• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Tag Archive arsitektur rumah

Bentuk dan Fungsi Rumah Adat Mbaru Niang

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), di sini terdapat rumah adat yang bernama Mbaru Niang. Rumah ini tepatnya terletak di Kampung Wae Rebo di atas pegunungan dengan ketinggian 1.117 mdpl.

Bentuk Rumah

Mbaru Niang memiliki bentuk kerucut dengan struktur yang cukup tinggi mencapai sekitar 15 meter. Atapnya hampir menyentuh tanah dan terbuat dari daun lontar yang ditutupi ijuk. Jika diperhatikan rumah adat ini mirip dengan rumah adat Honai dari Papua.

Mengapa berbentuk kerucut? Karena dalam budaya Wae Rebo bentuk kerucut merupakan simbol perlindungan dan persatuan antar rakyat Wae Rebo

Lingkaran bentuk rumahnya, melambangkan harmonisasi dan keadilan antar warga dan keluarga.

Rumah adat ini memiliki 5 lantai (tingkat), dimana terdapat berbagai ruangan dengan fungsinya masing-masing.

Setiap lantai rumah Mbaru Niang memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda yaitu:

a. Lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga.

b. Loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.

c. Lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan.

d. Lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan.

e. Hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah adat, Mbaru Niang juga berbentuk rumah panggung. Terbuat dari kayu worok dan bambu yang dibangun tanpa paku. Tetapi menggunakan tali rotan yang kuat untuk mengikat konstruksi bangunan.

Kolong rumah tingginya sekitar 1 meter. Hal ini dibuat demikian karena ada aturan dari leluhur rumah tak boleh menyentuh tanah.

Setiap Mbaru Niang dihuni lima sampai enam kepala keluarga. Dengan total penghuni sekitar 15-20 orang

genpi.id, Indonesia.go.id, merahputih.com

https://aminama.com/

Kajang Lako, Rumah Adat Suku Batin Jambi

Jambi, sebuah provinsi yang berada di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera. Sebagai sebuah provinsi, Jambi tentu saja memiliki beragam seni dan kebudayaan. Mulai dari tari-tarian, pakaian adat sampai pada rumah adat.

Salah satu suku yang mendiami provinsi Jambi adalah suku Batin. Suku ini berada di kampung Lamo, desa Rantau Panjang, kecamatan Tabir, kabupaten Merangin. Dimana di sini masih sangat kental dengan adat istiadat. Biasa kita lihat dari cara berpakaian dan arsitektur bangunan.

Kajang Lako atau Rumah Lamo merupakan sebutan tempat tinggal untuk orang Batin. Bubungannya berbentuk seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya.

Rumah Kajang Lako ini memiliki gaya seperti rumah adat Indonesia pada umumnya. Berupa rumah panggung. Uniknya, rumah ini dibuat tinggi. Karena memiliki fungsi untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas.

Bagian-bagian dari rumah Kajang Lako ini terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya bagian bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban dan tangga.

Bubungan atau atap biasa disebut dengan “gajah mabuk’ diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang atau potong jerambah.

Terbuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap terlihat berbentuk segi tiga. Bentuk seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hujan, mempermudah sirkulasi udara dan menyimpan barang.

Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atap sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah. Bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasau bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.

Fungsi dari Rumah Adat Kajang Lako

1 Ruang Pelamban

Ruangan yang ada di sebelah kiri ini dibuat dari bambu belah yang diawetkan. Susunannya dibauat jarang agar air bisa mudah mengalir. Ruang ini digunakan sebagai ruang tunggu tamu yang belum diizinkan untuk masuk.

2. Gaho

Gaho juga berada di sebelah kiri dengan bentuk memanjang. Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan barang dan persediaan makanan. Di dalam ruangan ini terdapat ukuran dengan motif ikan pada dindingnya.

3. Masinding

Ruangan ini terdapat di bagian depan. Fungsi dari ruangan ini ialah untuk melaksanakan ritual kenduri ataupun melakukan musyawarah. Inilah alasannya mengapa ruangan ini dibuat dengan cukup luas. Pada dinding ruangan ini terdapat ukiran bermotif seperti motif tampuk manggis, motif bungo tanjung dan motif bungi jeruk.

4. Ruang Tengah

Ruangan ini terletak di tengah-tengah rumah adat jambi dan tidak terpisah dengan ruang masinding. Ketika kenduri sedang berlangsung, ruang tengah ini akan ditempati para wanita.

