• +62 811 2030 360
  • verdant.stu@gmail.com

Author Archive

Rumah Adat Mekongga dari Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara, provinsi dengan ibu kota Kendari ini memiliki beragam kebudayaan termasuk rumah adatnya. Ada Rumah adat Buton, Laikas, Benoa Tada dan rumah adat Mekongga. Namun tak semua akan dibahas, disni kita hanya akan mengulas rumah adat Mekongga.

Rumah Mekongga merupakan rumah adat suku Raha (Mekongga). Raha atau yang lebih dikenal dengan Mekongga memiliki arti seperti Poiaha.

Bangunan yang berukuran luas dan besar ini mempunyai bentuk segi empat. Terbuat dari kayu yang berkualtas tinggi. Kemudian untuk atapnya berdiri diatas tiang-tiang besar yang tingginya sekitar 20 kaki dari atas tanah.

Pada zaman dahulu bangunan rumah Mekongga ini tingginya sekitar 60-70 kaki. Digunakan sebagai tempat raja untuk menyelenggarakan acara-acara yang bersifat seremonial atau upacara adat.

Memiliki bagian-bagian rumah yang sangat unik, sebagai lambang yang menggambarkan kekhasannya. Bentuknya panggung terdiri dari 12 tiang penyangga yang bermakna 12 orang pemimpin yang berpengaruh. 30 anak tangga yang bermakna 30 helai bulu dari sayap burung Kongga serta terdapat empat ruang/bilik.

Sumber: Situsbudaya wikipedia.

Rina Marlina

Arti dari Rumah Adat Pewaris

Jika sebelumnya kita mengulas tentang rumah adat dari Pulau Sumatera yaitu rumah adat Rakit Bangka belitung. Maka dalam artikel kali ini kita terbang ke pulau Sulawesi, tepatnya di provinsi Sulawesi Utara. Salah satu rumah adat yang berada di sini adalah Rumah Pewaris atau Walewangko.

Kata walengko berasal dari kata wale atau bale yang memiliki arti tempat tinggal yang digunakan untuk berbagi kegiatan bersama dengan keluarga. Sedangkan Walengko memiliki makna pewaris. Itu artinya rumah tersebut diwarisan secara turun temurun.

Rumah adat ini memiliki desain yang unik. Secara umum tergolong ke dalam rumah panggung dengan dominasi tiang penyangga. Adapun tiangnya terbuat dari kayu yang kokoh. Dengan Jumlahnya bisa mencapai 26 tiang penyangga yang menggunakan bahan kayu pada lantai dasar dan kayu serta beton untuk lantai satu.

Pembuatan rumah panggung pada zaman dahulu bertujuan untuk menghindari serangan musuh dan binatang buas.

Pada awalnya rumah adat ini hanya memiliki satu ruangan saja. Pemisahannya menggunakan tali rotan atau tali ijuk yang dibentangkan dan digantungkan tikar.

Rumah adat pewaris ini terdiri dari tiga bagian utama di antaranya:

1. Bagian depan atau lesar

Bagian ini tidak dilengkapi dengan dinding sehingga terlihat mirip dengan beranda. Fungsinya sebagai tempat para tetau adat juga kepala suku yang hendak memberikan maklumat kepada rakyat.

2. Sekey atau serambi bagian depan

Berbeda dengan lesar, sekey ini dilengkapi dengan dinding dan letaknya persis setelah pintu masuk. Ruangan ini sebagai tempat untuk menerima tamu, ruang untuk menggelar upacara adat dan jejamuan untuk undangan.

3. Pores

Merupakan tempat untuk menerima tamu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik rumah. Terkadang ruangan ini juga digunakan sebagai tempat untuk menjamu tamu wanita dan juga tempat anggota keluarga melakukan aktivitas sehari-hari. Pores ini biasanya langsung tersambung dengan dapur, tempat makan dan juga tempat tidu

Bentuk Rumah

Berbentuk rumah panggung yang secara keseluruhan materialnya terbuat dari kayu Ulin. Kayu yang merupakan khas pulau Kalimantan terkenal kuat dan tahan lapuk.

Memiliki ukiran-ukiran pada dinding, ujung atap, pagar, tangga dan bagian rumah lainnya. Ukiran itu didominasi warna kuning dan hitam. Selain berfungsi sebagai hiasan juga disebut bisa memberi tuah sebagai penolak bala.

