• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Tag Archive arsitektur tradisional

Sulah Nyanda, Rumah Adat Suku Baduy

Suku Baduy merupakan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan wilayah kabupaten Lebak, provinsi Banten. Suku ini terbagi menjadi dua, ada yang dinamakan Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Baduy Dalam dapat dikatakan merupakan inti dari masyarakat Baduy. Mereka disini masih mempertahankan adat tradisi dengan teguh. Sementara masyarakat Baduy Luar tinggal di desa-desa disekitar Baduy Dalam. Sekalipun masih bersaudara, masyarakat Baduy Luar sudah mulai melepaskan diri dari adat dan mulai mengikuti perkembangan.

Suku asli dari Banten ini memiliki rumah adat yang bernama Sulah Nyunda. Konstruksi bangunannya merupakan rumah panggung dengan material bangunan yang terdapat disekitar lokasi.

Bangunan ini dibuat tinggi dalam bentuk rumah panggung yang harus mengikuti kontur tanah. Bagian tanah yang permukaannya miring atau tidak rata, rumah disangga dengan tumpukan batu kali. Fungsinya sebagai tiang penyangga bangunan agar tanah tidak longsor.

Atapnya berasal dari daun yang bernama sulah nyanda. Nyanda memiliki arti sikap bersandar, sandarannya tidak lurus tetapi agak rebah ke belakang. Salah satu bagian sulah nyanda ini dibuat lebih panjang & memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap.

Bilik dan pintu terbuat dari anyaman bambu yang dianyam secara vertikal. Teknik anyaman tersebut dikenal dengan nama sarigsig. Dibuat hanya dengan berdasarkan perkiraan, tidak diukur terlebih dahulu. Sedangkan bagian kunci rumah dibuat dengan memalangkan dua buah kayu yang ditarik atau didorong dari bagian luar rumah.

Struktur Bangunan

Rumah adat Sulah Nyanda dibagi dalam 3 ruangan yaitu bagian sosoro (depan), tepas (tengah) dan ipah (belakang).

1 Sosoro (bagian depan)

Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu dari luar daerah dengan menggunakan golodog (serambi luar dan jalan masuk ke rumah). Saroso ini bisa disebut juga teras atau ruang depan. Kegunaan lainnya yaitu sebagai tempat bersantai dan menenun bagi kaum perempuan.

2. Tepas (bagian tengah)

Tepas berada di samping dan bentuknya memanjang ke belakang. Digunakan sebagai ruang kegiatan bersama anggota keluarga sampai bisa dipakai sebagai tempat tidur pada malam harinya. Dengan kata lain ruangan ini merupakan inti rumah.

3. Ipah (bagian belakang)

Merupakan ruangan belakang rumah yang digunakan sebagai penyimpanan persediaan makanan pokok seperti beras, jagung, lauk pauk dan lainnya. Ruangan ini juga digunakan sebagai dapur tempat memasak.

Ciri khas

Dikutip dari goodnewsfromindonesia berikut beberapa ciri khas rumah adat Sulah Nyanda.

1 Rumah dibangun dengan model rumah panggung, sehingga bagian bawah tak menyentuh permukaan tanah

2. Penyangga untuk pondasi rumah adat Banten menggunakan batu yang menyangga setiap tiang,

3. Bahan baku rumah adat ini didominasi oleh material kayu, berlaku juga untuk dindingnya.

4. Umumnya bangunan memiliki dua bagian atap, kiri dan kanan. Bagian kiri biasanya memiliki bentuk yang lebih panjang dari pada atap kanan.

5. Bagian atapnya menggunakan material daun kelapa atau ijuk.

6. Seluruh rumah adat Baduy ini dibangun tanpa jendela

7. Material lantai dibangun menggunakan potongan-potongan bambu.

Sumber: goodnewsfromindonesia.id, rumahadatdiindonesia.

pesona travel

Keunikan Rumah Tongkonan Khas Toraja

Rumah adat Tongkonan terbuat dari kayu yang banyak tumbuh di Sulawesi, yaitu kayu Uru. Atapnya terbuat dari bambu, memiliki ciri khas menyerupai perahu. Hal ini menjadi pengingat bahwa leluhur masyarakat Toraja menggunakan perahu untuk sampai ke Sulawesi.

