. Tetapi umumnya berjumlah 3 yaitu berada di ujung kiri dan kanan. Satu lagi di depan sebagai penanda atau ungkapan rasa solidaritas. Menurut mitos tergantung ukuran rumah, semakin besar ukuran rumah maka semakin banyak tangga.

6. Pante

Lantai tempat menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainnya. Posisinya berada didepan bagian luar atap yang menjorok ke luar. Lantai pante terbuat dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan.

7. Serambi

Pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarit halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas.

8. Sami

Ruang tamu sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan.

9. Jungkar

Merupakan ruangan tambahan di bagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau adakalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang.

10. Bagian tengah rumah biasanya dihuni oleh tetua adat.

11. Dinding dan tiangnya memiliki ukiran yang mengandung falsafah hidup suku dayak.

12. Pada bagian halamannya terdapat Totem atau patung pemujaan.

travel.tempo.co getborneo, wikipedia.

Rumah Adat Baileo Maluku

Jika kemarin membahas rumah adat Bangsal Kencono yang berasal dari daerah Yogyakarta. Kini, giliran mengulas rumah adat dari Maluku. Ya rumah ada itu bernama Baileo.

Baileo berasal dari kata balai yang berati gedung atau tempat pertemuan (Poerwadarminta, 1993). Menurut Cooley Baileo berasal dari kata Melayu yaitu Bale atau Balae yang memiliki arti tempat pertemuan (Cooley, 1962 dalam wattimena, 2009:25)

Rumah adat Maluku ini pada intinya dibuat tak berdinding, dikarenakan agar roh nenek moyang dapat dengan leluasa untuk masuk atau keluar rumah.

Baileo merupakan hasil budaya Maluku yang dimanifestasikan dalam bentuk arsitektur. Pendirian sebuah Baileo tentunya tidak dilakukan begitu saja, namun harus mengikuti aturan-aturan yang dianut dalam budaya Maluku, mulai dari pemilihan lokasi, pemilihan bahan, bentuk arsitektur hingga ornamen.

Bentuk Rumah

Memiliki bentuk rumah panggung atau rumah berkolong. Biasanya tidak berdinding kalaupun ada hanya setengahnya saja. Setengah lagi dibiarkan terbuka. Konstruksi tangga dan dinding baileo terbuat dari kayu. Lantainya dari papan dan atap terbuat dari daun rumbia atau daun sagu.

Bentuk arsitektur bagian-bagian Baileo Maluku dapat dijelaskan sebagai berikut:

1 Bagian bawah

Didirikan di atas tumpukan tanah yang agak tinggi, dibatasi dengan tumpukan batu atau beton sebagai penahan tanah. Terdapat tiang-tiang yang ditancapkan pada tanah. Jumlah tiang pada masing-masing Baileo bervariasi. Selain tiang-tiang induk, terdapat pula tiang tambahan yang diikatkan berimpit pada tiang induk. Gunanya untuk memperkuat tiang induk sebagai penopang seluruh bagian bangunan.

2. Bagian tengah

Bagian tengah bangunan adalah lantai dan dinding. Lantai Baileo umumnya terbuat dari papan yang diletakan di atas tiang-tiang kayu dengan menggunakan pasak kayu dan paku. Tinggi dinding kurang lebih 1 meter dari lantai.

3. Bagian atas

Bagian atas atau atap biasanya berbentuk tumpal atau segitiga sama kaki. Atap Baileo umumnya terbuat dari daun sagu atau daun rumbia. Konstruksi atap menggunakan bahan kayu dan bambu dengan pasak kayu, pasak besi, paku, atau dengan cara ikat tali ijuk.

Fungsi

Rumah adat Baileo ini tidak difungsikan sebagai bangunan hunian atau rumah tinggal. Tetapi sebagai bangunan umum tempat pertemuan atau musyawarah. Juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda suci, senjata atau pusaka peninggalan dari nenek moyang warga kampung tersebut.

Selain itu sebagai tempat untuk berkumpul seluruh warga untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat setempat.