5. Ruang Dalam atau Menalam

Ruang ini dibagi menjadi beberapa ruangan. Di antaranya kamar tidur anak perempuan, kamar tidur orang tua dan ruang makan. Tamu yang berkunjung tidak akan diizinkan untuk mengisi ruangan ini.

6. Ruang Balik Malintang

Ruangan ini terletak di kanan dan menghadap ke ruang tengah dan ruang masiding. Lantai di ruangan ini dibuat lebih tinggi dibanding dengan ruang lainnya.

7. Ruang Bauman

Ruangan ini menjadi satu-satunya di rumah adat Jambi yang tidak berlantai dan tidak berdinding. Fungsinya untuk kegiatan memasak saat ada kenduri ataupun kegiatan lain.

Sumber: kebudayaan.kemendikbud.go.id, elizato.com.

Rumah Baloy Kalimantan Utara

Sebuah provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia. Ya provinsi itu bernama Kalimantan Utara. Provinsi termuda yang diresmikan pada tanggal 25 Oktober 2012 ini memiliki rumah adat bernama Baloy.

Rumah Baloy merupakan rumah adat yang terkenal dari Kalimantan Utara. Bentuk bangunannya terlihat modern dan modis karena hasil pengembangan arsitektur Dayak. Dari Rumah Panjang (Rumah Lamin) yang dihasilkan oleh Masyarakat suku Tidung. Suku ini merupakan suku asli di Kalimantan Utara.

Rumah Baloy dibangun menghadap ke utara, sedangkan pintu utamanya menghadap ke selatan. Baloy terbuat dari bahan dasar kayu Ulin.

Karakteristik Rumah Baloy

Dalam rumah adat Baloy terdapat empat ruang utama yang biasa disebut Ambir, yaitu:

1 Ambir Kiri (Alad Kait)

Ruangan atau tempat yang dijadikan untuk menerima masyarakat yang ingin mengadukan perkara atau membahas masalah adat.

2. Ambir Tengah (Lamin Bantong)

Tempat utama pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara sebuah masalah adat.

3. Ambir Kanan (Ulad Kemagot)

Bagian ini merupakan ruangan yang digunakan untuk beristirahat atau ruang untuk berdamai setelah selesainnya perkara adat.

4. Lamin Dalom

Singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.

Lubung Kilong

Sebuah bangunan ditengah kolam. Bangunan ini merupakan sebuah tempat untuk menampilkan kesenian suku Tidung, seperti Tarian Jepen.

Lubung Intamu

Di belakang Lubung Kilong ini, ada sebuah bangunan besar yang diberi nama Lubung Intamu. Tempat pertemuan masyarakat adat yang lebih besar, seperti acara pelantikan (pentabalan) pemangku adat atau untuk acara musyawarah masyarakat adat se-Kalimantan.

Ciri Khas Rumah Adat Kalimantan Timur

Baloy memiliki keunikan yang menjadi ciri khasnya yaitu menggambarkan pola hidup masyarakat Suku Tidung. Berikut ini ciri khas yang menjadi perbedaan dengan rumah adat lainnya.

1 Ukiran dengan motif kehidupan laut di bagian risplang dan bagian atap rumah. Menggambarkan bahwa masyarakat suku Tidung bermata pencaharian sebagai nelayan.

2. Ruangan di dalam rumah adat Baloy fungsinya berhubungan dengan aktivitas kehidupan sosial masyarakat. Hal ini menunjukan masyarakat suku Tidung adalah masyarakat yang memiliki jiwa sosial.

3. Rumah Baloy biasanya dibangun menghadap ke Utara dengan posisi utama menghadap ke selatan.

Sumber: Pustakaborneo.id, Situsbudaya.id.

Sulah Nyanda, Rumah Adat Suku Baduy

Suku Baduy merupakan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan wilayah kabupaten Lebak, provinsi Banten. Suku ini terbagi menjadi dua, ada yang dinamakan Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Baduy Dalam dapat dikatakan merupakan inti dari masyarakat Baduy. Mereka disini masih mempertahankan adat tradisi dengan teguh. Sementara masyarakat Baduy Luar tinggal di desa-desa disekitar Baduy Dalam. Sekalipun masih bersaudara, masyarakat Baduy Luar sudah mulai melepaskan diri dari adat dan mulai mengikuti perkembangan.

