Provinsi Maluku Utara memiliki rumah adat yang bernama rumah Sasadu dan rumah adat Hibualamo. Walaupun berasal dari daerah yang sama, tentu saja keduanya memiliki perbedaan. Yuk langsung saja kita bahas rumah adat Maluku Utara dan Penjelasannya.

1. Rumah Sasadu

https://travel.detik.com

Rumah adat Sasadu berasal dari Maluku Utara tepatnya dari Halmahera Barat. Nama Sasadu sendiri berasal dari kata sasa yang memiliki arti besar dan tatadus yang berarti berlindung. Sehingga bisa kita simpulkan sebagai rumah besar yang berfungsi untuk berlindung.

Tak seperti kebanyakan rumah adat lainnya yang berbentuk panggung. Rumah Sasadu ini bangunannya menyatu langsung dengan permukaan tanah sebagai lantainya. Bentuknya terdiri dari satu ruangan saja tanpa sekat. Tidak memiliki dinding sehingga terbuka dan yang terlihat hanya tiang-tiang penopang saja.

Sementara itu, material kayu untuk tiang berasal dari batang pohon sagu. Tiang penopangnya mereka hubungkan dengan menggunakan balok penguat. Tanpa menggunakan paku hanya merekatkannya pada tiang dengan menggunakan pasak kayu.

Baca Selanjutnya: Yuk Cari Tahu Rumah Adat Maluku dan Penjelasannya

2. Rumah Adat Hibualamo

https://gpswisataindonesia.info/

Hibualamo merupakan rumah adat suku bangsa yang bermukim di Halmahera. Menurut perkirakan telah ada sejak tahun 1400-an.

Berdasarkan bahasa masyarakat setempat ‘hibua’ berarti rumah dan ‘lamo’ berarti besar. Sehingga Hibualamo memiliki arti sebagai rumah besar.

Mengutip dari wikipedia, rumah adat ini terbilang baru. Baru berdiri kembali pada April 2007 silam. Pada tahun 1999 sampai 2001 rumah ini menjadi simbol perdamaian pasca konflik. Oleh sebab itu, pembangunan juga mengalami perkembangan dibandingkan dengan bentuk aslinya yang berupa rumah panggung.

Bentuk asli dari rumah adat ini berada di Pulau Kakara, Halmahera Utara yang disebut dengan rumah Hibualamo Tobelo. Bangunan ini kembali berdiri karena memiliki arti tersendiri terhadap persatuan.

Konstruksi dari rumah adat ini menyerupai perahu. Sehingga bisa mencerminkan kehidupan kemaritiman suku Tobelo dan Galela yang ada di pesisir. Bangunannya memiliki bentuk segi delapan dan memiliki 4 pintu masuk yang menunjukan simbol empat arah mata angin. Semua orang yang berada dalam rumah adat saling duduk berhadapan yang menunjukan kesetaraan dan kesatuan.

Mengutip dari gpswisataindonesia.info, rumah adat ini berfungsi sebagai pusat kekerabatan semua warga komunitas tanpa memandang latar-belakang, asalkan ia menerima nilai-nilai hibualamo. Untuk membicarakan kepentingan dan kebutuhan bersama (hirono). Membahas upaya atau solusi atas persoalan bersama (jojobo), Merumuskan kebijakan dan aturan-peraturan menyangkut kehidupan dan kemaslahatan bersama. Pengorganisasian masyarakat, upacara adat, pertemuan antara pimpinan dan warga masyarakat.

Wikipedia, daerahkita.com.

RELATED ARTICLES

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us