Mandailing merupakan salah satu suku yang berasal dari daerah Sumatera Utara. Suku ini memiliki rumah adat yang bernama Bagas Godang. Dalam terminologi masyarakat Mandailing Bagas sebagai rumah dan Godang berarti besar. Jadi secara harfiah memiliki arti sebagai rumah besar.

Rumah ini memiliki arsitektur khas Mandailing. Berbentuk empat persegi panjang dengan menggunakan kayu berjumlah ganjil sebagai penyangganya. Kemudian ruangannya terdiri dari ruang depan, ruang tengah, ruang tidur dan dapur.

Material untuk membangun rumah adat mandailing terbuat dari bahan kayu, berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga. Memiliki pintu yang lebar dan berbunyi keras jika dibuka. Konstruksi atap berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati.

id.wikipedia.org

Mengutip dari Skripsi Putri lynna A. Luthan dengan judul Pengembangan Konsep Rumah Tinggal Tradisional Mandailing di Sumatera Utara. Sistem struktur rumah pada umumnya tidak berbeda dengan rumah tradisional yang terdiri dari tiga bagian yaitu struktur bagian bawah, struktur bagian tengah dan struktur bagian atas.

Bagian bawah terdiri dari tapak pondasi, tiang pondasi dan balok-balok lantai. Struktur bagian tengah merupakan struktur dinding, pintu dan jendela. Sementara struktur bagian atas merupakan struktur atap dan penutup atap serta atap gable berikut ragam hiasnya.

Berikut struktur rumah tradisional Mandailing. Langsung saja simak ulasannya.

a. Pondasi

Secara keseluruhan bentuk dan sistem pondasi rumah tradisional Mandailing baik rumah raja dan rakyat terdiri dari susunan tiang-tiang kayu berbentuk segi delapan. Tiang tersebut mereka letakan pada bagian atas batu kali yang pipih tanpa ada ikatan atau sambungan layaknya rumah-rumah panggung saat ini. Hal ini dikemukakan oleh, Luthan PLA, dkk (2013), bahwa sistem konstruksi tersebut akan mempengaruhi sistem religi atau sistem kepercayaan dari masyarakat tersebut. Sedangkan bentuk daripada tiang merupakan sistem kepemimpinan dari masyarakat tersebut.

b. Tiang

Pada rumah raja, tiangnya berbentuk segi delapan, terkenal dengan sebutan tarah salapan. Menandakan bahwa pembangunan Sopo Godang (balai sindang adat) dikerjakan secara gotong royong oleh penduduk di seluruh penjuru mata angin (yaitu delapan arah) (Nasution, IN dan Pandapotan 2005).

Sedangkan pada rumah rakyat bentuknya adalah persegi empat. Hal ini menunjukan sistem kepemimpinan dari penghuninya.

c. Balok lantai

Sistem struktur untuk balok lantai pada rumah-rumah tradisional Mandailing menggunakan material kayu dengan sistem struktur pasak (knock down). Proses pengerjaanya yaitu dengan cara melubangi tiang bagian atas yang merupakan pertemuan tiang dan balok lantai. Kemudian balok lantai tersebut dimasukan pada tiang yang telah dilubangi tersebut. Balok terdiri dari balok induk melintang dan memanjang, serta balok anak yang mendukung lantai bangunan. Sambungan atau ikatan antar balok dan tiang hanya menga

d. Dinding

Pada umumnya terbuat dari bilah-bilah papan. Sambungan antara papan menggunakan sistem lidah yang menggunakan paku ke tiang tambahan. Dinding dipasang secara horizontal pada sekeliling bangunan dan begitu juga dengan pembatas antar ruang. Sedangkan pembatas ruang pada serambi depan dan belakang berupa pagar yang terbuat dari besi profil yang bermotif dan kayu profil (Luthan PLA, dkk, 2014).

e. Pintu dan Jendela

Pintu dan jendela rumah tradisional Mandailing berbentuk panel. Pada sebagian rumah raja bagian atas terdapat ventilasi tambahan motif sisir dan sebagian rumah, termasuk rumah rakyat, tidak memiliki ventilasi tambahan.

Baca juga: Bentuk Rumah Adat Joglo

f. Tangga

Bentuk tangga pada rumah tradisional, terutama rumah raja tandanya yaitu menggunakan material kayu dengan jumlah anak tangga sembilan buah. Anak tangga berjumlah sembilan memiliki makna yang sakral dan magis, yaitu mewakili sembilan tokoh adat yang berwenang dalam adat dan mewakili tiap huta dari delapan arah mata angin. Bagas Godang sebagai pusatnya.

g. Atap

Bentuk garis bubungan atap rumah tradisional Mandailing terdiri dari tiga jenis yaitu bentuk melengkung atau atap silingkung dolok pancucuran, atap sarotole dan atap sarocino. Atap melengkung dan datar memiliki gable segitiga pada bagian depan yang menjadi ciri sebagai atap rumah raja.

Fungsi Bangunan

Bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal atau kediaman raja Panusunan maupun raja Pamusuk sebagai pemimpin huta. Biasanya Bagas Godang raja Panusunan lebih besar dari raja Pamusuk. Secara adat Bagas Godang melambangkan bona bulu yang berarti bahwa huta tersebut telah memiliki satu perangkat adat yang lengkap seperti dalihan natolu, namora natoras, datu, sibaso, ulu balang, panggora dan raja Pamusuk sebagai raja adat.

Selain sebagai tempat raja, Bagas Godang juga berfungsi sebagai tempat penyelenggara upacara adat. Dan sebagai tempat perlindungan bagi anggota masyarakat yang keamanannya dijamin oleh raja.

Sumber: Media.neliti, Education and development. wikipedia.

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us