Suku asli dari Banten ini memiliki rumah adat yang bernama Sulah Nyunda. Konstruksi bangunannya merupakan rumah panggung dengan material bangunan yang terdapat disekitar lokasi.

Bangunan ini dibuat tinggi dalam bentuk rumah panggung yang harus mengikuti kontur tanah. Bagian tanah yang permukaannya miring atau tidak rata, rumah disangga dengan tumpukan batu kali. Fungsinya sebagai tiang penyangga bangunan agar tanah tidak longsor.

Atapnya berasal dari daun yang bernama sulah nyanda. Nyanda memiliki arti sikap bersandar, sandarannya tidak lurus tetapi agak rebah ke belakang. Salah satu bagian sulah nyanda ini dibuat lebih panjang & memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap.

Bilik dan pintu terbuat dari anyaman bambu yang dianyam secara vertikal. Teknik anyaman tersebut dikenal dengan nama sarigsig. Dibuat hanya dengan berdasarkan perkiraan, tidak diukur terlebih dahulu. Sedangkan bagian kunci rumah dibuat dengan memalangkan dua buah kayu yang ditarik atau didorong dari bagian luar rumah.

Struktur Bangunan

Rumah adat Sulah Nyanda dibagi dalam 3 ruangan yaitu bagian sosoro (depan), tepas (tengah) dan ipah (belakang).

1 Sosoro (bagian depan)

Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu dari luar daerah dengan menggunakan golodog (serambi luar dan jalan masuk ke rumah). Saroso ini bisa disebut juga teras atau ruang depan. Kegunaan lainnya yaitu sebagai tempat bersantai dan menenun bagi kaum perempuan.

2. Tepas (bagian tengah)

Tepas berada di samping dan bentuknya memanjang ke belakang. Digunakan sebagai ruang kegiatan bersama anggota keluarga sampai bisa dipakai sebagai tempat tidur pada malam harinya. Dengan kata lain ruangan ini merupakan inti rumah.

3. Ipah (bagian belakang)

Merupakan ruangan belakang rumah yang digunakan sebagai penyimpanan persediaan makanan pokok seperti beras, jagung, lauk pauk dan lainnya. Ruangan ini juga digunakan sebagai dapur tempat memasak.

Ciri khas

Dikutip dari goodnewsfromindonesia berikut beberapa ciri khas rumah adat Sulah Nyanda.

1 Rumah dibangun dengan model rumah panggung, sehingga bagian bawah tak menyentuh permukaan tanah

2. Penyangga untuk pondasi rumah adat Banten menggunakan batu yang menyangga setiap tiang,

3. Bahan baku rumah adat ini didominasi oleh material kayu, berlaku juga untuk dindingnya.

4. Umumnya bangunan memiliki dua bagian atap, kiri dan kanan. Bagian kiri biasanya memiliki bentuk yang lebih panjang dari pada atap kanan.

5. Bagian atapnya menggunakan material daun kelapa atau ijuk.

6. Seluruh rumah adat Baduy ini dibangun tanpa jendela

7. Material lantai dibangun menggunakan potongan-potongan bambu.

Sumber: goodnewsfromindonesia.id, rumahadatdiindonesia.

Lima Tingkatan Rumah Limas Sumatera Selatan

Merupakan prototipe rumah tradisional Sumatera Selatan, rumah Limas memiliki ciri atapnya berbentuk limas. Bangunan yang bertingkat-tingkat ini mengandung filosofi budaya untuk setiap tingkatannya.

Hampir seluruh bangunan rumah terbuat dari kayu. Pemilihan bahan kayu karena menyesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan. Kayu yang digunakan pun merupakan kayu unggulan dan katanya hanya tumbuh subur di daerah Sumatera Selatan.

Bagian pondasi menggunakan kayu Unglen. Kayu ini juga memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap air. Untuk bagian kerangka terbuat dari kayu Seru. Cukup langka dan sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah rumah. Mengapa demikian? karena dalam kebudayaan masyarakat kayu Seru dilarang untuk diinjak dan dilangkahi. Khusus dinding, lantai, jendela dan pintu menggunakan kayu Tembesu.

Kentalnya budaya Sumatera Selatan bisa terlihat dari seni ukiran dan ornamen pintu, dinding, maupun atap rumah Limas yang menggambarkan nilai-nilai kebudayaan setempat.