Tongkonan berasal dari kata Tongkon yang berarti ‘menduduki’ atau ‘tempat duduk’. Disebut seperti itu karena pada awalnya rumah adat ini dijadikan sebagai tempat berkumpul para bangsawan Tana Toraja untuk berdiskusi.

Di setiap rumah, kamu akan menemukan kepala kerbau serta tanduk-tanduk pada tiang utama di setiap rumah. Semakin banyak tanduk kerbau semakin tinggi derajat keluarga tersebut. Di beberapa rumah juga ada beberapa patung kepala ayam atau naga yang menandakan jika pemilik rumah adalah orang yang dituakan.

Konon, filosofi pembagian ruangan ini tidak boleh dilanggar, karena dipercaya menyebabkan petaka. Apasaja bagian-bagian dari rumah ini? Bagian dalam rumah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian selatan, tengah dan utara. Masing-masing memiliki fungsi. Seperti misalnya bagian selatan (Sumbung) untuk kepala keluarga. Bagian tengah (Sali) untuk pertemuan keluarga, dapur, tempat makan dan tempat meletakan orang yang sudah meninggal. Bagian utara untuk ruang tamu, tempat meletakan sesaji dan juga tempat tidur anak-anak.

Keunikan dari Rumah Tongkonan Khas Toraja
Hiasan lambang status sosial

Patung kepala Kerbau pada bagian atas rumah jangan dikira sebagai hiasan belaka. Terdiri dari tiga warna yaitu warna putih, hitam dan belang atau bule ternyata kepala kerbau ini memiliki makna tentang kemampuan ekonomi pemilik rumah.

Pada saat melakukan upacara adat di Tana Toraja pasti menggunakan Kerbau sebagai hewan kurbannya. Harga satu kerbau hitam per ekor kira-kira sekitar Rp 60 juta. Kerbau belang atau bule harganya sekitar Rp. 600 juta sampai Rp 1 miliar per ekor. Jadi, semakin banyak tanduk kerbau yang berderet di atas rumah maka semakin tinggi derajat keluarga tersebut.

Ukiran dinding yang khas

Dinding rumah adat Tongkohan terbuat dari tanah liat. Biasanya memiliki warna yang berbeda pada keempat sisinya. Keempat warna tersebut yaitu merah, kuning, putih dan hitam.

Masing-masing warna memiliki arti. Seperti merah melambangkan kehidupan manusia. Kuning melambangkan kekuatan duniawi atau sang pencipta. Warna putih melambangkan kesucian dan warna hitam melambangkan kematian atau duka. Keempat warna tersebut mempengaruhi kehidupan manusia dalam bangunan rumah tersebut.

Pesona travel, mantabz

Rumah Gadang, Arsitektur Khas Minangkabau

Puncak atapnya yang melengkung dan runcing menyerupai tanduk Kerbau inilah yang menjadi ciri khas dari rumah Gadang. Dahulu terbuat dari material ijuk sehingga bisa tahan sampai puluhan tahun. Namun dewasa ini, atapnya banyak berganti dengan atap seng.

Rumah yang memiliki sebutan lain Bagonjong ini memiliki daya tarik sendiri. Sempat tampil juga di balik uang koin 100 keluaran Bank Indonesia pada 1970-an silam.

Memiliki bentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian, bagian muka dan belakang. Bagian muka biasanya penuh dengan ukiran ornamen bermotif akar, bunga, daun dan bidang persegi empat serta genjang. Sedangkan bagian belakang dilapisi dengan belahan bambu.

Konsep dari bangunan ini yaitu bertopang pada tiang kayu yang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu diatas batu datar yang kuat dan lebar. Dengan ketinggian tiang mencapai 2 meter membuat penghuninya bisa merasakan keamanan dari serangan hewan buas pada zaman dahulu.

Selain aman terhadap serangan hewan buas, konsep ini juga sangat memperhatikan daerah Minangkabau yang rawan terhadap gempa karena berada di pegunungan Bukit Barisan. Sehingga konsep arsitektur ini terbilang aman dari gempa.

Mengapa aman terhadap gempa? Karena seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku. Namun memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Ketika gempa terjadi rumah akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tiang berdiri. Begitupula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu akan bergerak fleksibel.

