• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Gapura Candi Bentar, Rumah Adat Khas Bali

Gapura Candi Bentar, Rumah Adat Khas Bali

Gapura Candi Bentar, sebuah rumah adat yang berasal dari daerah Bali. Nama ini diambil dari bentuk bangunannya yang berupa gapura. Gapura tersebut terdiri dari dua bangunan Candi yang serupa dan sebangun membatasi sisi kiri dan sisi kanan pintu masuk ke pekarangan rumah. Gapura tersebut tidak memiliki atap penghubung pada bagian atasnya sehingga kedua sisinya terpisah sempurna.

Bangunan ini juga mempunyai julukan sebagai gerbang terbelah. Hal ini karena bentuknya seperti melukiskan satu bangunan candi yang sudah dibelah menjadi dua.

Bagian dan Fungsi

Rumah adat Gapura Candi Bentar memiliki bagian-bagian dan fungsi tiap ruangannya. Berikut ini ulasan selengkapnya

  1. Sanggah atau Pamerajan adalah tempat suci bagi keluarga.
  2. Panginjeng Karang merupakan tempat memuja roh yang menjaga pekarangan
  3. Bale Manten atau Bale Daja, ruang tidur untuk kepala keluarga atau anak gadis. Selain itu, bisa juga sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang berharga. Bale ini disebut juga dengan Bale Daja karena ada di area utara atau Kaja.
  4. Bale Gede/ Bale Adat adalah tempat upacara lingkaran hidup dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai bale serbaguna.
  5. Bale dauh berfungsi sebagai tempat kerja, pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki.
  6. Bale Dangin memiliki fungsi sebagai tempat upacara adat. Tapi jika sedang tidak dipakai, maka akan dipakai untuk tidur atau tempat beristirahat.
  7. Paon berupa dapur tempat memasak dan berfungsi sebagai lumbung (tempat menyimpan padi dan hasil bumi).

Jika keturunan raja dan brahmana, pekarangan rumahnya dibagi menjadi tiga bagian, berikut:

  1. Njaba sisi (pekarangan depan)
  2. Njaba tengah (pekarangan tengah)
  3. Njero (pekarangan untuk tempat tinggal)

Material Pembuatan Rumah

Bahan bangunan yang digunakan bisa disesuaikan dengan kemampuan pemiliknya (kondisi ekonominya). Masyarakat Bali bisa menggunakan Popolan (tanah liat) untuk dinding bangunan. Sedangkan untuk golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan batu bata merah.

Bagian tempat suci atau tempat pemujaan, baik itu milik satu keluarga atau kumpulan kekerabatan digunakan sesuai dengan kemampuan ekonomi pemiliknya. Misalnya, bagi yang memiliki uang lebih dapat menggunakan bahan untuk atap dari ijuk, sedangkan bagi yang keuangannya terbatas diperkenankan menggunakan alang-alang atau genting.

Sumber: Wikipedia, academia.edu.

Rina Marlina

You must be logged in to post a comment.

Open chat
1
Contact us
Powered by