Selain bentuk limas, juga tampilannya tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiang yang dipancang ke dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan.

Tingkatan

Adat yang kental sangat mendasari pembangunan rumah Limas. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing. Hal ini menjadi simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat. Yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat.

Rumah Limas yang terdiri dari lima tingkat ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Yuks simak ulasannya berikut ini:

1 Pagar Tenggalung

Ruangannya tidak memiliki dinding pembatas, sama seperti halnya beranda. Berfungsi sebagai tempat menerima tamu yang datang pada saat ada acara adat.

2. Jogan

Digunakan sebagai tempat berkumpul khusus pria.

3. Kekijing Ketiga

Posisi lantai lebih tinggi dan diberi batas dengan menggunakan penyekat. Biasanya digunakan sebagai tempat menerima para undangan dalam suatu acara hajatan atau pesta.

4. Kekijing Keempat

Tentu saja tingkatan ini memiliki posisi lebih tinggi lagi. Orang-orang yang mengisi ruangan ini pun memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dan dihormati. Seperti undangan yang lebih tua, dapunto dan datuk.

5. Gegajah

Ruangan kelima ini memiliki ukuran terluas. Di dalamnya terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan danamben keluarga.

Amben adalah balai musyawarah. Amben tetuo sendiri digunakan sebagai tempat tuan rumah menerima tamu kehormatan serta juga sebagai tempat pelaminan pengantin dalam acara perkawinan.

Dibandingkan dengan ruangan lainnya, gegajah merupakan yang paling istimewa sebab memiliki kedudukan privasi yang sangat tinggi

Di Indonesia, rumah Limas banyak terdapat di daerah Sumatera Selatan. Sedangkan di Malaysia, rumah Limas dapat dijumpai di Johor, Selangor dan Terengganu.

Sumber: gosumatra.com, Indonesia.go.id

pesona travel

Keunikan Rumah Tongkonan Khas Toraja

Rumah adat Tongkonan terbuat dari kayu yang banyak tumbuh di Sulawesi, yaitu kayu Uru. Atapnya terbuat dari bambu, memiliki ciri khas menyerupai perahu. Hal ini menjadi pengingat bahwa leluhur masyarakat Toraja menggunakan perahu untuk sampai ke Sulawesi.

Tongkonan berasal dari kata Tongkon yang berarti ‘menduduki’ atau ‘tempat duduk’. Disebut seperti itu karena pada awalnya rumah adat ini dijadikan sebagai tempat berkumpul para bangsawan Tana Toraja untuk berdiskusi.

Di setiap rumah, kamu akan menemukan kepala kerbau serta tanduk-tanduk pada tiang utama di setiap rumah. Semakin banyak tanduk kerbau semakin tinggi derajat keluarga tersebut. Di beberapa rumah juga ada beberapa patung kepala ayam atau naga yang menandakan jika pemilik rumah adalah orang yang dituakan.

Konon, filosofi pembagian ruangan ini tidak boleh dilanggar, karena dipercaya menyebabkan petaka. Apasaja bagian-bagian dari rumah ini? Bagian dalam rumah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian selatan, tengah dan utara. Masing-masing memiliki fungsi. Seperti misalnya bagian selatan (Sumbung) untuk kepala keluarga. Bagian tengah (Sali) untuk pertemuan keluarga, dapur, tempat makan dan tempat meletakan orang yang sudah meninggal. Bagian utara untuk ruang tamu, tempat meletakan sesaji dan juga tempat tidur anak-anak.

Keunikan dari Rumah Tongkonan Khas Toraja
Hiasan lambang status sosial

Patung kepala Kerbau pada bagian atas rumah jangan dikira sebagai hiasan belaka. Terdiri dari tiga warna yaitu warna putih, hitam dan belang atau bule ternyata kepala kerbau ini memiliki makna tentang kemampuan ekonomi pemilik rumah.

Pada saat melakukan upacara adat di Tana Toraja pasti menggunakan Kerbau sebagai hewan kurbannya. Harga satu kerbau hitam per ekor kira-kira sekitar Rp 60 juta. Kerbau belang atau bule harganya sekitar Rp. 600 juta sampai Rp 1 miliar per ekor. Jadi, semakin banyak tanduk kerbau yang berderet di atas rumah maka semakin tinggi derajat keluarga tersebut.

