Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), di sini terdapat rumah adat yang bernama Mbaru Niang Flores. Rumah ini tepatnya terletak di Kampung Wae Rebo di atas pegunungan dengan ketinggian 1.117 mdpl.

Bentuk Rumah Adat Mbaru Niang Flores

Mbaru Niang memiliki bentuk kerucut dengan struktur yang cukup tinggi mencapai sekitar 15 meter. Atapnya hampir menyentuh tanah dan terbuat dari daun lontar yang ditutupi ijuk. Jika diperhatikan rumah adat ini mirip dengan rumah adat Honai dari Papua.

Mengapa berbentuk kerucut? Karena dalam budaya Wae Rebo bentuk kerucut merupakan simbol perlindungan dan persatuan antar rakyat Wae Rebo

Lingkaran bentuk rumahnya, melambangkan harmonisasi dan keadilan antar warga dan keluarga.

Rumah adat ini memiliki 5 lantai (tingkat), dimana terdapat berbagai ruangan dengan fungsinya masing-masing.

Setiap lantai rumah Mbaru Niang memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda yaitu:

a. Lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga.

b. Loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.

c. Lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan.

d. Lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan.

e. Hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah adat, Mbaru Niang juga berbentuk rumah panggung. Terbuat dari kayu worok dan bambu yang dibangun tanpa paku. Tetapi menggunakan tali rotan yang kuat untuk mengikat konstruksi bangunan.

Kolong rumah tingginya sekitar 1 meter. Hal ini dibuat demikian karena ada aturan dari leluhur rumah tak boleh menyentuh tanah.

Setiap Mbaru Niang dihuni lima sampai enam kepala keluarga. Dengan total penghuni sekitar 15-20 orang

genpi.id, Indonesia.go.id, merahputih.com

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us