Baca juga: Rumah Adat Rakit

Sumber: Wikipedia Aminama,

Rina Marlina

Rumah Adat Rakit Bangka Belitung yang Dipengaruhi Unsur Tionghoa

Bangka Belitung merupakan sebuah provinsi yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Sebagai sebuah provinsi kepulauan maka tak heran jika disini terdapat Rumah adat yang bernama Rumah Rakit. Selaras dengan namanya, rumah ini merupakan rakit yang dibuat dan digunakan untuk rumah tinggal.

Rumah adat yang dipengaruhi oleh budaya Melayu Bubung Panjang ini masih sangat kental dengan unsur Tionghoa. Sebab, pada umumnya dibuat oleh orang Tionghoa.

Selain sebagai tempat tinggal, tujuan dibangunnya rumah adat Rakit ini yaitu sebagai tempat bisnis masyarakat di atas air. Menarik bukan?

Dilihat dari segi material yang digunakan untuk membangun rumah ini, terbuat dari Bambu. Tentu saja yang digunakan pun bukan jenis Bambu sembarangan.

Bambu Manyan merupakan bambu yang sering digunakan sebagai material rumah adat rakit. Namun, ada juga beberapa orang yang menggunakan balok kayu sebagai pelampung dari rumah adat rakit ini. Adapun jenis kayu yang sering digunakan sebagai pelampung adalah kayu Trembesi dan kayu Seru yang banyak ditemukan di hutan Bangka.

Untuk bagian dindingnya terbuat dari papan kayu. Sebagian masyarakat juga menggunakan cacahan bambu yang direntangkan membentuk luasan yang dinamakan pelupuh. Kemudian bagian atapnya menggunakan anyaman daun atau ulit. Daun yang digunakan biasanya daun Nipah kering.

Selain material yang sudah disebutkan tadi, ada juga material yang memiliki peran penting dalam proses pembangunan rumah ini. Ya, material tersebut adalah Rotan. Fungsinya sebagai pengikat atap dan dinding. Rotan kecil digunakan untuk mengikat atap rumah sedagkan rotan besar untuk mengikat balok kayu atau bambu pelampung.

Sumber: imujio.com wikipedia Nesabamedia

Rina Marlina

Kompleks dalam Keraton Kasepuhan Cirebon

Kompleks dalam keraton kasepuhan Cirebon terbagi menjadi tiga yaitu, halaman pertama, halaman kedua dan ketiga. Berikut penjelasan ketiga halaman tersebut.

1. Halaman Pertama

Mande Malang Semirang, bangunan utama yang terletak di tengah dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat lantihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukum.

Mande Pendawa Lima, bangunan di sebelah kiri bangunan utama dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.

Mande Semar Tinandu, bangunan di sebelah kanan bangunan utama dengan 2 buah tiang yang melambangkan dua kalimat syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasihat sultan dan penghulu.

Mande Pengiring, bangunan di belakang bangunan utama yang merupakan tempat para pengiring sultan.

Mande karasemen, bangunan disebelah made pangiring, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk menyembunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.

2. Halaman kedua

Halaman Pengada berukuran 37×37 m, berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda pada masa lalu. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda.

Halaman Langgar Agung berukuran 37 x 17 m, merupakan halaman di mana terdapat bangunan Langgar Agung. Bangunan langgar agung menghadap ke arah timur.

3. Halaman Ketiga

Area utama keraton Kasepuhan merupakan area yang berisikan bangunan induk keraton Kasepuhan serta bangunan penunjang lainnya. Antara area utama keraton dengan area Langgar Agung dibatasi tembok dengan gerbang berukuran 4 x 6,5 x 4 m. Gerbang tersebut dilengkapi dua daun pintu yang terbuat dari kayu. Jika dibuka dan ditutup akan berbunyi maka disebut pintu gledegan (guntur). Di dalam area keraton ini terdapat beberapa bangunan di antaranya:

a. Taman Dewandaru

b. Museum Benda Kuno

c. Tugu Manunggal

d. Lunjuk

e. Sri Manganti

f. Bangunan induk keraton

Sumber: Wikipedia, lifeblogid.com.

