• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Category ArchiveSumatera

https://aminama.com/

Kajang Lako, Rumah Adat Suku Batin Jambi

Jambi, sebuah provinsi yang berada di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera. Sebagai sebuah provinsi, Jambi tentu saja memiliki beragam seni dan kebudayaan. Mulai dari tari-tarian, pakaian adat sampai pada rumah adat.

Salah satu suku yang mendiami provinsi Jambi adalah suku Batin. Suku ini berada di kampung Lamo, desa Rantau Panjang, kecamatan Tabir, kabupaten Merangin. Dimana di sini masih sangat kental dengan adat istiadat. Biasa kita lihat dari cara berpakaian dan arsitektur bangunan.

Kajang Lako atau Rumah Lamo merupakan sebutan tempat tinggal untuk orang Batin. Bubungannya berbentuk seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya.

Rumah Kajang Lako ini memiliki gaya seperti rumah adat Indonesia pada umumnya. Berupa rumah panggung. Uniknya, rumah ini dibuat tinggi. Karena memiliki fungsi untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas.

Bagian-bagian dari rumah Kajang Lako ini terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya bagian bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban dan tangga.

Bubungan atau atap biasa disebut dengan “gajah mabuk’ diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang atau potong jerambah.

Terbuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap terlihat berbentuk segi tiga. Bentuk seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hujan, mempermudah sirkulasi udara dan menyimpan barang.

Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atap sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah. Bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasau bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.

Fungsi dari Rumah Adat Kajang Lako

1 Ruang Pelamban

Ruangan yang ada di sebelah kiri ini dibuat dari bambu belah yang diawetkan. Susunannya dibauat jarang agar air bisa mudah mengalir. Ruang ini digunakan sebagai ruang tunggu tamu yang belum diizinkan untuk masuk.

2. Gaho

Gaho juga berada di sebelah kiri dengan bentuk memanjang. Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan barang dan persediaan makanan. Di dalam ruangan ini terdapat ukuran dengan motif ikan pada dindingnya.

3. Masinding

Ruangan ini terdapat di bagian depan. Fungsi dari ruangan ini ialah untuk melaksanakan ritual kenduri ataupun melakukan musyawarah. Inilah alasannya mengapa ruangan ini dibuat dengan cukup luas. Pada dinding ruangan ini terdapat ukiran bermotif seperti motif tampuk manggis, motif bungo tanjung dan motif bungi jeruk.

4. Ruang Tengah

Ruangan ini terletak di tengah-tengah rumah adat jambi dan tidak terpisah dengan ruang masinding. Ketika kenduri sedang berlangsung, ruang tengah ini akan ditempati para wanita.

5. Ruang Dalam atau Menalam

Ruang ini dibagi menjadi beberapa ruangan. Di antaranya kamar tidur anak perempuan, kamar tidur orang tua dan ruang makan. Tamu yang berkunjung tidak akan diizinkan untuk mengisi ruangan ini.

6. Ruang Balik Malintang

Ruangan ini terletak di kanan dan menghadap ke ruang tengah dan ruang masiding. Lantai di ruangan ini dibuat lebih tinggi dibanding dengan ruang lainnya.

7. Ruang Bauman

Ruangan ini menjadi satu-satunya di rumah adat Jambi yang tidak berlantai dan tidak berdinding. Fungsinya untuk kegiatan memasak saat ada kenduri ataupun kegiatan lain.

Sumber: kebudayaan.kemendikbud.go.id, elizato.com.

Lima Tingkatan Rumah Limas Sumatera Selatan

Merupakan prototipe rumah tradisional Sumatera Selatan, rumah Limas memiliki ciri atapnya berbentuk limas. Bangunan yang bertingkat-tingkat ini mengandung filosofi budaya untuk setiap tingkatannya.

Hampir seluruh bangunan rumah terbuat dari kayu. Pemilihan bahan kayu karena menyesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan. Kayu yang digunakan pun merupakan kayu unggulan dan katanya hanya tumbuh subur di daerah Sumatera Selatan.

Bagian pondasi menggunakan kayu Unglen. Kayu ini juga memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap air. Untuk bagian kerangka terbuat dari kayu Seru. Cukup langka dan sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah rumah. Mengapa demikian? karena dalam kebudayaan masyarakat kayu Seru dilarang untuk diinjak dan dilangkahi. Khusus dinding, lantai, jendela dan pintu menggunakan kayu Tembesu.

