• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Category ArchiveSulawesi

pesona travel

Keunikan Rumah Tongkonan Khas Toraja

Rumah adat Tongkonan terbuat dari kayu yang banyak tumbuh di Sulawesi, yaitu kayu Uru. Atapnya terbuat dari bambu, memiliki ciri khas menyerupai perahu. Hal ini menjadi pengingat bahwa leluhur masyarakat Toraja menggunakan perahu untuk sampai ke Sulawesi.

Tongkonan berasal dari kata Tongkon yang berarti ‘menduduki’ atau ‘tempat duduk’. Disebut seperti itu karena pada awalnya rumah adat ini dijadikan sebagai tempat berkumpul para bangsawan Tana Toraja untuk berdiskusi.

Di setiap rumah, kamu akan menemukan kepala kerbau serta tanduk-tanduk pada tiang utama di setiap rumah. Semakin banyak tanduk kerbau semakin tinggi derajat keluarga tersebut. Di beberapa rumah juga ada beberapa patung kepala ayam atau naga yang menandakan jika pemilik rumah adalah orang yang dituakan.

Konon, filosofi pembagian ruangan ini tidak boleh dilanggar, karena dipercaya menyebabkan petaka. Apasaja bagian-bagian dari rumah ini? Bagian dalam rumah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian selatan, tengah dan utara. Masing-masing memiliki fungsi. Seperti misalnya bagian selatan (Sumbung) untuk kepala keluarga. Bagian tengah (Sali) untuk pertemuan keluarga, dapur, tempat makan dan tempat meletakan orang yang sudah meninggal. Bagian utara untuk ruang tamu, tempat meletakan sesaji dan juga tempat tidur anak-anak.

Keunikan dari Rumah Tongkonan Khas Toraja
Hiasan lambang status sosial

Patung kepala Kerbau pada bagian atas rumah jangan dikira sebagai hiasan belaka. Terdiri dari tiga warna yaitu warna putih, hitam dan belang atau bule ternyata kepala kerbau ini memiliki makna tentang kemampuan ekonomi pemilik rumah.

Pada saat melakukan upacara adat di Tana Toraja pasti menggunakan Kerbau sebagai hewan kurbannya. Harga satu kerbau hitam per ekor kira-kira sekitar Rp 60 juta. Kerbau belang atau bule harganya sekitar Rp. 600 juta sampai Rp 1 miliar per ekor. Jadi, semakin banyak tanduk kerbau yang berderet di atas rumah maka semakin tinggi derajat keluarga tersebut.

Ukiran dinding yang khas

Dinding rumah adat Tongkohan terbuat dari tanah liat. Biasanya memiliki warna yang berbeda pada keempat sisinya. Keempat warna tersebut yaitu merah, kuning, putih dan hitam.

Masing-masing warna memiliki arti. Seperti merah melambangkan kehidupan manusia. Kuning melambangkan kekuatan duniawi atau sang pencipta. Warna putih melambangkan kesucian dan warna hitam melambangkan kematian atau duka. Keempat warna tersebut mempengaruhi kehidupan manusia dalam bangunan rumah tersebut.

Pesona travel, mantabz

Rumah Boyang dari Sulawesi Barat

Sulawesi Barat, sebuah provinsi baru di Indonesia yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan. Telah menjadi provinsi ke-33 yang diresmikan sejak 05 Oktober 2004 berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004.

Provinsi baru ini tentu saja memiliki beragam kebudayaan. Misalnya saja rumah adat. Sulawesi Barat memiliki rumah adat yang bernama rumah Boyang.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah tradisional Indonesia, rumah Boyang ini memiliki struktur rumah panggung dengan menggunakan material kayu. Ditopang oleh beberapa tiang yang terbuat dari kayu berukuran besar dengan tinggi kurang lebih sekitar dua meter. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk menopang lantai dan atap rumah. Tiangnya tidak ditancapkan ke dalam tanah melainkan hanya ditumpangkan di sebuah batu datar untuk mencegah kayu melapuk.

Bangunan ini juga memiliki dua buah tangga yang terletak di bagian depan dan belakang. Tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, umumnya 7 sampai 13 buah dan dilengkapi dengan sebuah pegangan di bagian sisi kanan dan kiri tangga. Sedangkan dinding dan lantai rumah menggunakan material papan yang telah diukir sesuai dengan motif khas suku mandar.

Atap rumah Boyang berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah. Umumnya terbuat dari seng, tetapi sebagian ada yang menggunakan daun rumbia dan sirap. Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar (penutup bubungan) yang memberi identitas tentang status sosial bagi penghuninya. Penutup bubungan juga dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Kemudian di bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas yang disebut “teppang”.

Bagian-bagian Rumah Boyang

Pada umumnya rumah adat Boyang terdapat tujuh pembagian ruangan. Dimana 3 bagian merupakan lotang utama dan empat lainnya merupakan lotang tambahan.

Lotang Utama

Samboyang

Ruangan yang terletak di bagian depan rumah atau disebut dengan teras. Fungsinya digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu bila sedang bermalam. Selain itu, ruangan ini bisa juga digunakan untuk melakukan kegiatan yang dilakukan di dalam rumah, seperti hajatan dan juga tempat membaringkan jenazah sebelum dikuburkan.

Tangnya Boyang

Terletak di bagian tengah dari rumah dan berfungsi untuk berkumpul bersama keluarga. Ukurannya lebih luas jika dibandingkan dengan samboyang.

Bui Boyang

Merupakan tempat yang berupa kamar dan berada di bagian belakang dari Biyang. Kamar ini disebut dengan songi dan ditempati oleh pemilik dari rumah tersebut.