Rina Marlina

Rumah Adat Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan merupakan salah satu dari bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terawat dengan baik. Seperti halnya keraton-keraton yang ada di Wilayah Cirebon.

Di depan Keraton Kasepuhan terdapat alun-alun dan juga sebagai titik pusat tata letak kompleks pemerintahan keraton. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat mesjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar. Sekarang adalah pasar kasepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya.

Model bentuk keraton menghadap ke utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat, pasar menghadap ke sebelah timur, dan alun-alun ditengahnya merupakan model tata letak keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir.

Keraton ini terdiri dari 3 bagian yaitu:
1. Pintu Gerbang Utama

Terdapat dua pintu gerbang yaitu terletak pada bagian utara dan selatan. Pintu gerbang bagian utara disebut dengan kreteg Pangrawit. Sedangkan gerbang utama bagian selatan disebut dengan Lawangsanga yang memiliki arti pintu sembilan.

2. Bangunan Pancaratna

Bangunan ini terletak di bagian barat keraton. Fungsinya sebagai ruang atau gedung serba guna. Selain itu, sebagai tempat untuk menghadap para pembesar desa atau kampung yang diterima oleh Demang atau Wedana.

3. Bangunan Pangrawit

Bangunan Pangrawit berada di kiri depan kompleks menghadap ke arah utara. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berlantai tegel. Terbuka tanpa dinding. Tiang-tiangnya berjumlah 16 buah mendukung atap sirap.

Disebut juga dengan nama Pancaniti. Berasal dari kata Panca yang berarti jalan dan niti memiliki arti mata atau raja atau atasan.

Memiliki tiga macam fungsi, pertama sebagai tempat pelatihan untuk para prajurit kerajaan. Kedua sebagai tempat berteduh atau hanya sekedar beristirahat dan ketiga sebagai tempat pengadilan.

Fungsi Rumah Adat

1. Sebagai tempat barak atau pelatihan prajurit

Rumah adat Kasepuhan dibangun sebagai tempat melatih para prajurit dalam menyiagakan perang terhadap musuh kerajaan Pajajaran. Para prajurit akan dilatih. Selain untuk mempersiapkan perang juga untuk menjaga wilayah adat Kasepuhan.

2. Sebagai tempat meneduh atau beristirahat

Rumah adat Kasepuhan dapat menjadi tempat meneduh atau beristirahat bagi seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Bisa juga sebagai tempat beristirahat bagi keluarga bangsawan yang kelelahan sepanjang perjalanan.

3. Sebagai tempat pengadilan

Dalam beberapa kasus kejahatan dapat dilakukan pengadilan di rumah adat Kasepuhan. Karena, memiliki wilayah yang luas maka masyarakat dapat melihat prosesi pengadilan di sana.

Keunikan

Seperti dikutip dari brainly.co.id ada lima keunikan yang dimiliki rumah adat kasepuhan Cirebon. Berikut ini keunikannya:

1. Menggunakan bahan kayu jati.

2. Bentuk rumah melebar seperti panggung.

3. Memiliki fungsi serbaguna.

4. Memiliki dua jenis gerbang utama.

5. Setiap dinding diberikan hiasan berupa ukiran yang berbeda-beda.

Sumber: brainly.co.id, disparbud.jabarprov.go.id, wikipedia.

Rina Marlina

Rumah Adat Suku Bugis

Suku bugis memiliki rumah adat yang tak kalah unik dibandingkan dengan rumah adat lainnya yang berada di Indonesia. Tetapi, rumah adat Bugis ini terbagi menjadi dua. Pembagiannya dilakukan berdasarkan status sosialnya, ada rumah Saoraja dan Bola.

Jika Saoraja bisa diartikan sebagai Istana yang biasanya hanya ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan maka Bola merupakan rumah untuk masyarakat biasa.

Perbedaan Saoraja dan Bola

Saoraja ukuran rumahnya lebih luas. Tiang utamanya berbentuk tabung atau silinder yang terbuat dari kayu hitam. Atapnya berbentuk prisma dengan penutup bubungan yang disebut timpa’laja. Atap bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan pemiliknya.

Sedangkan Bola bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan Saoraja. Selain itu, Bola juga memiliki tiang-tiang yang berbentuk segi empat.