Kentalnya budaya Sumatera Selatan bisa terlihat dari seni ukiran dan ornamen pintu, dinding, maupun atap rumah Limas yang menggambarkan nilai-nilai kebudayaan setempat.

Selain bentuk limas, juga tampilannya tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiang yang dipancang ke dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan.

Tingkatan

Adat yang kental sangat mendasari pembangunan rumah Limas. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing. Hal ini menjadi simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat. Yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat.

Rumah Limas yang terdiri dari lima tingkat ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Yuks simak ulasannya berikut ini:

1 Pagar Tenggalung

Ruangannya tidak memiliki dinding pembatas, sama seperti halnya beranda. Berfungsi sebagai tempat menerima tamu yang datang pada saat ada acara adat.

2. Jogan

Digunakan sebagai tempat berkumpul khusus pria.

3. Kekijing Ketiga

Posisi lantai lebih tinggi dan diberi batas dengan menggunakan penyekat. Biasanya digunakan sebagai tempat menerima para undangan dalam suatu acara hajatan atau pesta.

4. Kekijing Keempat

Tentu saja tingkatan ini memiliki posisi lebih tinggi lagi. Orang-orang yang mengisi ruangan ini pun memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dan dihormati. Seperti undangan yang lebih tua, dapunto dan datuk.

5. Gegajah

Ruangan kelima ini memiliki ukuran terluas. Di dalamnya terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan danamben keluarga.

Amben adalah balai musyawarah. Amben tetuo sendiri digunakan sebagai tempat tuan rumah menerima tamu kehormatan serta juga sebagai tempat pelaminan pengantin dalam acara perkawinan.

Dibandingkan dengan ruangan lainnya, gegajah merupakan yang paling istimewa sebab memiliki kedudukan privasi yang sangat tinggi

Di Indonesia, rumah Limas banyak terdapat di daerah Sumatera Selatan. Sedangkan di Malaysia, rumah Limas dapat dijumpai di Johor, Selangor dan Terengganu.

Sumber: gosumatra.com, Indonesia.go.id

Rumah Gadang, Arsitektur Khas Minangkabau

Puncak atapnya yang melengkung dan runcing menyerupai tanduk Kerbau inilah yang menjadi ciri khas dari rumah Gadang. Dahulu terbuat dari material ijuk sehingga bisa tahan sampai puluhan tahun. Namun dewasa ini, atapnya banyak berganti dengan atap seng.

Rumah yang memiliki sebutan lain Bagonjong ini memiliki daya tarik sendiri. Sempat tampil juga di balik uang koin 100 keluaran Bank Indonesia pada 1970-an silam.

Memiliki bentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian, bagian muka dan belakang. Bagian muka biasanya penuh dengan ukiran ornamen bermotif akar, bunga, daun dan bidang persegi empat serta genjang. Sedangkan bagian belakang dilapisi dengan belahan bambu.

Konsep dari bangunan ini yaitu bertopang pada tiang kayu yang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu diatas batu datar yang kuat dan lebar. Dengan ketinggian tiang mencapai 2 meter membuat penghuninya bisa merasakan keamanan dari serangan hewan buas pada zaman dahulu.

Selain aman terhadap serangan hewan buas, konsep ini juga sangat memperhatikan daerah Minangkabau yang rawan terhadap gempa karena berada di pegunungan Bukit Barisan. Sehingga konsep arsitektur ini terbilang aman dari gempa.

Mengapa aman terhadap gempa? Karena seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku. Namun memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Ketika gempa terjadi rumah akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tiang berdiri. Begitupula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu akan bergerak fleksibel.

Sumber: Wikipedia, 99.co

Ciri Khas Rumah Adat Lampung Nowou Sesat

Sebuah provinsi yang berada paling selatan di Pulau Sumatera, Lampung namanya. Provinsi ini memiliki beragam seni dan budaya, termasuk rumah adat. Ya, rumah adat Nuwou Sesat yang berasal dari sini.