Ukiran dinding yang khas

Dinding rumah adat Tongkohan terbuat dari tanah liat. Biasanya memiliki warna yang berbeda pada keempat sisinya. Keempat warna tersebut yaitu merah, kuning, putih dan hitam.

Masing-masing warna memiliki arti. Seperti merah melambangkan kehidupan manusia. Kuning melambangkan kekuatan duniawi atau sang pencipta. Warna putih melambangkan kesucian dan warna hitam melambangkan kematian atau duka. Keempat warna tersebut mempengaruhi kehidupan manusia dalam bangunan rumah tersebut.

Pesona travel, mantabz

Rumah Gadang, Arsitektur Khas Minangkabau

Puncak atapnya yang melengkung dan runcing menyerupai tanduk Kerbau inilah yang menjadi ciri khas dari rumah Gadang. Dahulu terbuat dari material ijuk sehingga bisa tahan sampai puluhan tahun. Namun dewasa ini, atapnya banyak berganti dengan atap seng.

Rumah yang memiliki sebutan lain Bagonjong ini memiliki daya tarik sendiri. Sempat tampil juga di balik uang koin 100 keluaran Bank Indonesia pada 1970-an silam.

Memiliki bentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian, bagian muka dan belakang. Bagian muka biasanya penuh dengan ukiran ornamen bermotif akar, bunga, daun dan bidang persegi empat serta genjang. Sedangkan bagian belakang dilapisi dengan belahan bambu.

Konsep dari bangunan ini yaitu bertopang pada tiang kayu yang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu diatas batu datar yang kuat dan lebar. Dengan ketinggian tiang mencapai 2 meter membuat penghuninya bisa merasakan keamanan dari serangan hewan buas pada zaman dahulu.

Selain aman terhadap serangan hewan buas, konsep ini juga sangat memperhatikan daerah Minangkabau yang rawan terhadap gempa karena berada di pegunungan Bukit Barisan. Sehingga konsep arsitektur ini terbilang aman dari gempa.

Mengapa aman terhadap gempa? Karena seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku. Namun memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Ketika gempa terjadi rumah akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tiang berdiri. Begitupula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu akan bergerak fleksibel.

Sumber: Wikipedia, 99.co

Rumah Panjang Khas Kalimantan Barat

Rumah panjang merupakan rumah tradisional masyarakat Dayak yang berada di beberapa daerah di Kalimantan. Namun terdapat beberapa penyebutan yang berbeda. Misalnya saja Betang atau Radakng untuk daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Sedangkan Balai untuk Kalimantan Selatan dan Lamin untuk Kalimantan Timur.

Pada umumnya rumah panjang yang satu dengan yang lainnya memiliki bentuk dan komponen arsitektur hampir sama. Yaitu berbentuk rumah panggung dengan tiang penyangga setinggi satu hingga dua meter.

Di dalamnya terdapat satu aula panjang dan puluhan bilik yang memanjang dibelakang aula. Ada puluhan keluarga yang tinggal di bilik-bilik tersebut. Masing-masing keluarga mendiami satu bilik.

Ciri Khas

Rumah adat ini mempunyai tinggi sekitar 5 sampai 8 meter. Tinggi tersebut tergantung dari tinggi tiang yang menopang rumah. Kemudian memiliki panjang sekitar 180 meter dan lebar 6 meter serta ruangannya ada sekitar 50 ruangan.

Untuk akses keluar masuk rumah harus menggunakan tangga atau anak tangga. Bentuk rumahnya sempit tetapi memiliki ukuran yang panjang.

Rumah panjang mempunyai ciri utama berupa rumah panggung yang terdiri atas beberapa bagian. Pada Radakng Sahapm di Kalimantan Barat, komponen horizontalnya sebagai berikut:

1 Tangga naik (tanga nai’) yaitu berupa tangga dari kayu atau batang pohon bulat sepanjang dua sampai tiga meter. Biasanya satu rumah panjang mempunyai dua buah tangga naik yang terletak di sebelah kiri dan kanan, tetapi ada juga yang hanya mempunyai satu tangga yang diletakan di tengah-tengah.

2. Pante atau serambi, terdepan dengan lantai kayu yang terbuka (tanpa atap) biasanya letaknya lebih rendah daripada serambi yang sebenarnya.

