• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Tag Archive kebudayaan sumatera utara

Rumah Tradisional Mandailing

Mandailing merupakan salah satu suku yang berada di daerah Sumatera Utara. Suku ini memiliki rumah adat yang bernama Bagas Godang. Dalam terminologi masyarakat Mandailing Bagas disebut sebagai rumah dan Godang berarti besar. Jadi secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah besar.

Rumah ini memiliki arsitektur khas Mandailing. Berbentuk empat persegi panjang yang disangga dengan menggunakan kayu-kayu berjumlah ganjil. Kemudian ruangannya terdiri dari ruang depan, ruang tengah, ruang tidur dan dapur.

Material untuk membangun rumah adat mandailing terbuat dari bahan kayu, berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga. Memiliki pintu yang lebar dan berbunyi keras jika dibuka. Konstruksi atap berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati.

id.wikipedia.org

Dikutip dari Skripsi Putri lynna A. Luthan dengan judul Pengembangan Konsep Rumah Tinggal Tradisional Mandailing di Sumatera Utara, sistem struktur rumah pada umumnya tidak berbeda dengan rumah tradisional yang terdiri dari tiga bagian yaitu struktur bagian bawah, struktur bagian tengah dan struktur bagian atas.

Bagian bawah terdiri dari tapak pondasi, tiang pondasi dan balok-balok lantai. Struktur bagian tengah merupakan struktur dinding, pintu dan jendela. Sementara struktur bagian atas merupakan struktur atap dan penutup atap serta atap gable berikut ragam hiasnya. Langsung saja simak ulasannya.

a. Pondasi

Secara keseluruhan bentuk dan sistem pondasi rumah tradisional di Mandailing baik rumah raja dan rakyat terdiri dari susunan tiang-tiang kayu berbentuk segi delapan. Yang diletakan di atas batu kali yang pipih tanpa ada ikatan atau sambungan layaknya rumah-rumah panggung yang dibuat pada saat ini. Hal ini dikemukakan oleh, Luthan PLA, dkk (2013), bahwa sistem konstruksi tersebut akan mempengaruhi sistem religi atau sistem kepercayaan dari masyarakat tersebut. Sedangkan bentuk daripada tiang merupakan sistem kepemimpinan dari masyarakat tersebut.

b. Tiang

Pada rumah raja, tiangnya berbentuk segi delapan yang disebut tarah salapan yang menandakan bahwa pembangunan Sopo Godang (balai sindang adat) dikerjakan secara gotong royong oleh penduduk di seluruh penjuru mata angin (yaitu delapan arah) (Nasution, IN dan Pandapotan 2005).

Sedangkan pada rumah rakyat bentuknya adalah persegi empat. Hal ini menunjukan sistem kepemimpinan dari penghuninya.

c. Balok lantai

Sistem struktur untuk balok lantai pada rumah-rumah tradisional di Mandailing menggunakan material kayu yang didirikan dengan sistem struktur pasak (knock down). Konstruksi ini dibuat dengan cara melubangi tiang bagian atas yang merupakan pertemuan tiang dan balok lantai. Kemudian balok lantai tersebut dimasukan pada tiang yang telah dilubangi tersebut. Balok terdiri dari balok induk melintang dan memanjang, serta balok anak yang mendukung lantai bangunan. Sambungan atau ikatan antar balok dan tiang hanya menga

d. Dinding

Dinding rumah tradisional umumnya terbuat dari bilah-bilah papan. Sambungan antara papan menggunakan sistem lidah yang dipakukan ke tiang tambahan. Dinding dipasang secara horizontal pada sekeliling bangunan dan begitu juga dengan pembatas antar ruang. Sedangkan pembatas ruang pada serambi depan dan belakang berupa pagar yang terbuat dari besi profil yang bermotif dan kayu profil (Luthan PLA, dkk, 2014).

e. Pintu dan Jendela

Pintu dan jendela rumah tradisional Mandailing berbentuk panel. Pada sebagian rumah raja di bagian atas terdapat ventilasi tambahan motif sisir dan sebagian rumah, termasuk rumah rakyat, tidak memiliki ventilasi tambahan.

f. Tangga

Bentuk tangga pada rumah tradisional, terutama rumah raja ditandai dari material yang digunakan yaitu kayu dengan jumlah anak tangga sembilan buah. Anak tangga berjumlah sembilan memiliki makna yang sakral dan magis, yaitu mewakili sembilan tokoh adat yang berwenang dalam adat dan mewakili tiap huta dari delapan arah mata angin. Dimana Bagas Godang sebagai pusatnya.

g. Atap

Bentuk garis bubungan atap rumah tradisional di Mandailing terdiri dari tiga jenis yaitu bentuk melengkung atau disebut atap silingkung dolok pancucuran, atap sarotole dan atap sarocino. Atap melengkung dan datar memiliki gable segitiga pada bagian depan diidentifikasikan sebagai atap rumah raja.

Fungsi Bangunan

Bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal atau kediaman raja Panusunan maupun raja Pamusuk sebagai pemimpin huta. Biasanya Bagas Godang raja Panusunan lebih besar dari raja Pamusuk. Secara adat Bagas Godang melambangkan bona bulu yang berarti bahwa huta tersebut telah memiliki satu perangkat adat yang lengkap seperti dalihan natolu, namora natoras, datu, sibaso, ulu balang, panggora dan raja Pamusuk sebagai raja adat.