Nuwo artinya rumah dan sesat berarti adat. Jadi rumah adat ini berfungsi sebagai balai pertemuan adat. Tempat para purwatin (penyimbang) mengadakan pepung adat (musyawarah). Maka dari itu balai ini juga disebut Nuwo Sesat Balai Agung.

Bagian-bagian dari bangunan adat Nowou Sesat terdiri dari:

1 Ijan Geladak yaitu tangga masuk.

2. Rurung Agung atau atap bangunan.

3. Anjungan atau serambi adalah sebuah tempat yang digunakan untuk pertemuan kecil.

4. Pusiban merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat musyawarah resmi.

5. Ruang Gajah Merem merupakan tempat istirahat untuk para penyimbang adat.

Pembagian ruangan

Tata ruangan pada rumah adat Nowou Sesat didasarkan pada pola sosial yang ada di dalam masyarakat setempat. Beberapa pembagian ruangannya adalah tepas, agung, kebik tengah, gaghang, dapur dan ganyang besi.

1 Ruang tepas

Bagian serambi yang terbuka di bagian depan rumah berhubungan dengan ijan ke rumah panggung. Bagian ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan sebagai ruang berdiskusi dalam mencapai permufakatan. Tetapi pada siang hari, ruangan ini juga bisa digunakan oleh anggota keluarga untuk beristirahat.

2. Ruang agung

Sebuah ruangan yang berada lebih tinggi daripada tepas. Ruangan ini berfungsi sebagai ruangan merwatin (generasi muda mufakat). Posisi ketinggian dari ruangan ini menunjukan hirarki yang lebih tinggi karena cerminan Sakai Sambayan atau mufakat.

3. Ruang gaghang

Berfungsi sebagai ruangan kebersihan, karena disinilah tempat untuk mencuci peralatan rumah tangga. Sedangkan dapur digunakan untuk memasak makanan.

4. Ruang gayang besi

Ruangan yang digunakan untuk sanak saudara yang belum memiliki suami atau istri.

Ciri khas

Pada bagian atas jambat agung ini terdapat hiasan payung-payung berwarna putih, kuning dan merah. Ketiganya mempunyai arti sendiri-sendiri. Payung yang berwarna putih memiliki arti tingkat marga yang dimiliki. Payung berwarna kuning melambangkan tingkat kampung, sedangkan yang berwarna merah melambangkan tingkat suku di Lampung.

Bila dilihat di teras rumah, setelah tangga akan ada serambi yang disebut dengan anjungan. Fungsinya yaitu sebagai tempat bermain sambil bersantai antara penghuni rumah dengan tetangga. Selain itu, secara fisik Nowou Sesat berbentuk rumah panggung bertiang.

Sebagian besar materialnya terbuat dari papan kayu. Zaman dahulu rumah adat ini beratap anyaman ilalang, namun sekarang sudah menggunakan genting. Perubahan rumah adat Lampung dapat dilihat antara lain pada ruang di bawah rumah yang disebut Bah Nuwo. Sekarang rumah adat Nuwo Sesat tidak lagi menjadi ruang pertemuan tetua adat, tetapi sebagai tempat tinggal biasa.

Malahayati.ac.id, Wikipedia, Daerahkita.

Struktur dan Susunan Ruang Rumah Bubungan Lima

Provinsi Bengkulu memiliki rumah adat bernama Rumah Bubungan Lima. Desain rumah ini seperti rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penopang. Dinamakan bubungan lima karena merujuk pada atap dari rumah panggung tersebut.

Struktur Bangunan

Secara umum, struktur Rumah Bubungan Lima dibedakan menjadi 3 bagian, berikut uraiannya:

1.Bagian Atas

Bagian atas merupakan atap yang terbuat dari ijuk atau bambu. Namun, saat ini dalam perkembangannya sudah banyak juga yang menggunakan seng sebagai atap. Pelaponnya terbuat dari papan tetapi ada juga yang menggunakan pelupuh bambu.

2. Bagian Tengah

Bagian ini terdiri dari kusen atau kerangka rumah yang terbuat dari kayu. Dindingnya terbuat dari papan atau ada juga yang menggunakan pelupuh. Bentuk jendela ada yang ram atau biasa. Tulusi atau lubang angin umumnya terletak di bagian atas jendela atau pintu.