3. Serambi (serambi depan yang lebih tinggi dari pante).

4. Sami’atau aula adalah satu ruangan luas semacam aula yang memanjang di depan deretan puluhan bilik-bilik. Memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuk ke bilik, tempat rapat, tempat menyelenggarakan pesta adat dan tempat tidur bagi tamu yang menginap.

5. Kamar keluarga atau bilik.

6. Dapur.

7. Jungkar merupakan ruangan tambahan di belakang masing-masing dengan atap menyambung atap rumah panjang. Biasanya terdiri atas dapur, tempat cuci piring, tungku perapian, dan tempat menyimpan padi yang disebut jurokng.

Bentuk rumah

Terdiri dari beberapa bagian yaitu teras (pante), ruang tamu (samik) dan ruang keluarga. Dalam ruang tamu terdapat sebuah meja yang disebut pane yang berfungsi sebagai tempat berbicara atau menerima tamu. Ruang keluarga adalah ruang sederhana yang mempunyai panjang 6 meter dan lebar 6 meter. Dan pada bagian belakang digunakan sebagai tempat dapur keluarga.

Fungsi Rumah

Digunakan sebagai tempat tinggal beberapa keluarga. Akan tetapi selain untuk rumah tinggal berfungsi juga untuk menghindari serangan binatang buas. Dari tingginya lah bisa menjaga keselamatan keluarga dari serangan suku-suku lain dalam masyarakat Dayak. Di sini juga sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan masyarakat seperti rapat atau pertemuan-pertemuan serta upacara-upacara adat.

Sumber: researchgate.net Wikipedia,

Rumah Boyang dari Sulawesi Barat

Sulawesi Barat, sebuah provinsi baru di Indonesia yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan. Telah menjadi provinsi ke-33 yang diresmikan sejak 05 Oktober 2004 berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004.

Provinsi baru ini tentu saja memiliki beragam kebudayaan. Misalnya saja rumah adat. Sulawesi Barat memiliki rumah adat yang bernama rumah Boyang.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah tradisional Indonesia, rumah Boyang ini memiliki struktur rumah panggung dengan menggunakan material kayu. Ditopang oleh beberapa tiang yang terbuat dari kayu berukuran besar dengan tinggi kurang lebih sekitar dua meter. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk menopang lantai dan atap rumah. Tiangnya tidak ditancapkan ke dalam tanah melainkan hanya ditumpangkan di sebuah batu datar untuk mencegah kayu melapuk.

Bangunan ini juga memiliki dua buah tangga yang terletak di bagian depan dan belakang. Tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, umumnya 7 sampai 13 buah dan dilengkapi dengan sebuah pegangan di bagian sisi kanan dan kiri tangga. Sedangkan dinding dan lantai rumah menggunakan material papan yang telah diukir sesuai dengan motif khas suku mandar.

Atap rumah Boyang berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah. Umumnya terbuat dari seng, tetapi sebagian ada yang menggunakan daun rumbia dan sirap. Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar (penutup bubungan) yang memberi identitas tentang status sosial bagi penghuninya. Penutup bubungan juga dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Kemudian di bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas yang disebut “teppang”.

Bagian-bagian Rumah Boyang

Pada umumnya rumah adat Boyang terdapat tujuh pembagian ruangan. Dimana 3 bagian merupakan lotang utama dan empat lainnya merupakan lotang tambahan.

Lotang Utama

Samboyang

Ruangan yang terletak di bagian depan rumah atau disebut dengan teras. Fungsinya digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu bila sedang bermalam. Selain itu, ruangan ini bisa juga digunakan untuk melakukan kegiatan yang dilakukan di dalam rumah, seperti hajatan dan juga tempat membaringkan jenazah sebelum dikuburkan.

Tangnya Boyang

Terletak di bagian tengah dari rumah dan berfungsi untuk berkumpul bersama keluarga. Ukurannya lebih luas jika dibandingkan dengan samboyang.

Bui Boyang

Merupakan tempat yang berupa kamar dan berada di bagian belakang dari Biyang. Kamar ini disebut dengan songi dan ditempati oleh pemilik dari rumah tersebut.

Lotang Tambahan

Tapang

Ruangan ini merupakan loteng yang letaknya berada di atas dan fungsinya sebagai gudang atau tempat menyimpan barang. Dulunya, tapang digunakan sebagai tempat bagi calon pengantin untuk berdiam diri dan mengikuti adat istiadat yang berlaku di suku tersebut.