Persamaan

Kedua rumah adat ini pada dasarnya sama yaitu memiliki bentuk rumah panggung. Material untuk membangunnya menggunakan kayu yang berbentuk persegi empat panjang.

Arsitektur Rumah Adat Bugis

Dari segi arsitektur selain memiliki nilai fungsional juga mempunyai aspek kosmologi dan fisiologi. Secara umum arsitektur rumah Bugis terdiri tiga bagaian utama yaitu bagaian atap, badan dan kolong.

Gaya arsitektur bangunan Suku Bugis juga didasarkan pada falsafah hidup dan budaya masyarakat setempat.

Bagian-Bagian Utama Rumah Adat Suku Bugis:
1. Tiang utama (Alliri)

Terdiri dari 4 batang setiap barisnya. Jumlahnya tergantung dari ruangan yang akan dibuat. Tetapi pada umumnya terdiri dari 3 atau 4 baris alliri, jadi totalnya ada 12 batang alliri.

2. Kolong Rumah (Awal Bola)

Bagian kolong terletak pada bagian bawah, yaitu antara lantai dengan tanah. Kolong ini, pada zaman dulu digunakan untuk menyimpan alat pertanian, alat berburu, alat untuk menangkap ikan sampai hewan peliharaan.

Menariknya rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun. Semuanya murni menggunakan kayu.

3. Penyangga Lantai dan Penyangga Loteng (Arateng dan ware’)

Pada setiap tiang dibuat lubang segi empat untuk menyisipkan balok pipih penyangga lantai dan balok pipih penyangga loteng yang menghubungkan panjang rangka rumah. Dahulu, rumah yang tiangnya ditanam tidak menggunakan balok penyangga loteng. Sementara itu, balok penyangga lantai tidak disisipkan pada tiang, tetapi diikat.

4. Badan Rumah (Ale Bola)

Badan rumah terdiri dari lantai, dinding yang terletak antara lantai dan loteng. Pada bagian ini terdapat ruangan yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti menerima tamu, tidur, bermusyawarah dan berbagai aktivitas lainnya.

5. Pusat Rumah (Posi Bola)

Memiliki struktur dasar yang terdiri dari 3 kali 3 tiang berbentuk persegi empat dengan tiang disetiap sudutnya. Kemudian pada setiap sisi terdapat satu tiang tengah. Serta tepat di tengah persilangan panjang dan lebar terdapat tiang yang disebut “pusat rumah”.

6. Timpa’ Laja

Berasal dari bahasa Melayu timpa’ laja adalah tebar layar. Ciri yang paling menonjol adalah jumlah bilah papan yang menyusun dinding bagian muka atap rumah.

7. Tangga (Addengeng)

Hanya golongan ana’ cera’ ke atas yang berhak menggunakan tangga yang naik membujur. Bangsawan tertinggi boleh menggunakan tangga berupa latar miring tanpa anak tangga, terbuat dari bilah bilah bambu yang notabene sangat licin dan disebut sapana.

8. Tamping

Pada sisi panjang biasanya ditambahkan tamping yaitu semacam serambi memanjang yang laninya sedikit lebih rendah dengan atapnya tersendiri.

9. Rakkeang (langit-langit)

Rakkeang adalah bagian atas dari rumah adat Bugis yang berada persis di bawah ataupun langit-langit. Pada bagian ini berfungsi untuk menyimpan berbagai benda pusaka. Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru dipanen.

10. Anjong

Selain sebagai hiasan rumah, anjong juga memiliki makna tertentu bagi orang bugis. Anjong merupakan salah satu ciri khas orang bugis, dimana pada rumah orang bangsawan memiliki lebih dari dua anjong.

Sumber: Solata-sejarahbudaya.blogspot.com, nahanesia.com, gurupendidikan.co.id.

Rina Marlina

Ciri Khas Rumah Adat Dulohupa

Gorontalo, provinsi yang terkenal dengan julukan “Serambi Madinah” ini memiliki beberapa rumah adat. Di antaranya rumah adat Dulohupa, Bantayo Po Boide dan rumah adat Gobei.

Architecture.verdant.id akan mengulas satu persatu rumah adat tersebut. Namun kita mulai dengan ulasan rumah adat pertama yaitu rumah adat Dulohupa.

