Rumah adat yang dijuluki dengan kaki seribu ini memilki nama Mod Aki Aksa atau Igkojei. Biasanya digunakan oleh penduduk yang tinggal di daerah pegunungan dan berhawa dingin.

Mengapa disebut rumah kaki seribu? Karena memiliki bentuk rumah panggung dengan tiang pondasi yang tersebar di seluruh bagian bawah bangunan. Sehingga tiang yang berjumlah banyak ini terlihat mirip seperti hewan kaki seribu.

Pada umumnya memiliki ukuran 8 x 6 meter. Tinggi dari permukaan tanah sekitar 1-1,5 meter. Jika sampai puncak tingginya bisa mencapai sekitar 4,5 – 5 meter.

Tiangnya terbuat dari kayu yang berdiameter 10 cm. Dibuat dengan jarak yang sangat dekat antara tiang satu dengan lainnya, yaitu sekitar 30 cm. Sementara itu, untuk lantai dan dinding, terbuat dari kulit kayu yang dilebarkan dan diikat dengan rapat. Kemudian dibalut dengan batang-batang kayu yang berukuran lebih kecil.

Baca juga: Rumah Adat Papua dan Penjelasannya

Bagian atapnya terbuat dari daun jerami atau daun sagu yang diikatkan pada penyangga.

Terdapat keunikan lainnya yaitu, rumah ini hanya memiliki dua pintu, depan dan belakang. Bahkan jika dilihat-lihat jendela pun tidak ada. Bukan tanpa alasan, desain tiang penyangga yang banyak dan bangunan tertutup ini memiliki fungsi untuk menghindari serangan binatang buas, udara dingin dan bencana alam.

Bagian-bagian dari rumah adat kaki seribu terdiri dari dua bagian. Ada bagian kiri untuk kaum wanita (ngismi) dan bagian kanan untuk kaum pria (ngimdi). Selain itu, terdapat juga perapian untuk menghangatkan ruangan.

Sama seperti rumah adat pada umumnya, rumah Kaki Seribu juga dihuni oleh beberapa keluarga.

Tetapi, seiring dengan perkembangan globalisasi, keberadaan rumah adat kaki seribu sudah jarang ditemukan. Masyarakat yang masih setia menggunakan rumah ini adalah penduduk asli Arfak yang berada di wilayah tengah pegunungan Arfak.

Sumber: Phinemo, wikipedia

RELATED ARTICLES

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us