Paceko

Paceko merupakan istilah yang digunakan masyarakat Sulawesi Barat yang memiliki arti dapur. Letaknya menyilang dari bangunan bagian utama rumah Boyang. Seperti halnya fungsi dapur pada umumnya. Paceko juga berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan-bahan makanan serta tempat memasak.

Lego-lego

Ruangan lego-lego merupakan teras dengan atap diatasnya, namun tidak berdinding. Beberapa orang menyebut bentuk lego-lego mirip seperti beranda. Fungsinya sebagai area bersantai pada sore hari.

Naon Boyang

Ruangan pada rumah adat Sulawesi Barat ini merupakan kolong rumah yang terletak dibawah bangunan dan beralaskan tanah. Biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan ternak.

Beberapa orang juga menggunakan tempat ini sebagai tempat manette atau menenun kain sarung. Kegiatan penenunan ini biasanya dilakukan perempuan suku setempat untuk mengisi waktu senggang.

Sumber: Celebes.co, Wikipedia, Ssckanesa-dua.

Ciri Khas Rumah Adat Lampung Nowou Sesat

Sebuah provinsi yang berada paling selatan di Pulau Sumatera, Lampung namanya. Provinsi ini memiliki beragam seni dan budaya, termasuk rumah adat. Ya, rumah adat Nuwou Sesat yang berasal dari sini.

Nuwo artinya rumah dan sesat berarti adat. Jadi rumah adat ini berfungsi sebagai balai pertemuan adat. Tempat para purwatin (penyimbang) mengadakan pepung adat (musyawarah). Maka dari itu balai ini juga disebut Nuwo Sesat Balai Agung.

Bagian-bagian dari bangunan adat Nowou Sesat terdiri dari:

1 Ijan Geladak yaitu tangga masuk.

2. Rurung Agung atau atap bangunan.

3. Anjungan atau serambi adalah sebuah tempat yang digunakan untuk pertemuan kecil.

4. Pusiban merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat musyawarah resmi.

5. Ruang Gajah Merem merupakan tempat istirahat untuk para penyimbang adat.

Pembagian ruangan

Tata ruangan pada rumah adat Nowou Sesat didasarkan pada pola sosial yang ada di dalam masyarakat setempat. Beberapa pembagian ruangannya adalah tepas, agung, kebik tengah, gaghang, dapur dan ganyang besi.

1 Ruang tepas

Bagian serambi yang terbuka di bagian depan rumah berhubungan dengan ijan ke rumah panggung. Bagian ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan sebagai ruang berdiskusi dalam mencapai permufakatan. Tetapi pada siang hari, ruangan ini juga bisa digunakan oleh anggota keluarga untuk beristirahat.

2. Ruang agung

Sebuah ruangan yang berada lebih tinggi daripada tepas. Ruangan ini berfungsi sebagai ruangan merwatin (generasi muda mufakat). Posisi ketinggian dari ruangan ini menunjukan hirarki yang lebih tinggi karena cerminan Sakai Sambayan atau mufakat.

3. Ruang gaghang

Berfungsi sebagai ruangan kebersihan, karena disinilah tempat untuk mencuci peralatan rumah tangga. Sedangkan dapur digunakan untuk memasak makanan.

4. Ruang gayang besi

Ruangan yang digunakan untuk sanak saudara yang belum memiliki suami atau istri.

Ciri khas

Pada bagian atas jambat agung ini terdapat hiasan payung-payung berwarna putih, kuning dan merah. Ketiganya mempunyai arti sendiri-sendiri. Payung yang berwarna putih memiliki arti tingkat marga yang dimiliki. Payung berwarna kuning melambangkan tingkat kampung, sedangkan yang berwarna merah melambangkan tingkat suku di Lampung.

Bila dilihat di teras rumah, setelah tangga akan ada serambi yang disebut dengan anjungan. Fungsinya yaitu sebagai tempat bermain sambil bersantai antara penghuni rumah dengan tetangga. Selain itu, secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang.

Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Zaman dahulu rumah adat ini beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting. Perubahan rumah adat Lampung dapat dilihat antara lain pada ruang di bawah rumah yang disebut Bah Nuwo. Sekarang rumah adat Nuwo Sesat tidak lagi menjadi ruang pertemuan tetua adat, tetapi sebagai tempat tinggal biasa.

Malahayati.ac.id, Wikipedia, Daerahkita.

Open chat
1
Contact us
Powered by