Ciri Khas Baileo

1 Batu pamali

Batu yang digunakan untuk tempat untuk menyimpan sesaji. Biasanya diletakan di depan pintu tepat di muka pintu rumah baileo. Tujuan dari penempatannya adalah untuk menunjukan bahwa rumah itu merupakan balai adat. Sedangkan balai adat itu sendiri merupakan bangunan induk anjungan.

2. Tiang Penyangga

Rumah ini memiliki tiang-tiang penyangga yang berjumlah sembilan dan berada di bagian depan dan belakang. Jumlah ini menunjukan jumlah marga yang ada di desa yang bersangkutan.

3. Tiang Siwa Lima

Selain sembilan tiang penyangga, baileo juga memiliki lima tiang di sisi kanan dan kiri yang merupakan lambang Siwa Lima. Siwa Lima sendiri memiliki arti kita semua punya dan sebagai simbol persekutuan desa-desa di Maluku dari kelompok Siwa dan kelompok Lima

4. Ukiran

Terdapat banyak ukiran-ukiran bergambar dua ekor ayam berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri kanan. Posisi ukiran ini berada diambang pintu dan mempunyai arti tentang kedamaian serta kemakmuran.

Sumber: Marlyn Salhuteru Rumah Adat Baileo Di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, Prezi.com.

Mengapa Rumah Tradisional Betawi disebut Rumah Kebaya?

Betawi, suku bangsa yang bertempat tinggal di daerah Jakarta ini memiliki beragam kebudayaan. Mulai dari bahasa, musik, tarian dan drama, cerita rakyat, senjata tradisional hingga rumah tradisional.

Berbicara mengenai rumah tradisional, Betawi ini memiliki beberapa rumah tradisional di antaranya ada Rumah Kebaya, Rumah Gudang, Rumah Joglo dan Rumah Panggung. Namun yang akan diulas pada artikel kali ini adalah Rumah Kebaya.

Mengapa disebut dengan Rumah Kebaya? Karena bentuk atapnya menyerupai pelana yang dilipat. Jika dilihat dari samping maka lipatan-lipatan tersebut terlihat sepeti lipatan kebaya.

Teras yang luas menjadi ciri khas dari rumah ini. Biasanya teras ini digunakan untuk menjamu tamu dan menjadi tempat berkumpul keluarga. Selain itu, dinding rumah yang terbuat dari panel-panel dapat dibuka dan digeser-geser ke tepinya, sehingga rumah terasa lebih luas.

Material yang digunakan

Secara konstruksi rumah ini memiliki keunikan tersendiri baik dari segi pondasi, dinding, atap dan ragam hias.

1 Pondasi

Terbuat dari batu kali dengan sistem pondasi umpak yang diletakan dibawah setiap kolom. Sedangkan untuk landasan dindingnya menggunakan batu bata dengan kolom dari kayu nangka yang sudah tua.

2. Dinding

Dinding rumah ini terbuat dari kayu gowok atau kayu nangka. Sebelum digunakan terlebih dahulu dicat dengan dominasi warna kuning dan hijau. Untuk dinding lainnya menggunakan anyaman bambu dengan atau tanpa menggunakan batu bata pada bagian bawahnya. Sedangkan untuk daun pintu atau jendela terdiri dari rangka kayu dengan jalusi horizontal pada bagian atasnya atau pada keseluruhan.

3. Atap

Atapnya terbuat dari genteng atau anyaman daun kirai yang disebut dengan atep. Untuk konstruksi kuda-kuda dan gording menggunakan kayu gowok atau kayu kecapi.

Bagian balok tepi terutama diatas dinding luar menggunakan kayu nangka. Sedangkan kaso dan reng menggunakan bambu tali.

4. Ragam Hias

Biasannya ragam hias ini digunakan untuk dinding pembatas teras, untuk hiasan dinding dan untuk menutup lubang ventilasi pada dinding depan.

Sumber: Wikipedia, Dzikrymh.blogspot.com

Open chat
1
Contact us
Powered by