Rumah adat yang berasal dari Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Sulawesi Utara ini biasanya disebut oleh penduduk dengan nama Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo.

Dalam artian secara harfiah, Dulohupa memiliki makna mufakat. Pemberian nama Dulohupa ini karena bangunannya difungsikan sebagai tempat bermusyawarah. Bahkan di masa pemerintahan Raja-Raja, Dulohupa difungsikan sebagai ruang pengadilan, tempat untuk memvonis para penghianat.

Bentuk

Memiliki bentuk rumah panggung dengan badan terbuat dari papan. Kemudian untuk struktur atapnya bernuansa daerah Gorontalo.

Sebagai lambang dari rumah adat Gorontalo, tentu saja rumah adat ini memliki hiasan berupa pilar-pilar kayu. Sedangkan sebagai simbol tangga adat (Tolitihu), Dulohupa memiliki dua buah tangga yang masing-masing berada di sebelah kanan dan kiri rumah.

Bagian atapnya menggunakan material dari jerami yang dianyam. Bentuknya, seperti pelana segitiga yang tersusun menjadi 2. Pelindung bagian atas tidak dibangun sembarangan. Karena bagian atap melambangkan syariat beserta adat dari masyarakat Gorontalo sendiri.

Saat ini, Dulohupa dilengkapi dengan taman bunga. Bangunan tempat penjualan cenderamata dan bangunan yang menyimpan kereta kerajaan yang disebut dengan Talanggeda.

Ciri Khas

Memiliki bentuk rumah seperti rumah panggung. Terbuat dari material kayu dan papan dengan ornamen khas Gorontalo. Kayu yang digunakan pun merupakan kayu yang berkualitas, sehingga bisa awet dan tahan lama.

Panggung rumah Dulohupa disokong oleh 2 buah pilar utama yang disebut Wolihi, 6 buah pilar pada bagian depannya dan pilar dasar sebanyak 32 buah yang disebut potu.

Selain itu, dilengkapi juga dengan dua buah tangga. Tangga tersebut berada di bagian kiri dan kanan yang menjadi simbol tangga adat atau disebut tolitihu.

Pada bagian dalam rumah, tidak terdapat banyak sekat. Jadi, ruangan dalamnya terbilang lowong. Setiap rumah Dulohupa pada umumnya terdapat anjungan yang diperutukan bagi raja dan kerabat istana.

Sumber: Wikipedia, netralnews, kebudayaan1.blogspot.com.

Rina Marlina

Jenis-Jenis Rumah Adat Joglo

Rumah adat Joglo, merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Jawa Tengah. Terdiri dari empat pilar utama dan dibagi menjadi dua bagian. Ada rumah utama dan rumah tambahan.

Pada artikel lalu telah dibahas bentuk dan bagian-bagian dari rumah adat Joglo. Nah kali ini akan mengulas tentang jenis-jenisnya. Di mana jika kita lihat di wikipedia terdapat 17 jenis rumah adat Joglo.

Namun yang akan dibahas pada artikel ini 8 rumah adat Joglo. 9 rumah adat lagi nanti akan dibahas pada artikel selanjutnya. Yuks langsung saja simak saja pembahasannya

Berikut ulasan jenis-jenis rumah adat Joglo Jawa Tengah:
1. Joglo Sinom (Sinom Apitan)
budayalokal.id

Bangunan ini menggunakan 36 buah tiang. Empat di antaranya adalah “Saka Guru”. Memiliki luas bangunan lebih kecil jika dibandingkan dengan jenis lainnya. Setiap bangunan jenis ini memiliki proporsi atap utama lebih tinggi dengan tiga susunan dan memiliki tiga sudut kemiringan.

Fungsi dari Joglo Sinom ini yaitu sebagai tempat untuk berdiskusi para rakyat atau petinggi desa.

2. Joglo Jompongan (Jompongan Pokok)
budayalokal.id

Rumah adat ini menggunakan dua buah pengerat dan juga mempunyai denah bujur sangkar. Dapat dikatakan rumah ini menggunakan bentuk dasar rumah Joglo.