Lotang Tambahan

Tapang

Ruangan ini merupakan loteng yang letaknya berada di atas dan fungsinya sebagai gudang atau tempat menyimpan barang. Dulunya, tapang digunakan sebagai tempat bagi calon pengantin untuk berdiam diri dan mengikuti adat istiadat yang berlaku di suku tersebut.

Paceko

Paceko merupakan istilah yang digunakan masyarakat Sulawesi Barat yang memiliki arti dapur. Letaknya menyilang dari bangunan bagian utama rumah Boyang. Seperti halnya fungsi dapur pada umumnya. Paceko juga berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan-bahan makanan serta tempat memasak.

Lego-lego

Ruangan lego-lego merupakan teras dengan atap diatasnya, namun tidak berdinding. Beberapa orang menyebut bentuk lego-lego mirip seperti beranda. Fungsinya sebagai area bersantai pada sore hari.

Naon Boyang

Ruangan pada rumah adat Sulawesi Barat ini merupakan kolong rumah yang terletak dibawah bangunan dan beralaskan tanah. Biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan ternak.

Beberapa orang juga menggunakan tempat ini sebagai tempat manette atau menenun kain sarung. Kegiatan penenunan ini biasanya dilakukan perempuan suku setempat untuk mengisi waktu senggang.

Sumber: Celebes.co, Wikipedia, Ssckanesa-dua.

https://3.bp.blogspot.com/-nS81O_Ygk5M/WTOJ5zyML6I/AAAAAAAADT4/Y3pubjt0l58cBtgGkDVSCo23rXS32EOZQCLcB/s1600/Rumah%2BTambi%252C%2BRumah%2BAdat%2BProvinsi%2BSulawesi%2BTengah.JPG

Tambi, Rumah Tradisional dari Provinsi Sulawesi Tengah

Rumah tradisional atau rumah adat penduduk suku Lore yang berasal dari provinsi Sulawesi Tengah ini bernama Tambi. Rumah adat Tambi merupakan rumah di atas tiang yang terbuat dari kayu bonati. Atap dan dinding dari bangunan menyatu dan difungsikan sebagai penutup bangunan.

Berikut ini penjelasan tentang rumah adat Tambi dari segi arsitektural, struktur dan konstruksi sampai pada ragam hias.

a. Arsitektural

Rumah adat Tambi merupakan rumah dengan struktur panggung. Memiliki tiang penyangga yang tingginya tidak lebih dari satu meter. Tiangnya berjumlah 9 buah, lalu ditempelkan satu dengan lainnya menggunakan pasak balok kayu. Tiang-tiang ini biasanya terbuat dari bahan dasar kayu bonati. Sejenis kayu hutan yang bertekstur kuat dan tidak mudah lapuk.

Bangunan ini terbilang unik. Mengapa? karena bagian dinding dan atapnya menjadi satu kesatuan. Prisma bentuk bangunannya, dengan bukaan berupa pintu di bagian depan. Dua jendela dibagian belakang, serta ventilasi pada tumpukan atap dibagian depan dan belakang bangunan. Materialnya ini menggunakan atap sirap.

Ruangan yang ada didalam rumah ini hanya terdapat satu ruangan saja. Tetapi meskipun begitu ruangan besar ini memiliki fungsi yang bermacam-macam. Seperti kegiatan sehari-hari mulai dari memasak, tidur hingga menerima tamu.

Untuk melengkapi ruangan tersebut, kemudian diberi dua bangunan tambahan di luar rumah sebagai penunjang kegiatan lainnya yang tidak bisa dilakukan di rumah utama. Bangunan tersebut bernama Pointua dan Buho atau Gampiri.

Pointua merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat untuk menumbuk padi. Didalammya terdapat sebuah lesung panjang bernama Iso dengan jumlah 4 tiang.

Sementara Buho, bangunannya mirip dengan rumah Tambi utama namun memiliki dua lantai. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu. Dan lantai atas berfungsi sebagai lumbung padi, sebelum dibawa ke Pointua untuk ditumbuk dan diproses lebih lanjut.

Selanjutnya, atap rumah adat ini berbentuk prisma, dengan sudut kecil pada bagian paling atas. Sehingga terlihat tinggi dan dapat menaungi rumah secara keseluruhan. Materialnya terbuat dari ijuk atau daun rumbia yang memanjang ke bawah sekaligus berfungsi sebagai dinding luar rumah.

Tetapi jika ingin membangun rumah adat Tambi ini ada syarat yang harus dipenuhi yaitu rumahnya menghadap kearah utara-selatan. Tidak boleh menghadap maupun membelakangi posisi matahari terbit dan terbenam.

b. Struktur dan konstruksi

Rumah ini menggunakan umpak dari batu alam sebagai pondasi. Struktur ruangan utamanya menggunakan material kayu.

c. Ragam Hias

Bagian eksterior rumah Tambi bisa dilihat berupa tanduk kerbau yang diletakan di atas balok-balok pondasi. Hal ini menunjukan kesetaraan sosial pemilik rumah tersebut. Rumah tambi ini tidak memiliki ukiran yang menjadi ciri khas, termasuk bagian atap bubungan ini juga terlihat polos tanpa ornamen.

Pada bagian interior rumah ditemukan beberapa hiasan atau patung-patung kecil berbentuk stilisasi dari manusia, hewan dan genetalia. Tanduk kerbau yang dijumpai pada bagian luar rumah Tambi juga bisa ditemukan pada bagian dalam rumah yang terpasang pada bagian kolom kayu.

Wikipedia, academia.edu

Open chat
1
Contact us
Powered by