Rumah adat suku Bugis Makassar tak kalah unik dengan rumah adat lainnya. Tetapi, rumah adat ini terbagi menjadi dua. Pembagiannya berdasarkan status sosialnya, ada rumah Saoraja dan Bola.

Saoraja memiliki arti sebagai Istana yang biasanya hanya untuk keturunan raja atau kaum bangsawan. Sedangkan Bola merupakan rumah untuk masyarakat biasa.

Perbedaan Saoraja dan Bola

Saoraja ukuran rumahnya lebih luas. Tiang utamanya berbentuk tabung atau silinder yang terbuat dari kayu hitam. Sedangkan atapnya berbentuk prisma dengan penutup bubungan yang memiliki sebutan timpa’laja. Atap bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan pemiliknya.

Sedangkan Bola bentuknya lebih kecil dari Saoraja. Selain itu, Bola juga memiliki tiang-tiang yang berbentuk segi empat.

Persamaan

Kedua rumah adat ini pada dasarnya sama yaitu memiliki bentuk rumah panggung. Material untuk membangunnya menggunakan kayu yang berbentuk persegi empat panjang.

Arsitektur Rumah Adat Bugis

Dari segi arsitektur selain memiliki nilai fungsional juga mempunyai aspek kosmologi dan fisiologi. Secara umum arsitektur rumah Bugis terdiri tiga bagaian utama yaitu bagaian atap, badan dan kolong.

Gaya arsitektur bangunan rumah adat suku Bugis Makassar juga berdasarkan pada falsafah hidup dan budaya masyarakat setempat.

Bagian-Bagian Utama Rumah Adat Suku Bugis:

1. Tiang utama (Alliri)

Terdiri dari 4 batang setiap barisnya. Jumlahnya tergantung dari ruangan yang akan dibuat. Tetapi pada umumnya terdiri dari 3 atau 4 baris alliri, jadi totalnya ada 12 batang alliri.

2. Kolong Rumah (Awal Bola)

Bagian kolong terletak pada bagian bawah, yaitu antara lantai dengan tanah. Kolong ini, pada zaman dulu berguna untuk menyimpan alat pertanian, alat berburu, alat untuk menangkap ikan sampai hewan peliharaan.

Menariknya rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakan kayu.

3. Penyangga Lantai dan Penyangga Loteng (Arateng dan ware’)

Pada setiap tiang terdapat lubang segi empat untuk menyisipkan balok pipih penyangga lantai dan balok pipih penyangga loteng yang menghubungkan panjang rangka rumah. Dahulu, rumah yang tiangnya ditanam tidak menggunakan balok penyangga loteng. Sementara itu, balok penyangga lantai tidak disisipkan pada tiang, tetapi diikat.

4. Badan Rumah (Ale Bola)

Badan rumah terdiri dari lantai, dinding yang terletak antara lantai dan loteng. Pada bagian ini terdapat ruangan yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti menerima tamu, tidur, bermusyawarah dan berbagai aktivitas lainnya.

5. Pusat Rumah (Posi Bola)

Memiliki struktur dasar yang terdiri dari 3 kali 3 tiang berbentuk persegi empat dengan tiang disetiap sudutnya. Kemudian pada setiap sisi terdapat satu tiang tengah. Serta tepat di tengah persilangan panjang dan lebar terdapat tiang yang disebut “pusat rumah”.

6. Timpa’ Laja

Berasal dari bahasa Melayu timpa’ laja adalah tebar layar. Ciri yang paling menonjol adalah jumlah bilah papan yang menyusun dinding bagian muka atap rumah.

7. Tangga (Addengeng)

Hanya golongan ana’ cera’ ke atas yang berhak menggunakan tangga yang naik membujur. Bangsawan tertinggi boleh menggunakan tangga berupa latar miring tanpa anak tangga, terbuat dari bilah bilah bambu yang notabene sangat licin dan disebut sapana.

8. Tamping

Pada sisi panjang biasanya ditambahkan tamping yaitu semacam serambi memanjang yang laninya sedikit lebih rendah dengan atapnya tersendiri.

9. Rakkeang (langit-langit)

Rakkeang adalah bagian atas dari rumah adat Bugis yang berada persis pada bagian bawah ataupun langit-langit. Pada bagian ini berfungsi untuk menyimpan berbagai benda pusaka. Dahulu biasanya berfungsi untuk menyimpan padi.

10. Anjong

Selain sebagai hiasan rumah, anjong juga memiliki makna tertentu bagi orang bugis. Anjong merupakan salah satu ciri khas orang bugis. Untuk rumah orang bangsawan memiliki lebih dari dua anjong.

Sumber: Solata-sejarahbudaya.blogspot.com, nahanesia.com, gurupendidikan.co.id.

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us