3. Bagian Bawah

Pada bagian bawah rumah terbuat dari papan, pelupuh datau juga bilah bambu. Geladan terdiri dari 8 papan dim dengan lebar 50 cm, dipasang disepanjang dinding luar atas balok.

Susunan Ruang dan Fungsinya

Berikut ini susunan ruang dan fungsinya, yuk langsung simak saja penjelasannya:

a. Berendo

Tempat ini bagi anak-anak sering dipakai untuk bermain congkak, karet dan lainnya. Selain itu, bisa juga untuk menerima tamu yang belum dikenal atau tamu yang hanya menyampaikan pesan sebentar.

b. Hall

Jika Berendo untuk menerima tamu yang belum dikenal, beda dengan Hall. Hall ini digunakan untuk menerima tamu yang sudah dikenal baik, keluarga dekat atau orang yang disegani.

Selain itu bisa juga digunakan sebagai ruang belajar, tempat bercengkrama hingga sewaktu-waktu bisa juga untuk menggelar acara selamatan atau syukuran.

c. Bilik Gedang

Merupakan kamar tidur bagi kepala keluarga (suami istri) dan anak-anaknya yang masih kecil.

d. Ruang Tengah

Fungsi utama dari ruang tengah adalah untuk menerima tamu bagi ibu rumah tangga atau keluarga dekat. Di samping itu bagi keluarga yang tidak memiliki kamar bujang, kadang-kadang bisa juga dipakai untuk tempat tidur anak bujang.

e. Ruang Makan

Jika rumahnya memiliki ukuran kecil, biasanya tidak terdapat ruang ini. Mereka makan di ruangan tengah atau di Hall.

f. Garang

Sebagai tempat penyimpanan tempayan air atau gerigik atau tempat air lainnya. Berfungsi untuk mencuci piring dan mencuci kaki sebelum masuk dapur atau rumah.

g. Dapur

Tempat untuk memasak

h. Berendo Belakang

Rumah ini wajib menggunakan beranda belakang, sebagai tempat untuk bersantai para wanita dan keluarga. Bisa juga digunakan untuk memasak besar untuk acara besar.

Bentuk Motif Ukiran

Bentuk motif ukiran rumah adat Bubungan Lima terbagi menjadi tiga bagian yaitu bentuk flora, fauna dan geometris.

Bentuk flora yaitu Pohon Ru, Pohon Hayat, Pucuk Rebung, Daun, Kembang Empat, Raflesia. Bentuk fauna yaitu paku lipan. Sedangkan bentuk alam/ geometris yaitu Matahari, Kipas, Anak Tanggo.

Penempatan ukiran tidak hanya untuk hiasan dan keindahaan saja, tetapi juga terdapat bagian penempatan tiap ukurannya. Seperti ada bagian rel/pagar/terali, tiang/piabung/bendu dan lesplang. (Ridho Anandy, 2016)

Sumber: ejournal.unp.ac.id, Wisata Bengkulu

Rumah Tradisional Mandailing

Mandailing merupakan salah satu suku yang berada di daerah Sumatera Utara. Suku ini memiliki rumah adat yang bernama Bagas Godang. Dalam terminologi masyarakat Mandailing Bagas disebut sebagai rumah dan Godang berarti besar. Jadi secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah besar.

Rumah ini memiliki arsitektur khas Mandailing. Berbentuk empat persegi panjang yang disangga dengan menggunakan kayu-kayu berjumlah ganjil. Kemudian ruangannya terdiri dari ruang depan, ruang tengah, ruang tidur dan dapur.

Material untuk membangun rumah adat mandailing terbuat dari bahan kayu, berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga. Memiliki pintu yang lebar dan berbunyi keras jika dibuka. Konstruksi atap berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati.

id.wikipedia.org

Dikutip dari Skripsi Putri lynna A. Luthan dengan judul Pengembangan Konsep Rumah Tinggal Tradisional Mandailing di Sumatera Utara, sistem struktur rumah pada umumnya tidak berbeda dengan rumah tradisional yang terdiri dari tiga bagian yaitu struktur bagian bawah, struktur bagian tengah dan struktur bagian atas.