Ciri khas terdapat pada atapnya yang bersusun dua. Mempunyai bubungan atap yang memanjang ke samping kanan dan samping kiri. Pertemuan antara kedua atap tidak dipisahkan oleh pembatas lisplank.

3. Joglo Pangwarit

Merupakan rumah Joglo yang menggunakan lambang gantung. Atapnya berbentuk kubah dari atap responden. Setiap bagian sudut Joglo Pangrawit telah dilengkapi tiang yang disebut “saka”.

4. Joglo Limas Lawakan (Joglo Lawakan)

Yaitu rumah Joglo yang menggunakan sekitar 16 batang dan 4 di antaranya adalah Saka Guru. Atapnya terdiri dari 2 susunan bubungan dengan 4 sisi.

5. Joglo Mangkurat

Joglo Mangkurat mirip dengan Joglo Pengrawit, tetapi lebih tinggi dan atapnya dihubungkan dengan atap penggap.

Atapnya terdiri dari tiga lantai. Dek bawah (teras), lantai atas, pusat penerimaan.

6. Joglo Semar Tinandhu

Rumah adat ini diilhami dari bentuk tandu. Biasanya digunakan untuk regol atau gerbang kerajaan.

Ciri-ciri

a. Denah berbentuk persegi panjang’

b. Pondasi bebatur, tanah yang diratakan dan lebih tinggi dari tanah disekelilingnya. Diatas bebatur dipasang umpak yang sudah diberi purus wedokan. Umpak ini nantinya akan disambungkan dengan tiang saka.

c. Memakai dua saka guru sebagai tiang utama yang menyangga atap brunjung dan delapan saka penanggap yang berfungsi sebagai penyangga yang berada diluar saka guru.

7. Joglo Hageng

Rumah adat Jawa Tengah bernama Joglo hageng ini memiliki proporsisi atap utama dan juga atap kedua dibawahnya yang lebih pendek sekaligus lebih landai jika dibandingkan dengan Joglo Mangkurat atau Joglo Pangrawit.

Jenis rumah Joglo ini mempunyai bidang atap yang lebih luas. Memiliki ciri atap tritisan keliling yang luas dan bangunannya juga lebih lebar. Memiliki atap bersusun tiga yang masing-masing atapnya memiliki lisplank pada bagian ujungnya.

8. Joglo Jepara

Rumah adat ini menggambarkan kebudayaan masyarakat Jepara. Memiliki atap genteng yang disebut “Atap Wuwungan” dengan bangunan yang didominasi seni ukir empat dimensi (4D) khas Kabupaten Jepara. Perpaduan gaya dari budaya Hindu-Jawa, Islam-Arab, Tionghoa-Cina dan Eropa-Portugis. Mulai dibangun sekitar tahun 600-an Mashi dengan 95% kayu Jati asli. Joglo Jepara mirip dengan Joglo Kudus.

Ciri arsitektur bangunan ini:

a. Bahan bangunan terbuat dari kayu dengan dinding kayu berukir.

b. Memiliki 4 buah tiang di tengah bangunan.

c. Atap dari genting dan khusus kerpus memiliki motif ukiran gambar wayang.

Sumber: ilmuseni, budayalokal.id, wikipedia.

Rina Marlina

Bentuk dan Fungsi Rumah Adat Mbaru Niang

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), di sini terdapat rumah adat yang bernama Mbaru Niang. Rumah ini tepatnya terletak di Kampung Wae Rebo di atas pegunungan dengan ketinggian 1.117 mdpl.

Bentuk Rumah

Mbaru Niang memiliki bentuk kerucut dengan struktur yang cukup tinggi mencapai sekitar 15 meter. Atapnya hampir menyentuh tanah dan terbuat dari daun lontar yang ditutupi ijuk. Jika diperhatikan rumah adat ini mirip dengan rumah adat Honai dari Papua.

Mengapa berbentuk kerucut? Karena dalam budaya Wae Rebo bentuk kerucut merupakan simbol perlindungan dan persatuan antar rakyat Wae Rebo

Lingkaran bentuk rumahnya, melambangkan harmonisasi dan keadilan antar warga dan keluarga.

Rumah adat ini memiliki 5 lantai (tingkat), dimana terdapat berbagai ruangan dengan fungsinya masing-masing.