Sumber: Wikipedia, 99.co

Rumah Panjang Khas Kalimantan Barat

Rumah panjang merupakan rumah tradisional masyarakat Dayak yang berada di beberapa daerah di Kalimantan. Namun terdapat beberapa penyebutan yang berbeda. Misalnya saja Betang atau Radakng untuk daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Sedangkan Balai untuk Kalimantan Selatan dan Lamin untuk Kalimantan Timur.

Pada umumnya rumah panjang yang satu dengan yang lainnya memiliki bentuk dan komponen arsitektur hampir sama. Yaitu berbentuk rumah panggung dengan tiang penyangga setinggi satu hingga dua meter.

Di dalamnya terdapat satu aula panjang dan puluhan bilik yang memanjang dibelakang aula. Ada puluhan keluarga yang tinggal di bilik-bilik tersebut. Masing-masing keluarga mendiami satu bilik.

Ciri Khas

Rumah adat ini mempunyai tinggi sekitar 5 sampai 8 meter. Tinggi tersebut tergantung dari tinggi tiang yang menopang rumah. Kemudian memiliki panjang sekitar 180 meter dan lebar 6 meter serta ruangannya ada sekitar 50 ruangan.

Untuk akses keluar masuk rumah harus menggunakan tangga atau anak tangga. Bentuk rumahnya sempit tetapi memiliki ukuran yang panjang.

Rumah panjang mempunyai ciri utama berupa rumah panggung yang terdiri atas beberapa bagian. Pada Radakng Sahapm di Kalimantan Barat, komponen horizontalnya sebagai berikut:

1 Tangga naik (tanga nai’) yaitu berupa tangga dari kayu atau batang pohon bulat sepanjang dua sampai tiga meter. Biasanya satu rumah panjang mempunyai dua buah tangga naik yang terletak di sebelah kiri dan kanan, tetapi ada juga yang hanya mempunyai satu tangga yang diletakan di tengah-tengah.

2. Pante atau serambi, terdepan dengan lantai kayu yang terbuka (tanpa atap) biasanya letaknya lebih rendah daripada serambi yang sebenarnya.

3. Serambi (serambi depan yang lebih tinggi dari pante).

4. Sami’atau aula adalah satu ruangan luas semacam aula yang memanjang di depan deretan puluhan bilik-bilik. Memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuk ke bilik, tempat rapat, tempat menyelenggarakan pesta adat dan tempat tidur bagi tamu yang menginap.

5. Kamar keluarga atau bilik.

6. Dapur.

7. Jungkar merupakan ruangan tambahan di belakang masing-masing dengan atap menyambung atap rumah panjang. Biasanya terdiri atas dapur, tempat cuci piring, tungku perapian, dan tempat menyimpan padi yang disebut jurokng.

Bentuk rumah

Terdiri dari beberapa bagian yaitu teras (pante), ruang tamu (samik) dan ruang keluarga. Dalam ruang tamu terdapat sebuah meja yang disebut pane yang berfungsi sebagai tempat berbicara atau menerima tamu. Ruang keluarga adalah ruang sederhana yang mempunyai panjang 6 meter dan lebar 6 meter. Dan pada bagian belakang digunakan sebagai tempat dapur keluarga.

Fungsi Rumah

Digunakan sebagai tempat tinggal beberapa keluarga. Akan tetapi selain untuk rumah tinggal berfungsi juga untuk menghindari serangan binatang buas. Dari tingginya lah bisa menjaga keselamatan keluarga dari serangan suku-suku lain dalam masyarakat Dayak. Di sini juga sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan masyarakat seperti rapat atau pertemuan-pertemuan serta upacara-upacara adat.

Sumber: researchgate.net Wikipedia,

Rumah Boyang dari Sulawesi Barat

Sulawesi Barat, sebuah provinsi baru di Indonesia yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan. Telah menjadi provinsi ke-33 yang diresmikan sejak 05 Oktober 2004 berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004.

Provinsi baru ini tentu saja memiliki beragam kebudayaan. Misalnya saja rumah adat. Sulawesi Barat memiliki rumah adat yang bernama rumah Boyang.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah tradisional Indonesia, rumah Boyang ini memiliki struktur rumah panggung dengan menggunakan material kayu. Ditopang oleh beberapa tiang yang terbuat dari kayu berukuran besar dengan tinggi kurang lebih sekitar dua meter. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk menopang lantai dan atap rumah. Tiangnya tidak ditancapkan ke dalam tanah melainkan hanya ditumpangkan di sebuah batu datar untuk mencegah kayu melapuk.

