• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Tag Archive kebudayaan

Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara

Berbicara mengenai kebudayaan Sumatera Utara, rasanya tak lengkap jika belum membahas tentang rumah adat. Sebagai simbol atau identitas suatu suku keberadaanya sangatlah penting. Di daerah Sumatera Utara ini misalnya banyak rumah adat yang bisa kita temukan. Di antaranya rumah adat Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, Nias dan Angkola. Namun yang akan dibahas kali ini adalah rumah adat Pakpak.

Rumah adat ini memiliki bentuk yang khas dari material kayu dengan atap berbahan ijuk. Bentuk desain rumah adat Pakpak selain sebagai wujud seni juga merupakan budaya Pakpak yang memiliki arti tersendiri.

aminama.com

Bentuk dan Arti Rumah Adat Pakpak

  1. Bubungan atap memiliki bentuk melengkung dalam bahasa daerah Pakpak-Dairi disebut “Petarik-tarik Mparas ingenken ndengel” yang artinya berani memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiadat.
  2. Tampuk bubungan yang bersimbolkan “Caban” berarti simbol kepercayaan Puan Pakpak.
  3. Tanduk Kerbau yang melekat dibubungan atap berarti semangat kepahlawanan Puan Pakpak.
  4. Bentuk segitiga pada rumah ini artinya menggambarkan susunan adat istiadat Puan Pakpak dalam kekeluargaan yang terbagi atas tiga bagian atau unsur besar sebagai berikut: a. Senina, saudara kandung laki-laki. b. Berru, saudara kandung perempuan. dan c. Puang, kemanakan.
  5. Dua buah tiang besar disebelah muka rumah “Binangun” yang memiliki arti kerukunan rumah tangga antara suami dan istri.
  6. Satu buah balok besar yang dinamai “Melmellon” yang melekat disamping muka rumah menggambarkan kesatuan dan persatuan dalam segala bidang pekerjaan melalui musyawarah atau lebih tepat disebut gotong royong.
  7. Ukiran-ukiran yang terdapat pada segitiga muka rumah bentuknya bermacam-macam corak dalam bahasa Pakpak disebut perbunga Kupkup, perbunga kembang dan perbunga pancur.
  8. Tangga rumah Pakpak biasanya terdiri dari bilangan ganjil, tiga, lima dan tujuh. menggambarkan bahwa penghuni rumah itu adalah keturunan raja (marga tanah). Sebaliknya jika memakai tangga rumah berjumlah genap menandakan bahwa penghuni rumah tersebut bukan merupakan keturunan marga tanah.

Sama halnya dengan rumah tradisional lainnya di Sumatera Utara. Ciri khasnya terletak pada tangga di rumah Pakpak selalu berjumlah ganjil, sebagai penanda bahwa yang punya rumah adalah warga asli suku tersebut.

Bangunan ini juga dilengkapi dengan ornamen khas suku Pakpak. Di bagian dalamnya berisikan kekayaan budaya setempat seperti genderang, gerantung, serunai, alat kesenian, patung dan meja.

Sumber: batak network, aminama.

Rumoh Santeut, Rumah Tradisional Sederhana Aceh

Rumoh Santeut atau dikenal juga dengan nama Tampong Limong merupakan salah satu rumah tradisional yang berasal dari Aceh. Biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di daerah perkampungan dan memiliki penghasilan yang rendah.

Dikutip dari Masdar, rumoh Santeut merupakan turunan dari rumoh Aceh dengan bentuk yang lebih sederhana. Dalam penelitian Elysa-Masdar (2001), rumoh Santeut adalah varian yang lebih sederhana dari rumoh Aceh. Umumnya, kolong rumoh Santeut lebih rendah dari rumoh Aceh yakni 1-1,5m.

Material

Bangunan ini menggunakan material yang berasal dari daerah Aceh dan mudah didapatkan. Atapnya terbuat dari daun rumbia, kemudian dindingnya dari susunan pelepah rumbia sedangkan untuk lantainya dari bambu belah.

Pembangunan rumoh adat Santeut lebih mudah dan murah dibandingkan dengan rumoh Aceh. Bagi masyarakat yang tinggal diperkampungan terutama masyarakat dengan strata ekonomi bawah, model inilah yang banyak dijadikan rujukan ketika akan membangun rumah.

Perbedaan rumoh Santeut dengan rumoh Aceh ini terletak di atas bangunan dan lantai di setiap bagian rumah memiliki ketinggian yang sama. Tidak seperti rumoh Aceh di mana ruang tengah lebih tinggi dibandingkan dengan ruang depan dan belakang.

