Rumah Krong Bade merupakan rumah adat yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Terkenal juga dengan sebutan rumoh Aceh. Kini, keberadaan rumah yang memiliki tangga depan ini sudah hampir punah. Mengapa demikian? Karena saat ini sudah jarang dipakai, masyarakat setempat lebih memilih untuk tinggal di rumah modern.

Ada beberapa ciri khas atau keunikan yang dimiliki rumah ini antara lain memiliki tangga di bagian depan, memiliki ukiran pada dinding, pintu yang memiliki ukuran kurang lebih 120 – 150cm, atapnya yang terbuat dari daun rumbia dan dibangun tanpa menggunakan paku.

Berikut sedikit penjelasan tentang beberapa keunikan dari Rumah adat Krong Bade. Yuk langsung simak saja!

1. Tangga

Sebelum memasuki rumoh Aceh, pada bagian depan terdapat tangga yang untuk menuju pintu masuk utama. Tangga ini bernama reunyeun, anak tangga reunyeun pada umumnya berjumlah ganjil. Mulai dari tujuh sampai sembilan anak tangga.

“Tangga yang terdapat pada setiap rumoh Aceh umumnya memiliki jumlah anak tangga ganjil yaitu antara tujuh sampai sembilan buah anak tangga. Ketentuan jumlah anak tangga ini berdasarkan kepercayaan orang Aceh bahwa setiap jumlah hitungan selalu ada hubungan dan pengaruhnya dengan ketentuan langkah, rezeki, pertemuan dan maut.

Jadi, jika pembuatan anak tangga berjumlah ganjil antara tujuh sampai sembilan, maka anak tangga yang terakhir jatuh pada hitungan pertemuan dan langkah. Hal ini menurut orang Aceh sangat berpengaruh dan menguntungkan dalam kehidupan. Sebaliknya apabila anak tangga berjumlah delapan akan berakhir pada maut. Hal ini yang tidak dikehendaki, karena menurut kepercayaan orang Aceh apabila jumlah anak tangga berakhir pada maut, maka penghuninya atau tamu yang menaiki anak tangga rumah itu akan selalu mendapat kecelakaan” (Waardenburg, 1978:130).

2. Dinding

Memiliki ukiran-ukiran unik pada bagian dinding. Selain memiliki nilai estetika, ukiran tersebut juga sangat berpengaruh dalam menentukan tingkat ekonomi pemilik rumah. Semakin banyak jumlah ukiran maka semakin baik dan sejahtera status ekonomi penghuni rumah tersebut.

3. Pintu

Ketinggian pintu pada rumoh Aceh kurang lebih 120 -150cm. Pada umumnya tidak melebihi dahi orang dewasa, sehingga hal ini membuat siapapun yang akan masuk ke dalam rumoh Aceh kepalanya harus sedikit menunduk. Ketinggian pintu memiliki makna sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah saat memasuki rumahnya.

4. Atap

Penutup atap pada rumoh Aceh menggunakan daun rumbia. Lembaran daun rumbia yang telah disusun dan diikat dipasang mulai dari sebelah kiri sampai kanan atas. Atap disusun dengan sangat rapat, dimana jarak antar tulang daun dengan tulang daun berikutnya rata-rata hanya berjarak 1,5 – 2cm, sehingga atap Rumoh Aceh sangat tebal. Fungsinya yaitu untuk melindungi rumah dari cuaca panas.

“Atap pada rumah tradisional Aceh berbentuk atap pelana yang hanya menggunakan satu bubungan dan menggunakan bahan penutup berbahan rumbia yang memiliki andil besar dalam memperingan beban bangunan sehingga saat gempa tidak mudah roboh. Fungsi yang lain pun rumbia juga menambah kesejukan ruangan. Keburukan sifat rumbia adalah mudah terbakar. Pemotongan tali ijuk di dekat balok memanjang pada bagian atas dinding mempercepat runtuhnya seluruh Kap rumbia ke samping bawah sehingga tidak merembet ke elemen bangunan lainnya” (Hadjad dkk, 1984).

5. Tanpa Menggunakan Paku

Masyarakat Aceh tidak menggunakan paku dalam proses pembuatannya. Mereka menggunakan tali untuk mengikat satu bahan bangunan dengan bahan bangunan lainnya.

Sumber: Akademia.edu, Mazmuzie.

RELATED ARTICLES

3 COMMENTS

Tinggalkan Balasan

Open chat
1
Contact us