Bangunan ini juga memiliki dua buah tangga yang terletak di bagian depan dan belakang. Tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, umumnya 7 sampai 13 buah dan dilengkapi dengan sebuah pegangan di bagian sisi kanan dan kiri tangga. Sedangkan dinding dan lantai rumah menggunakan material papan yang telah diukir sesuai dengan motif khas suku mandar.

Atap rumah Boyang berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah. Umumnya terbuat dari seng, tetapi sebagian ada yang menggunakan daun rumbia dan sirap. Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar (penutup bubungan) yang memberi identitas tentang status sosial bagi penghuninya. Penutup bubungan juga dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Kemudian di bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas yang disebut “teppang”.

Bagian-bagian Rumah Boyang

Pada umumnya rumah adat Boyang terdapat tujuh pembagian ruangan. Dimana 3 bagian merupakan lotang utama dan empat lainnya merupakan lotang tambahan.

Lotang Utama

Samboyang

Ruangan yang terletak di bagian depan rumah atau disebut dengan teras. Fungsinya digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu bila sedang bermalam. Selain itu, ruangan ini bisa juga digunakan untuk melakukan kegiatan yang dilakukan di dalam rumah, seperti hajatan dan juga tempat membaringkan jenazah sebelum dikuburkan.

Tangnya Boyang

Terletak di bagian tengah dari rumah dan berfungsi untuk berkumpul bersama keluarga. Ukurannya lebih luas jika dibandingkan dengan samboyang.

Bui Boyang

Merupakan tempat yang berupa kamar dan berada di bagian belakang dari Biyang. Kamar ini disebut dengan songi dan ditempati oleh pemilik dari rumah tersebut.

Lotang Tambahan

Tapang

Ruangan ini merupakan loteng yang letaknya berada di atas dan fungsinya sebagai gudang atau tempat menyimpan barang. Dulunya, tapang digunakan sebagai tempat bagi calon pengantin untuk berdiam diri dan mengikuti adat istiadat yang berlaku di suku tersebut.

Paceko

Paceko merupakan istilah yang digunakan masyarakat Sulawesi Barat yang memiliki arti dapur. Letaknya menyilang dari bangunan bagian utama rumah Boyang. Seperti halnya fungsi dapur pada umumnya. Paceko juga berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan-bahan makanan serta tempat memasak.

Lego-lego

Ruangan lego-lego merupakan teras dengan atap diatasnya, namun tidak berdinding. Beberapa orang menyebut bentuk lego-lego mirip seperti beranda. Fungsinya sebagai area bersantai pada sore hari.

Naon Boyang

Ruangan pada rumah adat Sulawesi Barat ini merupakan kolong rumah yang terletak dibawah bangunan dan beralaskan tanah. Biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan ternak.

Beberapa orang juga menggunakan tempat ini sebagai tempat manette atau menenun kain sarung. Kegiatan penenunan ini biasanya dilakukan perempuan suku setempat untuk mengisi waktu senggang.

Sumber: Celebes.co, Wikipedia, Ssckanesa-dua.

Ciri Khas Rumah Adat Lampung Nowou Sesat

Sebuah provinsi yang berada paling selatan di Pulau Sumatera, Lampung namanya. Provinsi ini memiliki beragam seni dan budaya, termasuk rumah adat. Ya, rumah adat Nuwou Sesat yang berasal dari sini.

Nuwo artinya rumah dan sesat berarti adat. Jadi rumah adat ini berfungsi sebagai balai pertemuan adat. Tempat para purwatin (penyimbang) mengadakan pepung adat (musyawarah). Maka dari itu balai ini juga disebut Nuwo Sesat Balai Agung.

Bagian-bagian dari bangunan adat Nowou Sesat terdiri dari:

1 Ijan Geladak yaitu tangga masuk.

2. Rurung Agung atau atap bangunan.

3. Anjungan atau serambi adalah sebuah tempat yang digunakan untuk pertemuan kecil.

4. Pusiban merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat musyawarah resmi.

5. Ruang Gajah Merem merupakan tempat istirahat untuk para penyimbang adat.

Pembagian ruangan

Tata ruangan pada rumah adat Nowou Sesat didasarkan pada pola sosial yang ada di dalam masyarakat setempat. Beberapa pembagian ruangannya adalah tepas, agung, kebik tengah, gaghang, dapur dan ganyang besi.

