Gorontalo, provinsi yang terkenal dengan julukan “Serambi Madinah” ini memiliki beberapa rumah adat. Di antaranya rumah adat Gorontalo Dulohupa, Bantayo Po Boide dan rumah adat Gobei.

Architecture.verdant.id akan mengulas satu persatu rumah adat tersebut. Namun kita mulai dengan ulasan rumah adat pertama yaitu rumah adat Dulohupa.

Rumah adat Gorontalo Dulohupa ini berasal dari Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Sulawesi Utara. biasanya disebut oleh penduduk dengan nama Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo.

Dalam artian secara harfiah, Dulohupa memiliki makna mufakat. Pemberian nama Dulohupa ini karena bangunannya difungsikan sebagai tempat bermusyawarah. Bahkan di masa pemerintahan Raja-Raja, Dulohupa difungsikan sebagai ruang pengadilan, tempat untuk memvonis para penghianat.

Bentuk

Memiliki bentuk rumah panggung dengan badan terbuat dari papan. Kemudian untuk struktur atapnya bernuansa daerah Gorontalo.

Sebagai lambang dari rumah adat Gorontalo, tentu saja rumah adat ini memliki hiasan berupa pilar-pilar kayu. Sedangkan sebagai simbol tangga adat (Tolitihu), Dulohupa memiliki dua buah tangga yang masing-masing berada di sebelah kanan dan kiri rumah.

Bagian atapnya menggunakan material dari jerami yang dianyam. Bentuknya, seperti pelana segitiga yang tersusun menjadi 2. Pelindung bagian atas tidak dibangun sembarangan. Karena bagian atap melambangkan syariat beserta adat dari masyarakat Gorontalo sendiri.

Saat ini, Dulohupa dilengkapi dengan taman bunga. Bangunan tempat penjualan cenderamata dan bangunan yang menyimpan kereta kerajaan yang disebut dengan Talanggeda.

Ciri Khas

Memiliki bentuk rumah seperti rumah panggung. Terbuat dari material kayu dan papan dengan ornamen khas Gorontalo. Kayu yang digunakan pun merupakan kayu yang berkualitas, sehingga bisa awet dan tahan lama.

Panggung rumah Dulohupa disokong oleh 2 buah pilar utama yang disebut Wolihi, 6 buah pilar pada bagian depannya dan pilar dasar sebanyak 32 buah yang disebut potu.

Selain itu, dilengkapi juga dengan dua buah tangga. Tangga tersebut berada di bagian kiri dan kanan yang menjadi simbol tangga adat atau disebut tolitihu.

Pada bagian dalam rumah, tidak terdapat banyak sekat. Jadi, ruangan dalamnya terbilang lowong. Setiap rumah Dulohupa pada umumnya terdapat anjungan yang diperutukan bagi raja dan kerabat istana.

Sumber: Wikipedia, netralnews, kebudayaan1.blogspot.com.

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us