Bagian bawah terdiri dari tapak pondasi, tiang pondasi dan balok-balok lantai. Struktur bagian tengah merupakan struktur dinding, pintu dan jendela. Sementara struktur bagian atas merupakan struktur atap dan penutup atap serta atap gable berikut ragam hiasnya. Langsung saja simak ulasannya.

a. Pondasi

Secara keseluruhan bentuk dan sistem pondasi rumah tradisional di Mandailing baik rumah raja dan rakyat terdiri dari susunan tiang-tiang kayu berbentuk segi delapan. Yang diletakan di atas batu kali yang pipih tanpa ada ikatan atau sambungan layaknya rumah-rumah panggung yang dibuat pada saat ini. Hal ini dikemukakan oleh, Luthan PLA, dkk (2013), bahwa sistem konstruksi tersebut akan mempengaruhi sistem religi atau sistem kepercayaan dari masyarakat tersebut. Sedangkan bentuk daripada tiang merupakan sistem kepemimpinan dari masyarakat tersebut.

b. Tiang

Pada rumah raja, tiangnya berbentuk segi delapan yang disebut tarah salapan yang menandakan bahwa pembangunan Sopo Godang (balai sindang adat) dikerjakan secara gotong royong oleh penduduk di seluruh penjuru mata angin (yaitu delapan arah) (Nasution, IN dan Pandapotan 2005).

Sedangkan pada rumah rakyat bentuknya adalah persegi empat. Hal ini menunjukan sistem kepemimpinan dari penghuninya.

c. Balok lantai

Sistem struktur untuk balok lantai pada rumah-rumah tradisional di Mandailing menggunakan material kayu yang didirikan dengan sistem struktur pasak (knock down). Konstruksi ini dibuat dengan cara melubangi tiang bagian atas yang merupakan pertemuan tiang dan balok lantai. Kemudian balok lantai tersebut dimasukan pada tiang yang telah dilubangi tersebut. Balok terdiri dari balok induk melintang dan memanjang, serta balok anak yang mendukung lantai bangunan. Sambungan atau ikatan antar balok dan tiang hanya menga

d. Dinding

Dinding rumah tradisional umumnya terbuat dari bilah-bilah papan. Sambungan antara papan menggunakan sistem lidah yang dipakukan ke tiang tambahan. Dinding dipasang secara horizontal pada sekeliling bangunan dan begitu juga dengan pembatas antar ruang. Sedangkan pembatas ruang pada serambi depan dan belakang berupa pagar yang terbuat dari besi profil yang bermotif dan kayu profil (Luthan PLA, dkk, 2014).

e. Pintu dan Jendela

Pintu dan jendela rumah tradisional Mandailing berbentuk panel. Pada sebagian rumah raja di bagian atas terdapat ventilasi tambahan motif sisir dan sebagian rumah, termasuk rumah rakyat, tidak memiliki ventilasi tambahan.

f. Tangga

Bentuk tangga pada rumah tradisional, terutama rumah raja ditandai dari material yang digunakan yaitu kayu dengan jumlah anak tangga sembilan buah. Anak tangga berjumlah sembilan memiliki makna yang sakral dan magis, yaitu mewakili sembilan tokoh adat yang berwenang dalam adat dan mewakili tiap huta dari delapan arah mata angin. Dimana Bagas Godang sebagai pusatnya.

g. Atap

Bentuk garis bubungan atap rumah tradisional di Mandailing terdiri dari tiga jenis yaitu bentuk melengkung atau disebut atap silingkung dolok pancucuran, atap sarotole dan atap sarocino. Atap melengkung dan datar memiliki gable segitiga pada bagian depan diidentifikasikan sebagai atap rumah raja.

Fungsi Bangunan

Bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal atau kediaman raja Panusunan maupun raja Pamusuk sebagai pemimpin huta. Biasanya Bagas Godang raja Panusunan lebih besar dari raja Pamusuk. Secara adat Bagas Godang melambangkan bona bulu yang berarti bahwa huta tersebut telah memiliki satu perangkat adat yang lengkap seperti dalihan natolu, namora natoras, datu, sibaso, ulu balang, panggora dan raja Pamusuk sebagai raja adat.

Selain sebagai kediaman raja, Bagas Godang juga berfungsi sebagai tempat penyelenggara upacara adat dan juga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi anggota masyarakat yang dijamin kemanannya oleh raja.

Sumber: Media.neliti, Education and development. wikipedia.

Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara

Berbicara mengenai kebudayaan Sumatera Utara, rasanya tak lengkap jika belum membahas tentang rumah adat. Sebagai simbol atau identitas suatu suku keberadaanya sangatlah penting. Di daerah Sumatera Utara ini misalnya banyak rumah adat yang bisa kita temukan. Di antaranya rumah adat Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, Nias dan Angkola. Namun yang akan dibahas kali ini adalah rumah adat Pakpak.

Rumah adat ini memiliki bentuk yang khas dari material kayu dengan atap berbahan ijuk. Bentuk desain rumah adat Pakpak selain sebagai wujud seni juga merupakan budaya Pakpak yang memiliki arti tersendiri.

aminama.com

Bentuk dan Arti Rumah Adat Pakpak

  1. Bubungan atap memiliki bentuk melengkung dalam bahasa daerah Pakpak-Dairi disebut “Petarik-tarik Mparas ingenken ndengel” yang artinya berani memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiadat.
  2. Tampuk bubungan yang bersimbolkan “Caban” berarti simbol kepercayaan Puan Pakpak.
  3. Tanduk Kerbau yang melekat dibubungan atap berarti semangat kepahlawanan Puan Pakpak.
  4. Bentuk segitiga pada rumah ini artinya menggambarkan susunan adat istiadat Puan Pakpak dalam kekeluargaan yang terbagi atas tiga bagian atau unsur besar sebagai berikut: a. Senina, saudara kandung laki-laki. b. Berru, saudara kandung perempuan. dan c. Puang, kemanakan.
  5. Dua buah tiang besar disebelah muka rumah “Binangun” yang memiliki arti kerukunan rumah tangga antara suami dan istri.
  6. Satu buah balok besar yang dinamai “Melmellon” yang melekat disamping muka rumah menggambarkan kesatuan dan persatuan dalam segala bidang pekerjaan melalui musyawarah atau lebih tepat disebut gotong royong.
  7. Ukiran-ukiran yang terdapat pada segitiga muka rumah bentuknya bermacam-macam corak dalam bahasa Pakpak disebut perbunga Kupkup, perbunga kembang dan perbunga pancur.
  8. Tangga rumah Pakpak biasanya terdiri dari bilangan ganjil, tiga, lima dan tujuh. menggambarkan bahwa penghuni rumah itu adalah keturunan raja (marga tanah). Sebaliknya jika memakai tangga rumah berjumlah genap menandakan bahwa penghuni rumah tersebut bukan merupakan keturunan marga tanah.

Sama halnya dengan rumah tradisional lainnya di Sumatera Utara. Ciri khasnya terletak pada tangga di rumah Pakpak selalu berjumlah ganjil, sebagai penanda bahwa yang punya rumah adalah warga asli suku tersebut.

Bangunan ini juga dilengkapi dengan ornamen khas suku Pakpak. Di bagian dalamnya berisikan kekayaan budaya setempat seperti genderang, gerantung, serunai, alat kesenian, patung dan meja.

Sumber: batak network, aminama.

Mengenal Arsitektur Tradisional Rumah Adat Karo

Selain rumah adat Bolon, Sumatera Utara juga memiliki rumah adat yang terkenal lainnya, yaitu rumah adat Karo. Rumah adat ini dikenal juga dengan sebutan rumah adat Siwaluh jabu. Waluh artinya delapan dan Jabu artinya rumah. Jadi Siwaluh Jabu merupakan rumah adat Karo yang memiliki delapan ruangan dan dapat dihuni oleh delapan keluarga.

Rumah adat ini memiliki ciri dan bentuk yang sangat khusus. Di dalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar.

Mempunyai tinggi mencapai 2 meter membuat rumah ini ditopang dengan 16 buah kayu berukuran besar. Atapnya terbuat dari ijuk, kemudian kedua ujungnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga yang disebut ayo-ayo. Pada puncak ayo-ayo terpasang kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Hal itu dipercaya dapat menolak bala.

dailyvoyagers.com

Dalam proses pembangunannya, rumah ini dibangun tanpa memerlukan penyambungan. Pertemuan antar komponen dilakukan dengan tembusan kemudian dipantek dengan pasak atau diikat menyilang dengan ijuk untuk menjauhkan rayapan ular. Bagian bawah, yaitu kaki rumah bertopang pada satu landasan batu kali yang ditanam dengan kedalaman setengah meter. Dialasi dengan beberapa lembar sirih dan benda sejenis besi.