1 Ruang tepas

Bagian serambi yang terbuka di bagian depan rumah berhubungan dengan ijan ke rumah panggung. Bagian ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan sebagai ruang berdiskusi dalam mencapai permufakatan. Tetapi pada siang hari, ruangan ini juga bisa digunakan oleh anggota keluarga untuk beristirahat.

2. Ruang agung

Sebuah ruangan yang berada lebih tinggi daripada tepas. Ruangan ini berfungsi sebagai ruangan merwatin (generasi muda mufakat). Posisi ketinggian dari ruangan ini menunjukan hirarki yang lebih tinggi karena cerminan Sakai Sambayan atau mufakat.

3. Ruang gaghang

Berfungsi sebagai ruangan kebersihan, karena disinilah tempat untuk mencuci peralatan rumah tangga. Sedangkan dapur digunakan untuk memasak makanan.

4. Ruang gayang besi

Ruangan yang digunakan untuk sanak saudara yang belum memiliki suami atau istri.

Ciri khas

Pada bagian atas jambat agung ini terdapat hiasan payung-payung berwarna putih, kuning dan merah. Ketiganya mempunyai arti sendiri-sendiri. Payung yang berwarna putih memiliki arti tingkat marga yang dimiliki. Payung berwarna kuning melambangkan tingkat kampung, sedangkan yang berwarna merah melambangkan tingkat suku di Lampung.

Bila dilihat di teras rumah, setelah tangga akan ada serambi yang disebut dengan anjungan. Fungsinya yaitu sebagai tempat bermain sambil bersantai antara penghuni rumah dengan tetangga. Selain itu, secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang.

Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Zaman dahulu rumah adat ini beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting. Perubahan rumah adat Lampung dapat dilihat antara lain pada ruang di bawah rumah yang disebut Bah Nuwo. Sekarang rumah adat Nuwo Sesat tidak lagi menjadi ruang pertemuan tetua adat, tetapi sebagai tempat tinggal biasa.

Malahayati.ac.id, Wikipedia, Daerahkita.

https://www.nesabamedia.com/wp-content/uploads/2019/10/Rumah-Adat-Kalimantan-Timur-680x350.jpg

Mengenal Bentuk dan Ciri Khas Rumah Adat Lamin

Rumah adat yang berasal dari Kalimantan Timur ini, Lamin namanya. Dikenal sebagai rumah suku Dayak berbentuk panggung yang panjang. Sambung menyambung dan memiliki banyak kamar.

Bentuk rumah

Memiliki bentuk persegi panjang dan bagian atap berbentuk seperti pelana. Panjangnya sekitar 300 meter dengan lebar 15 meter serta tingginya kurang lebih 3 meter.

Biasanya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi yang kuat dan terkenal tahan lama. Rumah yang menjadi identitas masyarakat Dayak ini dapat dihuni oleh beberapa keluarga yaitu sekitar 25 sampai 30 kepala keluarga.

Selain itu, rumah Lamin juga dibangun dengan menggunakan beberapa tiang penyangga untuk menopang rumah. Tiang penyangga ini terbagi menjadi dua bagian. Ada tiang inti dan tiang penyangga lainnya. Tiang inti adalah tiang yang menyangga atap sedangkan tiang penyangga lainnya untuk menopang lantai-lantai rumah.

Ciri Khas

Rumah Lamin memiliki beberapa ciri khas yang mudah untuk dikenali.

1 Banyak ditemukan ukiran-ukiran atau gambar yang mempunyai makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur.

Fungsi dari ukirannya adalah untuk menjaga keluarga yang hidup dalam rumah dari bahaya. Maksud bahaya di sini adalah ilmu-ilmu hitam yang umumnya ada di masyarakat Dayak.

2. Kuning dan hitam merupakan warna khas yang dipakai untuk menghias badan rumah. Namun tak hanya dua warna itu yang digunakan, tetapi yang pastinya setiap warna yang dipakai untuk menghias mempunyai makna tersendiri.

Warna kuning melambangkan kewibawaan, warna merah melambangkan keberanian, warna biru melambangkan kesetiaan dan warna putih melambangkan kebersihan jiwa.