Setiap lantai rumah Mbaru Niang memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda yaitu:

a. Lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga.

b. Loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.

c. Lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan.

d. Lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan.

e. Hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.

Sama seperti halnya kebanyakan rumah adat, Mbaru Niang juga berbentuk rumah panggung. Terbuat dari kayu worok dan bambu yang dibangun tanpa paku. Tetapi menggunakan tali rotan yang kuat untuk mengikat konstruksi bangunan.

Kolong rumah tingginya sekitar 1 meter. Hal ini dibuat demikian karena ada aturan dari leluhur rumah tak boleh menyentuh tanah.

Setiap Mbaru Niang dihuni lima sampai enam kepala keluarga. Dengan total penghuni sekitar 15-20 orang

genpi.id, Indonesia.go.id, merahputih.com

Rina Marlina
https://aminama.com/

Kajang Lako, Rumah Adat Suku Batin Jambi

Jambi, sebuah provinsi yang berada di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera. Sebagai sebuah provinsi, Jambi tentu saja memiliki beragam seni dan kebudayaan. Mulai dari tari-tarian, pakaian adat sampai pada rumah adat.

Salah satu suku yang mendiami provinsi Jambi adalah suku Batin. Suku ini berada di kampung Lamo, desa Rantau Panjang, kecamatan Tabir, kabupaten Merangin. Dimana di sini masih sangat kental dengan adat istiadat. Biasa kita lihat dari cara berpakaian dan arsitektur bangunan.

Kajang Lako atau Rumah Lamo merupakan sebutan tempat tinggal untuk orang Batin. Bubungannya berbentuk seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya.

Rumah Kajang Lako ini memiliki gaya seperti rumah adat Indonesia pada umumnya. Berupa rumah panggung. Uniknya, rumah ini dibuat tinggi. Karena memiliki fungsi untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas.

Bagian-bagian dari rumah Kajang Lako ini terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya bagian bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban dan tangga.

Bubungan atau atap biasa disebut dengan “gajah mabuk’ diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang atau potong jerambah.

Terbuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap terlihat berbentuk segi tiga. Bentuk seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hujan, mempermudah sirkulasi udara dan menyimpan barang.

Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atap sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah. Bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasau bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.

Fungsi dari Rumah Adat Kajang Lako

1 Ruang Pelamban

Ruangan yang ada di sebelah kiri ini dibuat dari bambu belah yang diawetkan. Susunannya dibauat jarang agar air bisa mudah mengalir. Ruang ini digunakan sebagai ruang tunggu tamu yang belum diizinkan untuk masuk.

2. Gaho

Gaho juga berada di sebelah kiri dengan bentuk memanjang. Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan barang dan persediaan makanan. Di dalam ruangan ini terdapat ukuran dengan motif ikan pada dindingnya.

3. Masinding

Ruangan ini terdapat di bagian depan. Fungsi dari ruangan ini ialah untuk melaksanakan ritual kenduri ataupun melakukan musyawarah. Inilah alasannya mengapa ruangan ini dibuat dengan cukup luas. Pada dinding ruangan ini terdapat ukiran bermotif seperti motif tampuk manggis, motif bungo tanjung dan motif bungi jeruk.

4. Ruang Tengah

Ruangan ini terletak di tengah-tengah rumah adat jambi dan tidak terpisah dengan ruang masinding. Ketika kenduri sedang berlangsung, ruang tengah ini akan ditempati para wanita.

5. Ruang Dalam atau Menalam

Ruang ini dibagi menjadi beberapa ruangan. Di antaranya kamar tidur anak perempuan, kamar tidur orang tua dan ruang makan. Tamu yang berkunjung tidak akan diizinkan untuk mengisi ruangan ini.

6. Ruang Balik Malintang

Ruangan ini terletak di kanan dan menghadap ke ruang tengah dan ruang masiding. Lantai di ruangan ini dibuat lebih tinggi dibanding dengan ruang lainnya.

7. Ruang Bauman

Ruangan ini menjadi satu-satunya di rumah adat Jambi yang tidak berlantai dan tidak berdinding. Fungsinya untuk kegiatan memasak saat ada kenduri ataupun kegiatan lain.

Sumber: kebudayaan.kemendikbud.go.id, elizato.com.

Rina Marlina
Open chat
1
Contact us