Pada rumoh Santeut sangat jarang ditemui adanya ukiran pada bidang dinding dan bagian yang lainnya. Beda halnya dengan rumoh Aceh yang semakin banyak jumlah ukiran yang diaplikasikan. Maka semakin baik dan sejahtera status ekonomi penghuni rumah tersebut.

Sumber: Masdar, Ibnudin.net

5 Keunikan dari Rumah Adat Krong Bade

Rumah Krong Bade merupakan rumah adat yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Dikenal juga dengan sebutan rumoh Aceh. Kini, keberadaan rumah yang memiliki tangga depan ini sudah hampir punah. Mengapa demikian? Karena saat ini sudah jarang dipakai, masyarakat setempat lebih memilih untuk tinggal di rumah modern.

Ada beberapa ciri khas atau keunikan yang dimiliki rumah ini di antaranya memiliki tangga di bagian depan, memiliki ukiran pada dinding, pintu yang memiliki ukuran kurang lebih 120 – 150cm, atapnya yang terbuat dari daun rumbia dan dibangun tanpa menggunakan paku.

Berikut sedikit penjelasan tentang beberapa keunikan dari Rumah Krong Bade. Yuk langsung simak saja!

1. Tangga

Sebelum memasuki rumoh Aceh, pada bagian depan terdapat tangga yang digunakan untuk menuju pintu masuk utama. Tangga ini dinamakan reunyeun, dimana anak tangga reunyeun pada umumnya berjumlah ganjil. Mulai dari tujuh sampai sembilan anak tangga.

“Tangga yang terdapat pada setiap rumoh Aceh umumnya memiliki jumlah anak tangga ganjil yaitu antara tujuh sampai sembilan buah anak tangga. Ketentuan jumlah anak tangga ini berdasarkan kepercayaan orang Aceh bahwa setiap jumlah hitungan selalu ada hubungan dan pengaruhnya dengan ketentuan langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Jadi, jika anak tangga dibuat ganjil antara tujuh sampai sembilan, maka anak tangga yang terakhir jatuh pada hitungan pertemuan dan langkah. Hal ini menurut orang Aceh sangat berpengaruh dan menguntungkan dalam kehidupan. Sebaliknya apabila anak tangga dibuat delapan akan berakhir pada maut. Hal ini yang tidak dikehendaki, karena menurut kepercayaan orang Aceh apabila jumlah anak tangga berakhir pada maut, maka penghuninya atau tamu yang menaiki anak tangga rumah itu akan selalu mendapat kecelakaan” (Waardenburg, 1978:130).

2. Dinding

Memiliki ukiran-ukiran unik pada bagian dinding. Selain memiliki nilai estetika, ukiran tersebut juga sangat berpengaruh dalam menentukan tingkat ekonomi pemilik rumah. Semakin banyak jumlah ukiran yang diaplikasikan maka semakin baik dan sejahtera status ekonomi penghuni rumah tersebut.

3. Pintu

Ketinggian pintu pada rumoh Aceh kurang lebih 120 -150cm. Pada umumnya tidak melebihi dahi orang dewasa, sehingga hal ini membuat siapapun yang akan masuk ke dalam rumoh Aceh kepalanya harus sedikit menunduk. Ketinggian pintu memiliki makna sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah saat memasuki rumahnya.

4. Atap

Penutup atap pada rumoh Aceh menggunakan daun rumbia. Lembaran daun rumbia yang telah disusun dan diikat dipasang mulai dari sebelah kiri sampai kanan atas. Atap disusun dengan sangat rapat, dimana jarak antar tulang daun dengan tulang daun berikutnya rata-rata hanya berjarak 1,5 – 2cm, sehingga atap Rumoh Aceh sangat tebal. Atap yang tebal ini berfungsi untuk melindungi rumah dari cuaca panas.

“Atap pada rumah tradisional Aceh berbentuk atap pelana yang hanya menggunakan satu bubungan dan menggunakan bahan penutup berbahan rumbia yang memiliki andil besar dalam memperingan beban bangunan sehingga saat gempa tidak mudah roboh. Fungsi yang lain pun rumbia juga menambah kesejukan ruangan. Keburukan sifat rumbia adalah mudah terbakar. Pemotongan tali ijuk di dekat balok memanjang pada bagian atas dinding mempercepat runtuhnya seluruh Kap rumbia ke samping bawah sehingga tidak merembet ke elemen bangunan lainnya” (Hadjad dkk, 1984).

5. Tanpa Menggunakan Paku

Masyarakat Aceh tidak menggunakan paku dalam proses pembuatannya. Mereka menggunakan tali untuk mengikat satu bahan bangunan dengan bahan bangunan lainnya.

Sumber: Akademia.edu, Mazmuzie.

Open chat
1
Contact us
Powered by