Semua komponen bangunan seperti tiang, balok, kolom, pemikul lantai, konsol dan lain-lain tetap utuh seperti aslinya tanpa adanya pengolahan.

Rumah adat karo berbentuk panggung dengan dinding miring. Letaknya memanjang 10-20 m dari timur ke barat dengan pintu pada kedua arah mata angin. Posisi bangunan rumah adat karo biasanya mengikuti aliran sungai yang ada di sekitar desa.

Sumber: Wikipedia, Kebudayaan.kemdikbud.

Rumah Bolon, Simbol Masyarakat Batak

Rumah Bolon merupakan rumah adat yang berasal dari suku Batak di daerah Sumatera Utara. Rumah yang menjadi simbol atau identitas masyarakat Batak ini, pada zaman dahulu merupakan tempat tinggal dari 13 raja.

Ada beberapa jenis rumah Bolon yaitu rumah Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak dan rumah Bolon Angkola.

Bentuk

Rumah ini berbentuk persegi empat dan mempunyai model seperti rumah panggung. Ketinggiannya sekitar 1,75 meter dari permukaan tanah. Sehingga jika penghuni rumah atau tamu hendak masuk harus menggunakan tangga yang terletak di tengah-tengah rumah. Dan harus menunduk untuk berjalan menuju tangga.

Bagian dalam merupakan sebuah ruang kosong yang besar dan terbuka tanpa kamar. Rumah ini ditopang oleh tiang-tiang penyangga untuk menopang tiap sudut rumah termasuk juga lantai. Bagian atap berbentuk melengkung pada bagian depan dan belakang seperti halnya pelana kuda.

www.dictio.id
Keunikan

Keunikan desain rumah Bolon terdapat pada hiasan kusen pintu berupa ukiran telur dan panah. Kemudian rumah Bolon ini hanya menggunakan tali untuk menyatukan bahan-bahan rumah.

Kini, rumah Bolon tidak lagi dibangun oleh masyarakat Batak. Mengingat semakin sedikitnya orang yang mampu membangunnya. Bahan bangunannya juga sulit didapatkan serta harganya jauh lebih mahal dari rumah modern.

Sumber: Wikipedia, Travel Kompas.

Rumoh Santeut, Rumah Tradisional Sederhana Aceh

Rumoh Santeut atau dikenal juga dengan nama Tampong Limong merupakan salah satu rumah tradisional yang berasal dari Aceh. Biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di daerah perkampungan dan memiliki penghasilan yang rendah.

Dikutip dari Masdar, rumoh Santeut merupakan turunan dari rumoh Aceh dengan bentuk yang lebih sederhana. Dalam penelitian Elysa-Masdar (2001), rumoh Santeut adalah varian yang lebih sederhana dari rumoh Aceh. Umumnya, kolong rumoh Santeut lebih rendah dari rumoh Aceh yakni 1-1,5m.

Material

Bangunan ini menggunakan material yang berasal dari daerah Aceh dan mudah didapatkan. Atapnya terbuat dari daun rumbia, kemudian dindingnya dari susunan pelepah rumbia sedangkan untuk lantainya dari bambu belah.

Pembangunan rumoh adat Santeut lebih mudah dan murah dibandingkan dengan rumoh Aceh. Bagi masyarakat yang tinggal diperkampungan terutama masyarakat dengan strata ekonomi bawah, model inilah yang banyak dijadikan rujukan ketika akan membangun rumah.

Perbedaan rumoh Santeut dengan rumoh Aceh ini terletak di atas bangunan dan lantai di setiap bagian rumah memiliki ketinggian yang sama. Tidak seperti rumoh Aceh di mana ruang tengah lebih tinggi dibandingkan dengan ruang depan dan belakang.

Pada rumoh Santeut sangat jarang ditemui adanya ukiran pada bidang dinding dan bagian yang lainnya. Beda halnya dengan rumoh Aceh yang semakin banyak jumlah ukiran yang diaplikasikan. Maka semakin baik dan sejahtera status ekonomi penghuni rumah tersebut.

Sumber: Masdar, Ibnudin.net

Open chat
1
Contact us
Powered by