Material Pembuat Rumah Lamin

Rumah Lamin terbuat dari kayu ulin. Kayu ini dikenal oleh masyarakat Dayak dengan sebutan kayu besi. Konon, apabila terkena air maka akan semakin keras. Hal ini terbukti dari lamanya usia rumah Lamin yang terbuat dari kayu ulin.

Bagian-bagian rumah

Rumah terbagi menjadi tiga ruangan yaitu ruangan dapur, ruang tidur dan ruang tamu.

Ruang tidur terletak berderet dan pada umumnya dimiliki oleh masing-masing keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut. Tetapi ruangannya juga dibedakan antara ruang tidur laki-laki dan perempuan, kecuali jika laki-laki dan perempuan tersebut sudah menikah bisa disatukan.

Ruang tamu digunakan untuk menerima tamu dan juga untuk pertemuan adat. Bentuknya berupa ruangan kosong yang panjang.

Wikipedia, belajar.kemendikbud.go.id

https://3.bp.blogspot.com/-nS81O_Ygk5M/WTOJ5zyML6I/AAAAAAAADT4/Y3pubjt0l58cBtgGkDVSCo23rXS32EOZQCLcB/s1600/Rumah%2BTambi%252C%2BRumah%2BAdat%2BProvinsi%2BSulawesi%2BTengah.JPG

Tambi, Rumah Tradisional dari Provinsi Sulawesi Tengah

Rumah tradisional atau rumah adat penduduk suku Lore yang berasal dari provinsi Sulawesi Tengah ini bernama Tambi. Rumah adat Tambi merupakan rumah di atas tiang yang terbuat dari kayu bonati. Atap dan dinding dari bangunan menyatu dan difungsikan sebagai penutup bangunan.

Berikut ini penjelasan tentang rumah adat Tambi dari segi arsitektural, struktur dan konstruksi sampai pada ragam hias.

a. Arsitektural

Rumah adat Tambi merupakan rumah dengan struktur panggung. Memiliki tiang penyangga yang tingginya tidak lebih dari satu meter. Tiangnya berjumlah 9 buah, lalu ditempelkan satu dengan lainnya menggunakan pasak balok kayu. Tiang-tiang ini biasanya terbuat dari bahan dasar kayu bonati. Sejenis kayu hutan yang bertekstur kuat dan tidak mudah lapuk.

Bangunan ini terbilang unik. Mengapa? karena bagian dinding dan atapnya menjadi satu kesatuan. Prisma bentuk bangunannya, dengan bukaan berupa pintu di bagian depan. Dua jendela dibagian belakang, serta ventilasi pada tumpukan atap dibagian depan dan belakang bangunan. Materialnya ini menggunakan atap sirap.

Ruangan yang ada didalam rumah ini hanya terdapat satu ruangan saja. Tetapi meskipun begitu ruangan besar ini memiliki fungsi yang bermacam-macam. Seperti kegiatan sehari-hari mulai dari memasak, tidur hingga menerima tamu.

Untuk melengkapi ruangan tersebut, kemudian diberi dua bangunan tambahan di luar rumah sebagai penunjang kegiatan lainnya yang tidak bisa dilakukan di rumah utama. Bangunan tersebut bernama Pointua dan Buho atau Gampiri.

Pointua merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat untuk menumbuk padi. Didalammya terdapat sebuah lesung panjang bernama Iso dengan jumlah 4 tiang.

Sementara Buho, bangunannya mirip dengan rumah Tambi utama namun memiliki dua lantai. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu. Dan lantai atas berfungsi sebagai lumbung padi, sebelum dibawa ke Pointua untuk ditumbuk dan diproses lebih lanjut.

Selanjutnya, atap rumah adat ini berbentuk prisma, dengan sudut kecil pada bagian paling atas. Sehingga terlihat tinggi dan dapat menaungi rumah secara keseluruhan. Materialnya terbuat dari ijuk atau daun rumbia yang memanjang ke bawah sekaligus berfungsi sebagai dinding luar rumah.

Tetapi jika ingin membangun rumah adat Tambi ini ada syarat yang harus dipenuhi yaitu rumahnya menghadap kearah utara-selatan. Tidak boleh menghadap maupun membelakangi posisi matahari terbit dan terbenam.

b. Struktur dan konstruksi

Rumah ini menggunakan umpak dari batu alam sebagai pondasi. Struktur ruangan utamanya menggunakan material kayu.

c. Ragam Hias

Bagian eksterior rumah Tambi bisa dilihat berupa tanduk kerbau yang diletakan di atas balok-balok pondasi. Hal ini menunjukan kesetaraan sosial pemilik rumah tersebut. Rumah tambi ini tidak memiliki ukiran yang menjadi ciri khas, termasuk bagian atap bubungan ini juga terlihat polos tanpa ornamen.

