Istana kediaman raja Gowa bernama Balla Lompoa. Memiliki arti secara harfiah adalah rumah besar. Dikutip dari wikipedia, letaknya di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48. Lokasi tersebut merupakan situs budaya dalam sebuah komplek yang luasnya sekitar tiga hektar.

Dari segi arsitektur, rumah ini berbentuk rumah panggung yang merupakan refleksi dari rumah adat pada masa Kerajaan Gowa.

Bentuk dan Fungsi Balla Lompoa

Memiliki tiga bagian. Pertama, loteng (pammakang) yang berfungsi sebagai plafon. Kedua, bagian tengah yang merupakan badan atau kale balla berfungsi sebagai ruang tamu dan kamar tidur. Ketiga, passiringan yang berfungsi sebagai bagian bawah atau kolong rumah.

1. Bagian atas (Pammakang)

Rangkanya berbentuk prisma dan memakai tutup bubungan yang memiliki sebutan sambunglayang. Bubungan itu bertingkat lima menandakan bahwa penghuni rumah merupakan raja atau bangsawan tinggi.

2. Badan Rumah (Kale balla)

Memiliki ukuran 60 x 40 meter dan terdiri dari tiga bagian. Bagian depan memiliki sebutan paddaserang riolo, bagian tengah paddaserang ritangnga dan sedangkan bagian belakang paddaserang riboko.

3. Bagian bawah rumah (Passiringan)

Bagian bawah rumah Balla Lompoa terlihat tiang-tiang kokoh penyangga badan rumah yang berjumlah 78 buah. Terbuat dari kayu jati yang cukup kuat. Sehingga tiang ini belum pernah mengalami pergantian.

Struktur Bangunan

Struktur bangunan yang berasal dari Makassar berbeda dengan rumah adat panggung dari daerah lainnya. Karena rumah panggungnya menggunakan tiang penyangga dan tiak memakai fondasi.

1. Tiang (Benteng)

Terdapat tiang penyangga berjumlah 78 buah. Terdiri atas tiang penyangga badan rumah berjumlah 48, tiang penyangga serambi (lego-lego) berjumlah 9 buah dan serambi belakang (dapur) 21 buah.

2. Penyangga (pallangga)

Ada beberapa macam balok yang ada pada rangka rumah Balla Lompoa sebagai berikut:

a. Pallangga, terdiri atas pallangga lompo dan pallangga caddi. Untuk Pallangga Lompo yaitu balok pipih panjang melilit tiang rumah yang membujur sepanjang badan rumah. Sedangkan Pallangga caddi yaitu balok pipih yang dipasang di atas pallangga lampo sebagai penopang lantai.

b. Pattodo yaitu balok yang menjadi pasak pada tiang-tiang rumah. Akan tetapi pada rumah adat Balla Lompoa yang menjadi pasak tiang penyangga adalah pasak yang terbuat dari besi.

c. Sampong merupakan balok pipih panjang dengan pemasangan membujur sepanjang badan rumah dan menjadi tumpuan rangka atap.

d. Padangko merupakan balok pipih yang dipasang sepanjang atap rumah pada bagian paling atas. Tempat onjong depan dan belakang.

e. Tappi yaitu balok berbentuk segi tiga pada samping kiri dan kanan sambulayang.

Baca juga: Rumah Tuo Rantau Panjang Capai Usia Ratusan Tahun

3. Lantai (Dapara)

Lantai rumah Balla Lampoa terbuat dari papan kayu hitam, dipasang membujur sepanjang ruangan rumah (paddaserang). Berukuran panjang 8 meter dan lebar 60 cm. Selain itu, setiap ruang dibatasi oleh dinding yang merupakan penyekat antara ruang tamu, ruang tengah dan ruang belakang.

4. Rinring (dinding)

Dinding rumah Balla Lompoa terbuat dari papan kayu sebagai penutup dari badan rumah. Terdapat perbedaan yaitu:

a. Dinding depan (Rinring riolo), yaitu yang memiliki jendela depan.

b. Dinding hulu (Rinring uluang), yaitu dinding yang terdapat pada bagian kanan rumah.

Media.neliti.com,

RELATED ARTICLES

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us