Selain sebagai kediaman raja, Bagas Godang juga berfungsi sebagai tempat penyelenggara upacara adat dan juga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi anggota masyarakat yang dijamin kemanannya oleh raja.

Sumber: Media.neliti, Education and development. wikipedia.

Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara

Berbicara mengenai kebudayaan Sumatera Utara, rasanya tak lengkap jika belum membahas tentang rumah adat. Sebagai simbol atau identitas suatu suku keberadaanya sangatlah penting. Di daerah Sumatera Utara ini misalnya banyak rumah adat yang bisa kita temukan. Di antaranya rumah adat Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, Nias dan Angkola. Namun yang akan dibahas kali ini adalah rumah adat Pakpak.

Rumah adat ini memiliki bentuk yang khas dari material kayu dengan atap berbahan ijuk. Bentuk desain rumah adat Pakpak selain sebagai wujud seni juga merupakan budaya Pakpak yang memiliki arti tersendiri.

aminama.com

Bentuk dan Arti Rumah Adat Pakpak

  1. Bubungan atap memiliki bentuk melengkung dalam bahasa daerah Pakpak-Dairi disebut “Petarik-tarik Mparas ingenken ndengel” yang artinya berani memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiadat.
  2. Tampuk bubungan yang bersimbolkan “Caban” berarti simbol kepercayaan Puan Pakpak.
  3. Tanduk Kerbau yang melekat dibubungan atap berarti semangat kepahlawanan Puan Pakpak.
  4. Bentuk segitiga pada rumah ini artinya menggambarkan susunan adat istiadat Puan Pakpak dalam kekeluargaan yang terbagi atas tiga bagian atau unsur besar sebagai berikut: a. Senina, saudara kandung laki-laki. b. Berru, saudara kandung perempuan. dan c. Puang, kemanakan.
  5. Dua buah tiang besar disebelah muka rumah “Binangun” yang memiliki arti kerukunan rumah tangga antara suami dan istri.
  6. Satu buah balok besar yang dinamai “Melmellon” yang melekat disamping muka rumah menggambarkan kesatuan dan persatuan dalam segala bidang pekerjaan melalui musyawarah atau lebih tepat disebut gotong royong.
  7. Ukiran-ukiran yang terdapat pada segitiga muka rumah bentuknya bermacam-macam corak dalam bahasa Pakpak disebut perbunga Kupkup, perbunga kembang dan perbunga pancur.
  8. Tangga rumah Pakpak biasanya terdiri dari bilangan ganjil, tiga, lima dan tujuh. menggambarkan bahwa penghuni rumah itu adalah keturunan raja (marga tanah). Sebaliknya jika memakai tangga rumah berjumlah genap menandakan bahwa penghuni rumah tersebut bukan merupakan keturunan marga tanah.

Sama halnya dengan rumah tradisional lainnya di Sumatera Utara. Ciri khasnya terletak pada tangga di rumah Pakpak selalu berjumlah ganjil, sebagai penanda bahwa yang punya rumah adalah warga asli suku tersebut.

Bangunan ini juga dilengkapi dengan ornamen khas suku Pakpak. Di bagian dalamnya berisikan kekayaan budaya setempat seperti genderang, gerantung, serunai, alat kesenian, patung dan meja.

Sumber: batak network, aminama.

Rumah Bolon, Simbol Masyarakat Batak

Rumah Bolon merupakan rumah adat yang berasal dari suku Batak di daerah Sumatera Utara. Rumah yang menjadi simbol atau identitas masyarakat Batak ini, pada zaman dahulu merupakan tempat tinggal dari 13 raja.

Ada beberapa jenis rumah Bolon yaitu rumah Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak dan rumah Bolon Angkola.

Bentuk

Rumah ini berbentuk persegi empat dan mempunyai model seperti rumah panggung. Ketinggiannya sekitar 1,75 meter dari permukaan tanah. Sehingga jika penghuni rumah atau tamu hendak masuk harus menggunakan tangga yang terletak di tengah-tengah rumah. Dan harus menunduk untuk berjalan menuju tangga.

Bagian dalam merupakan sebuah ruang kosong yang besar dan terbuka tanpa kamar. Rumah ini ditopang oleh tiang-tiang penyangga untuk menopang tiap sudut rumah termasuk juga lantai. Bagian atap berbentuk melengkung pada bagian depan dan belakang seperti halnya pelana kuda.

www.dictio.id
Keunikan

Keunikan desain rumah Bolon terdapat pada hiasan kusen pintu berupa ukiran telur dan panah. Kemudian rumah Bolon ini hanya menggunakan tali untuk menyatukan bahan-bahan rumah.

Kini, rumah Bolon tidak lagi dibangun oleh masyarakat Batak. Mengingat semakin sedikitnya orang yang mampu membangunnya. Bahan bangunannya juga sulit didapatkan serta harganya jauh lebih mahal dari rumah modern.

Sumber: Wikipedia, Travel Kompas.

Open chat
1
Contact us
Powered by