Pada bagian interior rumah ditemukan beberapa hiasan atau patung-patung kecil berbentuk stilisasi dari manusia, hewan dan genetalia. Tanduk kerbau yang dijumpai pada bagian luar rumah Tambi juga bisa ditemukan pada bagian dalam rumah yang terpasang pada bagian kolom kayu.

Wikipedia, academia.edu

Rumah Betang, Rumah yang Bisa Menampung Sekitar 150 Orang

Suku dayak merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia, tepatnya mendiami wilayah Kalimantan. Suku ini memiliki keunikan dari segi etnik dan budayanya. Selain itu, dikenal juga sebagai suku yang memiliki warisan magis yang kuat.

Berbicara mengenai etnik dan budayanya, suku Dayak memiliki rumah adat yang khas bernama rumah Betang. Terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku dayak.

Memiliki bentuk menyerupai panggung dan memanjang. Panjangnya bisa mencapai 150 meter. Lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter. Di bawahnya tertancap tiang kayu yang kokoh asli dari Kalimantan dengan tinggi kayu rata-rata 5 meter. Hampir semua bangunan Rumah Betang terbuat dari kayu yang kuat dan tergolong tahan lama atau tidak akan mudah rapuh.

Menurut situs travel.tempo.co, rumah Betang mampu menampung sekitar 150 orang atau 5-30 kepala keluarga lebih. Bisa kamu banyangkan hidup dalam satu atap membuat mereka terus dapat berkomunikasi dan menjaga tali kekerabatan. Bahkan saling melindungi serta saling membantu dalam hal apapun seperti ekonomi, pekerjaan dan lain sebagainya.

Pada umumnya rumah Betang Suku Dayak dibuat hulunya menghadap timur dan hilirnya menghadap barat. Ini merupakan sebuah symbol bagi masyarakat dayak. Hulu yang menghadap timur atau matahari terbit memiliki filosofi kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin. Sedangkan hilir yang menghadap barat atau matahari terbenam memiliki filosofi tidak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari terbenam.

Bagian-bagian rumah Betang

Berikut merupakan bagian-bagian dari rumah Batang Suku Dayak.

1 Sado

Pelataran yang merupakan jalur lalu lalang penghuni rumah atau tempat melakukan aktifitas seperti tempat musyawarah adat, tempat menganyam, tempat menumbuk padi dan lainnya.

2. Padong

Merupakan ruang keluarga berdimensi antara 4×6 meter. Biasanya masing-masing kepala keluarga memiliki satu padong yang digunakan untuk berkumpul makan, minum, menerima tamu dan lain-lain.

3. Bilik

Ruangan ini digunakan sebagai tempat tidur. Bilik hanya dipisahkan dengan kelambu saja, baik bilik suami istri, bilik anak laki-laki maupun bilik anak perempuan.

4. Dapur

Dalam satu rumah memiliki satu dapur. Posisinya harus menghadap aliran sungai, menurut mitos agar mendapat rezeki.

5. Tangga

Tangga dalam rumah harus berjumlah ganjil. Tetapi umumnya berjumlah 3 yaitu berada di ujung kiri dan kanan. Satu lagi di depan sebagai penanda atau ungkapan rasa solidaritas. Menurut mitos tergantung ukuran rumah, semakin besar ukuran rumah maka semakin banyak tangga.

6. Pante

Lantai tempat menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainnya. Posisinya berada didepan bagian luar atap yang menjorok ke luar. Lantai pante terbuat dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan.

7. Serambi

Pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarit halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas.

8. Sami

Ruang tamu sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan.

9. Jungkar

Merupakan ruangan tambahan di bagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau adakalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang.

10. Bagian tengah rumah biasanya dihuni oleh tetua adat.

11. Dinding dan tiangnya memiliki ukiran yang mengandung falsafah hidup suku dayak.

12. Pada bagian halamannya terdapat Totem atau patung pemujaan.

travel.tempo.co getborneo, wikipedia.

Rumah Adat Baileo Maluku

Jika kemarin membahas rumah adat Bangsal Kencono yang berasal dari daerah Yogyakarta. Kini, giliran mengulas rumah adat dari Maluku. Ya rumah ada itu bernama Baileo.

Baileo berasal dari kata balai yang berati gedung atau tempat pertemuan (Poerwadarminta, 1993). Menurut Cooley Baileo berasal dari kata Melayu yaitu Bale atau Balae yang memiliki arti tempat pertemuan (Cooley, 1962 dalam wattimena, 2009:25)

Rumah adat Maluku ini pada intinya dibuat tak berdinding, dikarenakan agar roh nenek moyang dapat dengan leluasa untuk masuk atau keluar rumah.

Baileo merupakan hasil budaya Maluku yang dimanifestasikan dalam bentuk arsitektur. Pendirian sebuah Baileo tentunya tidak dilakukan begitu saja, namun harus mengikuti aturan-aturan yang dianut dalam budaya Maluku, mulai dari pemilihan lokasi, pemilihan bahan, bentuk arsitektur hingga ornamen.

Bentuk Rumah

Memiliki bentuk rumah panggung atau rumah berkolong. Biasanya tidak berdinding kalaupun ada hanya setengahnya saja. Setengah lagi dibiarkan terbuka. Konstruksi tangga dan dinding baileo terbuat dari kayu. Lantainya dari papan dan atap terbuat dari daun rumbia atau daun sagu.

Bentuk arsitektur bagian-bagian Baileo Maluku dapat dijelaskan sebagai berikut:

1 Bagian bawah

Didirikan di atas tumpukan tanah yang agak tinggi, dibatasi dengan tumpukan batu atau beton sebagai penahan tanah. Terdapat tiang-tiang yang ditancapkan pada tanah. Jumlah tiang pada masing-masing Baileo bervariasi. Selain tiang-tiang induk, terdapat pula tiang tambahan yang diikatkan berimpit pada tiang induk. Gunanya untuk memperkuat tiang induk sebagai penopang seluruh bagian bangunan.

2. Bagian tengah

Bagian tengah bangunan adalah lantai dan dinding. Lantai Baileo umumnya terbuat dari papan yang diletakan di atas tiang-tiang kayu dengan menggunakan pasak kayu dan paku. Tinggi dinding kurang lebih 1 meter dari lantai.

3. Bagian atas

Bagian atas atau atap biasanya berbentuk tumpal atau segitiga sama kaki. Atap Baileo umumnya terbuat dari daun sagu atau daun rumbia. Konstruksi atap menggunakan bahan kayu dan bambu dengan pasak kayu, pasak besi, paku, atau dengan cara ikat tali ijuk.

Fungsi

Rumah adat Baileo ini tidak difungsikan sebagai bangunan hunian atau rumah tinggal. Tetapi sebagai bangunan umum tempat pertemuan atau musyawarah. Juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda suci, senjata atau pusaka peninggalan dari nenek moyang warga kampung tersebut.

Selain itu sebagai tempat untuk berkumpul seluruh warga untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat setempat.

Ciri Khas Baileo

1 Batu pamali

Batu yang digunakan untuk tempat untuk menyimpan sesaji. Biasanya diletakan di depan pintu tepat di muka pintu rumah baileo. Tujuan dari penempatannya adalah untuk menunjukan bahwa rumah itu merupakan balai adat. Sedangkan balai adat itu sendiri merupakan bangunan induk anjungan.

2. Tiang Penyangga

Rumah ini memiliki tiang-tiang penyangga yang berjumlah sembilan dan berada di bagian depan dan belakang. Jumlah ini menunjukan jumlah marga yang ada di desa yang bersangkutan.

3. Tiang Siwa Lima

Selain sembilan tiang penyangga, baileo juga memiliki lima tiang di sisi kanan dan kiri yang merupakan lambang Siwa Lima. Siwa Lima sendiri memiliki arti kita semua punya dan sebagai simbol persekutuan desa-desa di Maluku dari kelompok Siwa dan kelompok Lima

4. Ukiran

Terdapat banyak ukiran-ukiran bergambar dua ekor ayam berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri kanan. Posisi ukiran ini berada diambang pintu dan mempunyai arti tentang kedamaian serta kemakmuran.

Sumber: Marlyn Salhuteru Rumah Adat Baileo Di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, Prezi.com.

Open chat
1
Contact us
Powered by